Bagaimana mengatasi perang harga?
Elshinta
Senin, 06 Agustus 2018 - 11:11 WIB | Penulis : Syahid | Editor : Administrator
Bagaimana mengatasi perang harga?
Sumber foto: http://bit.ly/2AKfIuT

Elshinta.com - 

Pertanyaan dari pembaca

Bagaimana mengatasi perang harga? Karena harga kompetitor bisa lebih murah? Apakah saya harus ikut menurunkan harga walau merugi? Terima kasih.

Danang, Sukabumi

Jawaban
 

Perkembangan bisnis yang berlangsung dalam era digital walaupun pertanyaan ini belum tentu di dunia online, sebetulnya sangat mempengaruhi pada kebijakan harga. Jadi sebelum membahas mengenai perang harga yag perlu dipahami adalah tendensi dunia dalam bisnis cenderung menurunkan biaya. 

Berbagai perusahaan berusaha agar pembiayaan dapat ditekan sedemikian rupa, pada saat yang sama beban biaya tersebut juga harus ditanggung oleh berbagai pihak yang pada dasarnya bukan lagi konsumen yang menanggungnya. 

Dengan demikian maka perang harga tidak lagi membandingkan harga satu toko dengan toko lain tetapi membandingkan antara: 

  1. Biaya satu pihak dengan pihak lain
  2. Siapa yang menanggung biaya tersebut selain konsumen

Di dalam dunia online sudah terjadi kecendurugan biaya itu adalah nol sementara penerimaan dari satu industri berasal dari pihak di luar konsumen antara lain sponsor dan bebagai pihak lainnya yang mendukung dan mengambil manfaat dari bisnis tersebut. Dengan kata lain hampir bisa dipastikan bahwa perang harga akan berbentuk modus penekanan biaya dan pembebanan ongkos pada pihak di luar konsumen.

Sementra Anda misalnya berjualan gado-gado, Anda tidak dapat menghindari ongkos bahan baku. Bagaimana transformasi dari ongkos tersebut untuk dibebankan kepada pihak lain merupakan kreativitas yang dituntut agar Anda mengendalikan pembebanan biaya kepada konsumen. 

Baca jugaTrik menghadapi persaingan usaha pada lokasi yang berdekatan

Ketika bungkus gado-gado adalah promosi dari produk yang lain maka ongkos produksi gado-gado Anda telah sebagian dibiayai oleh sponsor tersebut. Itulah salah satu bukti pengalihan beban biaya kepada pihak selain konsumen. Oleh sebab itu perang harga harus ditanggapi secara lebih kreatif dan bukan banding-bandingan. Selama Anda masih menggunakan pola pikir banding-banding harga maka pada suatu ketika industri yang Anda jalani atau pihak kompetitor akan perlahan-lahan mati. Sementara harus dimaklumi juga bahwa ada sejumlah produk dan bisnis yang semakin tingi harganya semakin bernilai hal itu terjadi karena apa yang diedarkan di pasar dengan sasaran segmen tertentu adalah berorientasi pada kualitas premium.

Dengan kata lain pula segmen pasar yang Anda kejar adalah segmen premium yang sama sekali tidak terganggu oleh soal biaya. 
Jadi kesimpulannya apakah Anda sedang bermain dengan era digitalisasi yang cenderung menolkan ongkos dengan mengalihkan beban biaya kepada selain konusumen atau Anda sedang berada pada bidang bisnis kualitas preminum yang tidak memiliki patokan harga. Kedua jalan tersebut merupakan langkah untuk menghindari perang harga yang semakin menekan margin keuntungan Anda.  

Niam Muiz

 

Niam Muiz adalah seorang inspirator handal dalam dunia bisnis, master trainer tamatan Amerika Serikat yang telah menelorkan lebih dari 8000 eksekutif pada berbagai level jabatan dan fungsi di berbagai wilayah di Indonesia. Ia sudah malang melintang di dunia training dan kini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Inspira Consulting Jakarta. Anda bisa mengirimkan pertanyaan seputar bisnis ke email majalahelshinta2@gmail.com. Tulis pertanyaanya pada bodi email dengan subject “Tanya eMajels” Kunjungi elshinta.com/majalah-elshinta untuk mendapatkan informasi seputar panduan dan inspirasi bisnis.

 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pemkot Magelang jaring saran ekonomi kerakyatan dari pelaku UMKM hingga PKL
Senin, 22 Februari 2021 - 18:10 WIB
Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), pedagang kaki lima (PKL), hingga koperasi, dan lainnya...
Yayasan Dharma Bhakti Astra intens beri pendampingan daring ke UMKM
Jumat, 22 Januari 2021 - 12:29 WIB
Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) terus memberikan pendampingan daring dan optimalisasi kanal digit...
Survei: Sepertiga UKM di Asia Tenggara akui hadapi ancaman siber
Senin, 23 November 2020 - 11:55 WIB
Berdasarkan survei IT Security Economics 2020 yang dilakukan oleh Kaspersky, lebih dari sepertiga at...
Pelaku ekonomi kreatif keluhkan HAKI belum keluar sejak 2015
Rabu, 18 November 2020 - 09:50 WIB
Seorang pelaku ekonomi kreatif yang membuat tikar dari batang kelapa di Kota Pariaman, Sumatera Bara...
Jangan salah kaprah! Ini tafsir `bisnis tanpa modal`
Jumat, 06 Maret 2020 - 09:58 WIB
Pengertian tanpa modal itu maksudnya bisnis awal dijalani dengan biaya yang sangat minim. Demikian m...
Menjalankan bisnis teman, tapi masih ragu? Jangan, ini tips mengatasinya…
Kamis, 20 Februari 2020 - 10:25 WIB
Berbisnis itu adalah soal kepercayaan baik pada diri Anda maupun pada bisnis tersebut. Jadi Anda mem...
Mau sukses jalankan bisnis franchise? Baca dulu tips ini…
Jumat, 14 Februari 2020 - 10:46 WIB
Bisnis franchise menjadi salah satu pilihan bagi banyak orang. Untuk bisa sukses di bisnis ini, baga...
Dibanding bisnis sendiri, berapa persen tingkat keberhasilan bisnis franchising?
Rabu, 12 Februari 2020 - 11:30 WIB
Apakah sebuah bisnis yang dipasarkan secara sistem franchise bisa meraih kesuksesan seperti membuka ...
4 tips menjadi franchisor sukses, apa saja?
Selasa, 11 Februari 2020 - 15:33 WIB
Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan bila usaha Anda hendak di-franchise-kan sehingga tidak m...
Apa sih pertanda bisnis Anda maju? Ini jawabannya...
Jumat, 31 Januari 2020 - 09:55 WIB
Bisnis yang maju dan besar sebenarnya berasal dari kecepatan mengelola pasar yang memungkinkan baik ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV