Kiri Kanan
Misteri kapal kuno terkubur ratusan tahun di Tanjung Jabung Timur Jambi
Elshinta
Sabtu, 24 Agustus 2019 - 18:39 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Administrator
Misteri kapal kuno terkubur ratusan tahun di Tanjung Jabung Timur Jambi
Foto: Hendrik I Raseukiy

Elshinta.com - Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jambi dan Tim Arkeolog Universitas Indonesia (UI) belum bisa memastikan jenis kapal atau perahu kuno dari penggalian yang terkubur selama 700 tahun di Desa Lambur I, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi masih diselimuti misteri. Kendaraan tranportasi air ini diperkirakan adalah kapal atau perahu dagang di era Kerajaan Sriwijaya.

Dilaporkan Kontributor Elshinta, Hendrik I Raseukiy, Sabtu (24/8), penemuan kapal kuno ini terungkap saat digelarnya konfrensi pers di Ruang Polah Kantor Bupati Tanjung Jabung Timur, dimoderatori oleh Bupati Tanjung Jabung Timur Romi Hariyanto dengan narasumber dari Tim Arkeologi UI, Tim BPCB Provinsi Jambi, dan Profesor Chiara Zazzaro dari associate Professor of Maritime Archaeology Universitas Napoli, serta Kepala Dinas Litbang dan Asisten 2 Setda Tanjung Jabung Timur, Jumat (23/8).

Menurut Ali Akbar dari Tim Arkeolog UI, dari struktur teknologi yang digunakan pada Perahu Kuno Lambur ini, sama dengan pasak di kapal pinisi selain ada juga ciri khusus yang tidak ditemukan pada kapal Pinisi. 

Pada saat bersamaan juga sedang melakukan riset terkait Kapal Pinisi di Sulawesi selatan bekerjasama dengan Universitas Napoli. Namun, pihaknya belum berani berspekulasi, karena proses penggalian atau ekskavasinya baru berjalan 25 persen.

“Pasak dan tali ijuk merupakan ciri khas perahu kuno di Desa Lambur ini, yang tidak ada pada kapal pinisi. Kita biasa menyebutnya Perahu Kuno lambur ini dengan perahu Asia Tenggara,” ujar Akbar.

Prediksi awal dari kapal tersebut disatu sisi kiri berukuran lebar 1,5 meter, sisi kanan 1,5 meter dan minimal lebarnya 5,5 meter dan panjangnya berkemungkinan bisa mencapai 17 meter. Terkait usia Perahu Kuno ini, prediksi Ali, memiliki rentang waktu antara 1 hingga 13 Masehi.

“Bila diambil waktu termuda maka usianya bisa mencapai 700 Tahun, artinya masuk pada zaman Sriwijaya, bila umurnya lebih tua maka memasuki zaman pra-Sriwijaya. Untuk memastikan ini, Kami telah mengirim sampel ijuk dan kayu ke Badan Tenaga Nuklir Nasional, untuk diteliti lebih lanjut," ujar Ali lagi.

Sedangkan Chiara Zazzaro yang sempat berkunjung dan melihat keberadaan Perahu Kuno Desa Lambur ini berkeyakinan, kendaraan air ini lebih cocok di sebut Kapal, alasannya melihat Ketebalan papan dari perahu ini. Namun demikian, tutur Chiara, dirinya akan terus mengikuti perkembangan informasi terkait riset ini. 

“Ketebalan papan pada perahu ini mencapai 13 sentimeter, berbeda pada ketebalan papan pada perahu pada umumnya yang hanya mencapai 2,5 sentimeter, bisa jadi panjang kapal in bisa mencapai 24 meter, dan ini jenisnya adalah kapal Dagang,” sebutnya.

Tim Arkeolog UI ini memulai risetnya pada awal Agustus dan akan berakhir pada akhir November 2019. Riset ini dilakukan berdasarkan referensi penelitian ditahun 1997 saat ditemukan potongan papan yang akhirnya diidentifikasi sebagai perahu kuno.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
LIPI nyatakan Indonesia berperan tentukan iklim dunia
Senin, 18 November 2019 - 14:57 WIB
Elshinta.com - Pejabat di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan keberadaan ...
Kajian BPPT: Kekuatan gempa Maluku setara 30-40 kali bom atom Hiroshima
Sabtu, 16 November 2019 - 06:30 WIB
Elshinta.com - Kajian awal yang dilakukan Kepala Seksi Program dan Jasa Teknologi Balai Te...
Lapan bercita-cita jadikan Biak sebagai `space island`
Jumat, 15 November 2019 - 08:59 WIB
Elshinta.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berharap dengan adanya p...
Balitbang Kementan kembangkan inovasi bunga Krisan dataran rendah
Selasa, 12 November 2019 - 20:18 WIB
Elshinta.com - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian melalui P...
Setelah tiga tahun, Transit Merkurius terjadi lagi malam ini
Senin, 11 November 2019 - 15:32 WIB
Elshinta.com - Setelah tiga tahun berselang, peristiwa Transit Merkurius melintasi piringa...
Wajah sains Indonesia ada di Cibinong dan Serpong
Jumat, 08 November 2019 - 11:30 WIB
Elshinta.com - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),...
Geovetsuko raih juara 3 kompetisi kebencanaan nasional
Kamis, 31 Oktober 2019 - 20:16 WIB
Elshinta.com - Tim Geovetsuko dalam kompetisi `Shape for Better Community a Geospatial Hac...
Menristek sebut forum Indonesia-Perancis tingkatkan iklim penelitian
Kamis, 31 Oktober 2019 - 13:34 WIB
Elshinta.com - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menris...
Balai Arkeologi Papua temukan Situs Yope di Kampung Dondai
Minggu, 27 Oktober 2019 - 06:36 WIB
Elshinta.com - Peneliti Balai Arkeologi Papua berhasil menemukan Situs Yope di Danau Sentani ba...
Tak hanya tempat wisata, Kebun Raya Kendari jadi lokasi penelitian
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Elshinta.com - Selain menjadi tempat wisata, Kebun Raya Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (S...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)