Studi: Amerika Utara Kemungkinan Telah Dihuni Manusia Sejak 26.500 Tahun Lalu
Elshinta
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Studi: Amerika Utara Kemungkinan Telah Dihuni Manusia Sejak 26.500 Tahun Lalu
DW.com - Studi: Amerika Utara Kemungkinan Telah Dihuni Manusia Sejak 26.500 Tahun Lalu

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Rabu (22/07) mengungkap bahwa Amerika Utara kemungkinan telah dihuni oleh manusia sejak 26.500 tahun yang lalu, jauh lebih awal daripada kebanyakan ilmuwan yakini.

Penemuan ini muncul dari analisis alat-alat hasil galian dari sebuah gua di Meksiko tengah yang kini menunjukkan bukti kuat bahwa manusia telah hidup di Amerika Utara sekitar 15.000 tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature ini berfokus pada artefak - termasuk 1.900 alat-alat batu – yang ditemukan di bagian ketinggian Gua Chiquihuite.

Alat batu yang diimpor

Alat-alat batu yang ditemukan tersebut memperlihatkan sebuah “kemajuan teknologi”, yang diyakini oleh penulis studi dibawa dari tempat lain.

“Hasil penelitian kami memberikan bukti baru terkait kekunoan manusia di Amerika,” kata Ciprian Ardelean, seorang arkeolog di Universidad Autonoma de Zacatecas yang juga penulis utama studi tersebut.

Ardelean mengatakan bahwa hasil penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa beberapa artefak memiliki rentang usia 33.000 hingga 31.000 tahun, meskipun para ilmuwan masih berusaha memverifikasi hal tersebut.

Tidak ada jejak tulang manusia atau DNA yang ditemukan di situs galian. “Sangat mungkin bahwa manusia menggunakan situs ini secara relatif konstan, mungkin dalam episode musiman berulang dari siklus migrasi yang lebih besar,” kata penelitian itu menyimpulkan.

Perdebatan di antara para ahli

Sebelum penelitian ini muncul, teori kedatangan manusia di Amerika yang diterima secara luas menyebutkan bahwa nenek moyang terdahulu berjalan melintasi daratan dari yang saat ini menjadi Rusia menuju Alaska sekitar 13.500 tahun yang lalu, kemudian pindah ke selatan melalui koridor di antara dua lapisan es besar.

Teori ini sangat diperdebatkan di antara para ahi dan studi baru di atas kemungkinan akan sangat diperdebatkan pula.

“Hal itu terjadi setiap kali ada orang yang menemukan situs yang usianya lebih tua dari 16.000 tahun – reaksi pertama adalah penolakan dan penerimaan yang sulit,” kata Ardelean, yang pertama kali menggali gua tersebut pada 2012 namun tidak menemukan barang-barang tertua hingga 2017.

Tom Dillehay, seorang profesor antropologi dari Vanderbilt University di Nashville, Tennessee, yang tidak terlibat dalam studi gua itu, mengatakan bahwa usia yang diusulkan dalam studi tersebut pada akhirnya akan dapat dianggap sah jika mereka dapat bertahan dalam pengujian lebih lanjut.

Dia tidak mempertanyakan ihwal beberapa artefak kemungkinan merupakan buatan manusia, tetapi mengatakan bahwa dia ingin melihat bukti lain dari pendudukan manusia di gua tersebut, seperti bukti perapian, pecahan tulang-belulang, dan bukti sisa pembakaran tanaman.

gtp/rap (AFP, AP)



Bukti arkeologis yang ditemukan di Meksiko tengah tunjukkan bahwa manusia telah hidup di Amerika setidaknya 10.000 tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Ilmuwan temukan ratusan alat-alat batu di situs tersebut.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
SARS-CoV-2: Kenapa Proses Kilat Pengembangan Vaksin Tidak Berisiko
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Lebih dari 170 kandidat vaksin SARS-CoV-2 sedang dikembangkan. Tujuh di antaranya sudah memasuki fas...
Pakistan Izinkan Produksi Rami, Varietas Tanaman Ganja
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Rapat kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan menyetujui pernyataan yang mem...
Cara Dunia Cegah Perang Harga Vaksin COVID-19: Bagaimana dengan Indonesia?
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Ketika Jonas Salk menemukan vaksin polio tahun 1953, Jonas Salk tidak mematenkan vaksin polio terseb...
Instalasi Multimedia Singkirkan Sejarah Kelam Perang Dunia II
Selasa, 29 September 2020 - 10:03 WIB
Sejarah kelam Perang Dunia II di kota Bordeaux masih hantui sisa-sisa galangan kapal selam. Hingga a...
Masa Pandemi Corona: Tantangan bagi Teokrasi Iran
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Kekecewaan menyelimuti warga Syiah di Iran. Mereka tidak diizinkan untuk ambil bagian dalam prosesi ...
Kekerasan Seksual di Mesir: Melawan Budaya Diam
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
“Dia menjambak rambut saya dan melemparkan saya ke lantai. Dia membuka kancing celana. Saya me...
Cendekiawan di Jerman Keluhkan Sikap Permusuhan Terhadap Muslim
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Para akademisi Islam di Jerman lainnya mengeluhkan meningkatnya permusuhan terhadap muslim dan hamba...
PKI di Mata Tarzie Vittachi, Wartawan Pertama Penulis Buku G30S
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Wartawan asal Sri Lanka, Tarzie Vittachi menulis buku yang cukup penting sebagai rujukan sejarah kar...
Aktivis Malaysia Maryam Lee Bicara Soal Kebebasan bagi Perempuan Soal Hijab
Selasa, 29 September 2020 - 10:02 WIB
Apa tuduhan “kejahatan“ terhadap Maryam Lee? Berbicara tentang keputusannya untuk berhen...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV