Modal tak lebih Rp5 juta, kini produknya berkibar hingga Eropa
Elshinta
Senin, 29 Juli 2019 - 11:22 WIB | Penulis : Cucun Hendriana | Editor : Administrator
Modal tak lebih Rp5 juta, kini produknya berkibar hingga Eropa
Produk handycraft lokal yang menembus pasar dunia. Foto: Elshinta.com/Reza

Elshinta.com - Tri Retno Mahanani mendulang sukses dari bisnis kerajinan yang telah ditekuninya sejak 2004. Sebelumnya, dirinya merupakan seorang karyawan di PT Dirgantara Indonesia yang berpusat di Bandung, Jawa Barat. Di perusahaan tersebut, dirinya mengabdi selama 7 tahun. Ia kemudian resign lantaran harus fokus mengurusi buah hatinya.

Di bisnis kreatif ini, Retno memulainya dari iseng-iseng. Diakuinya, lulusan ilmu logam ini  memang dari sejak lama sudah menyukai bidang jahit-menjahit. Bermula dari membuat satu-dua buah produk, ternyata banyak yang minat terhadap produknya. “Ya, dari coba-coba itu, akhirnya banyak yang suka, lalu saya buat secara massal,” katanya.

Awalnya produk yang dibuatnya seperti tas yang bisa dipakai untuk pengajian ibu-ibu di sekitar rumahnya. Lalu, ia melakukan inovasi dengan membuat aneka taplak meja dan sarung bantal. Seiring dengan waktu, saat ini varian produknya sudah semakin banyak, antara lain tempat tisu, tatakan gelas, gorden, sampai daster. “Sudah lebih dari 10 jenis, dimana masing-masing jenisnya, malah ada yang diproduksi sampai ribuan pieces,” terang Retno.   

Diakuinya, ia memulai bisnis craft dengan modal tidak lebih dari Rp5 juta. Untuk menghemat biaya, dia memanfaatkan bahan-bahan yang terdapat di rumahnya. Hanya bahan baku kain yang dibelinya dari Pasar Tanah Abang. “Untuk bahan baku, saya pilih bahan yang berkualitas,” sebutnya. Prospeknya cukup bagus, hal tersebut dibuktikan dengan penjualan yang terus meningkat setiap tahunnya. “Memang tidak pasti, tapi tiap tahun pasti ada peningkatan penjualan,” imbuhnya.

Terkait harga, ragam produk Citra Handrycraft ini dibanderol mulai Rp15 ribu hingga Rp500 ribu per pieces. Untuk meningkatkan penjualan, cara yang ditempuhnya adalah dengan rajin mengikuti beragam pameran di seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri. Di dalam negeri, misalnya, ia sudah berkeliling dari Aceh, Jakarta, Batam, Balikpapan, Ambon, dan lainnya. Demikian pula dengan di luar negeri, setidaknya ia pernah memamerkan produknya di Yordania, Dubai, dan Hong Kong. Bahkan, beberapa kali produknya juga berhasil menembus Benua Eropa.

“Saya lebih menekankan penjualan di pasar dalam negeri. Sebab, prospeknya juga masih cukup besar asal kita kreatif dan inovatif. Sementara pasar ekspor saya tidak terlalu pentingkan, meskipun banyak juga produk saya yang terjual saat pameran di luar negeri. Saya lebih nyaman di dalam negeri. Pasar ekspor masih rumit,” jelasnya lagi.

Saat ini di workshopnya di kawasan Depok, Jawa Barat, ia telah mempekerjakan 6 karyawan untuk memproduksi aneka produknya. Menurut Retno, meskipun di bisnis ini tensi persaingan cukup tinggi, asalkan inovatif niscaya tidak akan kehilangan konsumen. “Yang meniru itu pasti banyak, kita harus punya ciri khas. Harus inovatif, selain tetap jaga kualitas dan kerapian jahit dan harga tentunya.”

Ke depan, dengan tren digitalisasi yang semakin memasyarakat, bukan tidak mungkin ia juga akan menyasar pasar online. Namun untuk saat ini dirinya masih belum bisa melakukannya lantaran SDM yang masih terbatas. “Online itu pasti, saya juga akan bergerak ke sana. Sebab dunia yang terus berubah,” demikian Retno.

 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Hotman Paris dukung pengusaha muda ini pelopori batik moderen pertama di Indonesia
Selasa, 18 Februari 2020 - 08:42 WIB
Industri fashion terus berkembang, seiring dengan kemajuan zaman. Termasuk batik, kini memakai batik...
Inspirasi Rico Huang: Sukses di usia 24 tahun, kini mantap menatap bisnis photobook
Minggu, 02 Februari 2020 - 10:30 WIB
Dengan banyaknya data dan nilai pasar yang tinggi, photobook menjadi salah satu variasi produk print...
Sukses berbisnis batik, Michael Wirawan bangun brand baru yang sasar wanita milenial
Kamis, 23 Januari 2020 - 15:41 WIB
Namanya Michael Wirawan. Usianya masih muda, tercatat baru 24 tahun. Tapi soal bisnis, dia memiliki ...
Brand kecantikan karya anak bangsa ini sukses jelajahi pasar Eropa
Minggu, 19 Januari 2020 - 16:38 WIB
Berkat ekstrak kayu cendana, daun nilam, kemangi, bunga jempiring, bunga mawar, melati, kamboja, kay...
Jadi CEO private equity termuda di Asia Tenggara, Timothy Tandiokusuma kelola AUM Rp1,2 T
Senin, 13 Januari 2020 - 17:04 WIB
Timothy Tandiokusuma, usianya masih muda, 26 tahun, tapi dirinya cukup sukses menggeluti bisnis priv...
Mengenal Dicky Firmansyah, milenial di kancah industri digital Tanah Air
Selasa, 07 Januari 2020 - 15:16 WIB
Besarnya  potensi industri digital di Indonesia membuat para pelaku industri digital meyakini bahwa...
Dari Pekayon ke Cikunir Raya: Hardianto anak muda dibalik sukses Hardy Classic
Selasa, 10 Desember 2019 - 09:58 WIB
Kiprah Hardy Classic dalam bidang interior mobil sudah tidak diragukan lagi. Dengan pengalaman belas...
Jatuh bangun Jerry Hermawan Lo hingga sukses jadi pengembang properti
Minggu, 24 November 2019 - 14:31 WIB
Industri properti menjadi salah satu bisnis yang paling menjanjikan di dunia. Oleh karena itu, banya...
Ini kisah Bahlil Lahadalia, `anak terminal` yang ditunjuk jadi Kepala BKPM
Jumat, 25 Oktober 2019 - 10:05 WIB
Hidup berbalut kemiskinan, itulah masa lalunya. Bahlil, meski terlahir dari keluarga sederhana, tak ...
Tas limbah plastik karya Deasy Esterina yang tembus pasar global
Kamis, 17 Oktober 2019 - 16:13 WIB
Adalah Deasy Esterina yang tertarik untuk mengolah limbah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat. I...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)