Banyak Pekerja Jerman Lebih Senang Home Office dan Tidak Ingin Kembali ke Kantor
Elshinta
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Banyak Pekerja Jerman Lebih Senang Home Office dan Tidak Ingin Kembali ke Kantor
DW.com - Banyak Pekerja Jerman Lebih Senang Home Office dan Tidak Ingin Kembali ke Kantor

Lebih sedikit stres, lebih banyak waktu untuk keluarga, bahkan lebih produktif, kata mayoritas pekerja di Jerman yang melakukan home office (bekerja dari rumah) di masa pandemi corona. Itulah hasil studi terbaru dari perusahaan asuransi kesehatan DAK yang dirilis hari Rabu (22/07) di Berlin.

Menurut studi DAK, 76,9 persen pekerja yang terpaksa melakukan home office sekarang menyatakan ingin mempertahankan sistem kerja itu, juga setelah wabah corona berlalu.

Kondisi kesehatan para pekerja tampaknya membaik dengan bekerja dari rumah, kata studi DAK. Sebelum wabah corona, 21 persen pekerja mengatakan mereka secara rutin mengalami stres di tempat kerja. Selama krisis corona, angka itu turun menjadi 15 persen. Namun angka pekerja yang menyatakan hanya sekali-sekali atau tidak pernah mengalami stres di tempat kerja meningkat dari 48 persen menjadi 57 persen.

Studi itu dilaksanakan oleh lembaga penelitian opini publik IGES dan Forsa atas pesanan DAK, dengan melibatkan sekitar 7.000 responden. Sekitar 56 persen pekerja yang sekarang bekerja dari rumah menyatakan, mereka menjadi lebih produktif ketimbang ketika bekerja di kantor. Dua pertiga pekerja mengatakan mereka lebih bisa mengatur pekerjaan dan kegiatan keluarga selama bekerja dari rumah.

Home office bukan solusi bagi segala hal

Direktur Utama DAK Andreas Storm menerangkan, penutupan sekolah di masa krisis corona dan bekerja dari rumah, terutama bagi keluarga muda memang menjadi beban tersendiri. Namun secara keseluruhan, para pekerja memandangnya positif, terutama karena para orang tua bisa mengatur waktu lebih baik lagi dan berbagi dengan keluarga.

Menurut hasil studi DAK, kelompok orang-orang muda dari usia 30 sampai 39 tahun menilai sistem bekerja dari rumah menguntungkan mereka ketika harus membagi waktu untuk pekerjaan dan untuk keluarga.

Studi serupa dari lembaga penelitian kependudukan Bundesinstitut für Bevölkerungsforschung juga sampai pada kesimpulan yang sama. Bekerja dari rumah berarti fleksibilitas yang lebih besar untuk mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Tapi kamar dagang dan industri Jerman, DIHK, meredam euforia terkait home office. "Kami juga mengamati bahwa banyak hal bisa diselesaikan secara online, yang dulu tidak kami bayangkan," kata Presiden DIHK Eric Schweitzer.

"Namun jangan juga kita berilusi, bahwa seluruh kehidupan ekonomi bisa diselesaikan dari rumah,” katanya kepada kantor berita Jerman, DPA. "Kebanyakan perusahaan tidak bisa dikendalikan untuk seterusnya hanya dari komputer di rumah,” tambahnya.

Aspek-aspek negatif home office bagi pekerja

DAK juga mengakui bahwa home office tidak hanya membawa keuntungan bagi pekerja. Hampir 50 persen pekerja juga mengatakan mereka sulit memisahkan urusan kerja dan urusan pribadi selama bekerja dari rumah.

Sebanyak 75 persen pekerja juga mengatakan, mereka merasa kehilangan kontak dengan koleganya. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Koblenz baru-baru ini menemukan bahwa hampir satu dari lima pekerja home office menyatakan mereka merasa terisolasi secara sosial.

DAK sendiri menarik kesimpulan yang cukup berimbang. "Bekerja dari rumah tidak hanya menurunkan ancaman terinfeksi virus, tetapi juga bisa berdampak baik bagi keseimbangan jiwa,” kata Direktur Utama DAK Andreas Storm. Hal itu bisa menjadi pertimbangan untuk dunia kerja di masa depan,"tanpa melupakan aspek-aspek negatif home office, yang memang juga ada.”

Presiden DIHK Eric Schweitzer mengatakan, apa pun perkembangannya, dunia kerja memang akan berubah di masa depan. "Kita tidak akan kembali lagi ke situasi seperti sebelum corona,” katanya.

hp/ae (dpa, afp, epd)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
SARS-CoV-2: Kenapa Proses Kilat Pengembangan Vaksin Tidak Berisiko
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Lebih dari 170 kandidat vaksin SARS-CoV-2 sedang dikembangkan. Tujuh di antaranya sudah memasuki fas...
Pakistan Izinkan Produksi Rami, Varietas Tanaman Ganja
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Rapat kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan menyetujui pernyataan yang mem...
Cara Dunia Cegah Perang Harga Vaksin COVID-19: Bagaimana dengan Indonesia?
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Ketika Jonas Salk menemukan vaksin polio tahun 1953, Jonas Salk tidak mematenkan vaksin polio terseb...
Instalasi Multimedia Singkirkan Sejarah Kelam Perang Dunia II
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Sejarah kelam Perang Dunia II di kota Bordeaux masih hantui sisa-sisa galangan kapal selam. Hingga a...
Masa Pandemi Corona: Tantangan bagi Teokrasi Iran
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Kekecewaan menyelimuti warga Syiah di Iran. Mereka tidak diizinkan untuk ambil bagian dalam prosesi ...
Kekerasan Seksual di Mesir: Melawan Budaya Diam
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
“Dia menjambak rambut saya dan melemparkan saya ke lantai. Dia membuka kancing celana. Saya me...
Cendekiawan di Jerman Keluhkan Sikap Permusuhan Terhadap Muslim
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Para akademisi Islam di Jerman lainnya mengeluhkan meningkatnya permusuhan terhadap muslim dan hamba...
PKI di Mata Tarzie Vittachi, Wartawan Pertama Penulis Buku G30S
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Wartawan asal Sri Lanka, Tarzie Vittachi menulis buku yang cukup penting sebagai rujukan sejarah kar...
Aktivis Malaysia Maryam Lee Bicara Soal Kebebasan bagi Perempuan Soal Hijab
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Apa tuduhan “kejahatan“ terhadap Maryam Lee? Berbicara tentang keputusannya untuk berhen...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV