Misteri Virus Corona, Menyebar Super Cepat Diam-diam Tanpa Gejala
Elshinta
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Misteri Virus Corona, Menyebar Super Cepat Diam-diam Tanpa Gejala
DW.com - Misteri Virus Corona, Menyebar Super Cepat Diam-diam Tanpa Gejala

Hanya dalam waktu tiga bulan setelah pemerintah Cina mengumumkan wabah pneumonia misterius di Wuhan, virusnya sudah menyebar ke seluruh benua, kecuali Antartika. Di balik kecepatan penyebaran virus corona itu, para ilmuwan menemukan fakta lain yang mencemaskan. Virus bisa menyebar lewat orang yang kelihatannya sehat.

Ketika lockdown dilonggarkan, pekerja kembali ke kantor, anak-anak siap kembali bersekolah, dan mal serta restoran kembali dibuka, para ilmuwan harus menghadapi realitas banal. Jika orang yang kelihatannya sehat bisa menularkan penyakit, nyaris mustahil meredam COVID-19.

“Itu bisa jadi pembunuh, karena 40 persen orang yang terinfeksi, tidak tahu mereka membawa penyakit tersebut,“ kata Dr.Eric Topol pimpinan Scripps Research Translational Institute, sebuah lembaga penelitian kesehatan terkemuka di dunia.

Jika orang yang terinfeksi virus SARS-CoV-2, tapi tidak menunjukkan gejala sakit, mereka bisa lolos dari pemeriksaan di bandara, ikut rapat binis di kantor dan belanja di mal atau makan di restoran. Mereka bisa menjadi “silent spreader“ alias penular diam-diam, dan gelombang wabah berikutnya bisa melanda.

Riset kasus infeksi di Korea Selatan

Sebuah riset kecil yang dilakukan di kota Daegu dengan 198 responden menunjukkan, orang yang tidak punya sejarah terpapar COVID-19, tapi bermukim di kota dengan kasus tinggi, sekitar 7,6 persennya memiliki antibodi virus corona. Ini merupakan indikasi bahwa virus corona kemungkinan menyebar lebih luas ketimbang perkiraan sebelumnya.

Hasil riset menyebutkan, berdasar survei itu, diperkirakan lebih dari 185 ribu warga kota Daegu, kota terbesar keempat di Korea Selatan dengan populasi 2,5 juta jiwa, kemungkinan terinfeksi virus corona. Hingga awal Juni, kota Daegu mencatat 6.886 kasus COVID-19.

“Estimasinya jumlah kasus yang tidak terdiagnosa, bisa mencapai 27 kali lipat lebih tinggi dari kasus yang dikonfirmasi berdasar tes PCR di Daegu,“ demikian laporan riset yang dirilis Journal of Korean Medical Science (JKMS) kepada media lokal Selasa (21/07) malam.

Menanggapi hasil riset kecil di kota Daegu itu, direktur Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), Jeong Eun-kyeong mengingatkan agar hati-hati karena sampelnya terlalu kecil. “Kami juga punya estimasi lebih banyak kasus infeksi di Daegu dibanding yang dikonfirmasi. Kami sudah berbicara dengan pejabat kota, untuk melakukan tes antibodi terhadap 3.000 orang, untuk memperkirakan besaran jumah kasusnya,“ ujar Jeong Eun-kyeong.

Tes antibodi atau serologi menunjukkan, apakah seseorang terpapar virusnya. Riset serupa yang dilakukan di berbagai kota menunjukkan kisaran paparan infeksi COVID-19 yang berbeda-beda, dari hanya serendah 0,1% di Tokyo hingga setinggi 17% di London.

as/rap (AP, Reuters)



Salah satu misteri virus corona SARS-CoV-2 adalah penyebarannya yang sangat cepat. Selain itu, sekitar 40 persen orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sakit. Hal itu menyulitkan para ilmuwan memerangi COVID-19.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
SARS-CoV-2: Kenapa Proses Kilat Pengembangan Vaksin Tidak Berisiko
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Lebih dari 170 kandidat vaksin SARS-CoV-2 sedang dikembangkan. Tujuh di antaranya sudah memasuki fas...
Pakistan Izinkan Produksi Rami, Varietas Tanaman Ganja
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Rapat kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan menyetujui pernyataan yang mem...
Cara Dunia Cegah Perang Harga Vaksin COVID-19: Bagaimana dengan Indonesia?
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Ketika Jonas Salk menemukan vaksin polio tahun 1953, Jonas Salk tidak mematenkan vaksin polio terseb...
Instalasi Multimedia Singkirkan Sejarah Kelam Perang Dunia II
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Sejarah kelam Perang Dunia II di kota Bordeaux masih hantui sisa-sisa galangan kapal selam. Hingga a...
Masa Pandemi Corona: Tantangan bagi Teokrasi Iran
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Kekecewaan menyelimuti warga Syiah di Iran. Mereka tidak diizinkan untuk ambil bagian dalam prosesi ...
Kekerasan Seksual di Mesir: Melawan Budaya Diam
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
“Dia menjambak rambut saya dan melemparkan saya ke lantai. Dia membuka kancing celana. Saya me...
Cendekiawan di Jerman Keluhkan Sikap Permusuhan Terhadap Muslim
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Para akademisi Islam di Jerman lainnya mengeluhkan meningkatnya permusuhan terhadap muslim dan hamba...
PKI di Mata Tarzie Vittachi, Wartawan Pertama Penulis Buku G30S
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Wartawan asal Sri Lanka, Tarzie Vittachi menulis buku yang cukup penting sebagai rujukan sejarah kar...
Aktivis Malaysia Maryam Lee Bicara Soal Kebebasan bagi Perempuan Soal Hijab
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Apa tuduhan “kejahatan“ terhadap Maryam Lee? Berbicara tentang keputusannya untuk berhen...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV