Tak Bisa Kembali ke Australia, Pemegang WHV Asal Indonesia Merasa Dirugikan
Elshinta
Senin, 20 Juli 2020 - 14:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Tak Bisa Kembali ke Australia, Pemegang WHV Asal Indonesia Merasa Dirugikan
ABC.net.au - Tak Bisa Kembali ke Australia, Pemegang WHV Asal Indonesia Merasa Dirugikan

Sri Ernawati adalah pemegang Work and Holiday Visa tahun kedua yang saat ini berada di rumahnya di Pontianak, Kalimantan Barat, sedang menunggu apakah ia bisa kembali ke Australia.

Desember tahun lalu, ia mengajukan visa tahun kedua saat masih di Australia dengan biaya AU$800, sekitar Rp8,1 juta agar bisa melanjutkan pekerjaannya di sebuah pabrik di Queensland, Australia.

"Visa [tahun pertama] saya habisnya di bulan Maret dan selesai kerja di pabrik bulan Februari. Jadi kan ada jeda waktu, saya pikir saya pulang dulu untuk ketemu keluarga," kata Sri.

Namun, Sri yang sudah memesan tiket untuk penerbangan tanggal 26 Maret, tidak dapat kembali ke Australia yang menutup perbatasan enam hari sebelumnya.

"Tidak tahunya, tanggal 20 Maret perbatasan [Australia] ditutup ... dan sekarang ekonomi Indonesia kacau, padahal di Australia saya sudah ada pekerjaan dan bisa melanjutkan.

Syarat WHV Australia:

  • Untuk orang Indonesia berusia 18-30 tahun
  • Syaratnya memiliki kualifikasi setingkat perguruan tinggi atau telah menjalani pendidikan di PT setidak-tidaknya dua tahun, dan tingkat kemahiran bahasa Inggris IELTS skor minimal 4,5
  • Memiliki dana minimal AU$ 5.000 di bank, yang boleh juga di rekening atas nama orangtua
  • Untuk mendapat visa tahun kedua setidaknya harus bekerja tiga bulan di sektor pekerjaan atau kawasan tertentu.
  • Mulai 1 Juli 2019, dibuka program visa tahun ketiga
  • Dapatkan informasi selengkapnya di situs resmi, proses ini tidak perlu perantara dan waspada dengan tawaran yang menjanjikan dapat membantu keluarnya visa

Australia kemungkinan besar akan menutup perbatasan sampai 2021, padahal batas berlaku visa Sri adalah hingga bulan Maret 2021.

Sri yang bulan Agustus nanti akan berulangtahun ke-31, juga mengatakan tidak dapat mengajukan kembali WHV yang hanya menerima pelamar berusia 18-30 tahun.

Menurutnya penutupan perbatasan di Australia telah menimbulkan kerugian bagi pemegang WHV yang kehilangan kesempatan untuk mengejar WHV tahun kedua dan ketiga.

Rugi waktu, biaya, dan rencana kacau

ABC Indonesia telah menghubungi Departement of Home Affairs Australia untuk mempertanyakan apakah ada kemungkinan para pemegang WHV yang kini di Indonesia bisa mendapat keringanan untuk aturan visanya.

"Di bawah peraturan yang berlaku sekarang, tidak memungkinan bagi pemegang WHV (visa subkelas 462 atau 471) untuk memperpanjang, membekukan, atau untuk diganti ke tahun selanjutnya," ujar juru bicara departemen yang mengurus imigrasi tersebut.

Salah satu pemegang WHV yang merasa dirugikan adalah Yesica Anastasya, yang juga terpaksa menetap di Pontianak tanpa pekerjaan.

Sama seperti Sri, ia juga telah menghabiskan waktu dan biaya dengan bekerja di sektor pertanian sebagai syarat WHV tahun kedua.

"Awalnya saya bekerja di Sydney dan sudah nyaman bekerja di warehouse dan kios menjual minuman ... namun untuk bisa dapat second year harus ke farm," kata Yesica.

Meski sektor pertanian menawarkan upah relatif tinggi, yaitu AU$24, atau lebih dari Rp240ribu per jam, pekerjaannya berat dan tidak pasti, menurutnya.

"[Ketika bekerja di farm] saldo itu bukannya bertambah, tapi minus karena dipotong sama uang pesawat [untuk ke tempat lain] dan biaya sewa, [saat] tidak ada pekerjaan atau low season."

Belum lagi menghitung biaya pengajuan visa yang ia keluarkan pada bulan Desember tahun lalu, sebesar AU$479, atau hampir Rp 5 juta.

Yesica juga terpaksa menunda rencananya untuk membuka bisnis di Pontianak, akibat tidak jadi ke Australia.

"Kami masih mengharapkan dapat ke Australia. Karena untuk membuka usaha pun tidak siap," kata Yesica yang berumur 26 tahun.

Ia mengatakan pandemi COVID-19 telah mengacaukan rencananya tahun ini.

"Planning [rencana] saya kacau sekali. Rencananya Juni menikah dan langsung ke Australia sama suami, tapi harus mundur sampai tahun depan."

Mengirim surat ke Pemerintah Australia

Yesica mengaku karena sudah tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan sambil menunggu, ia sempat menulis surat ke Pemerintah Australia.

"[Usaha yang saya lakukan] adalah mengirim surat elektronik dalam format Word ke situs Parliament of Australia, tidak tahu mau usaha apa lagi."

Sri dan beberapa pemegang WHV yang lainnya juga sudah melakukan yang sama.

Ia sebelumnya pernah mengirim email kepada Working Holiday Maker Program.

Dalam email yang ia terima pada 13 Mei tersebut, tertulis bahwa pemegang WHV tidak dapat memperpanjang atau menghentikan sementara masa berlaku visa.

Selain itu, ketentuan umur pelamar visa juga akan tetap berlaku sebagaimana adanya.

Sri memahami jika pandemi virus corona adalah kondisi yang tidak biasa, tapi ia berharap Pemerintah Australia dapat membuka perbatasan atau membekukan visa mereka hingga perbatasan dibuka.

"Harapan saya dan teman-teman adalah agar perbatasan bisa dibuka untuk WHV, tentu dengan syarat karantina atau tes kesehatan," kata Sri kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

"Selain itu WHV kebanyakan kerja di regional jadi sebenarnya cukup untuk membantu ekonomi di sana juga dan karena travel-nya di wilayah domestik."

Permintaan yang sama juga diutarakan oleh Yesica, yang berharap ada campur tangan Pemerintah Australia terhadap nasib pemegang WHV dari seluruh dunia.

Kontribusi pemegang WHV bagi perekonomian Australia diperkirakan mencari AU$ 3 triliun, selain turut menggerakan perekonomian kawasan pedalaman Australia.

"Anak-anak WHV memegang peranan penting untuk Australia, pekerjaan yang tidak dilakukan warganegara kami lakukan, seperti farming," kata Yesica.

"Karena perbatasannya tutup sehingga kami banyak yang stuck [terjebak] di sini [negara masing-masing]."

Simak berita lainnya di ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kapan COVID-19 Berakhir? Mungkin Jawabannya Bisa Ditemukan dari Sejarah Pandemi
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Sekitar 100 tahun lalu, satu jenis baru influenza menulari hampir sepertiga penduduk dunia. Namun da...
Film Mulan Mendapat Seruan Boikot Terkait Perlakuan Muslim Uyghur di China
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Film Mulan yang diproduksi ulang dalam bentuk live-action mendapat seruan boikot karena adanya "ucap...
Tidak Bisa Diburu-buru: Tahap Akhir Vaksin Inggris Terpaksa Ditangguhkan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Tahap akhir uji coba untuk vaksin virus corona di Inggris ditangguhkan setelah seorang peserta yang ...
Melayani Makan Siang, 103 Tertular Corona, Kini Restoran di Sydney Nyaris Bangkrut
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Pandemi COVID-19 tidak hanya merengut korban jiwa, tapi juga merugikan banyak bisnis di dunia, terma...
Khawatir Kesehatan Saya: Kondisi Petugas dan Lahan Pemakaman di Jakarta Saat Ini
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Nadi bin Eji sudah bekerja di taman pemakaman umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur sejak tahun 1...
Pengkhianat dan Saling Tuding: Ada Apa Lagi Antara Australia dan China?
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Ketegangan hubungan Australia dan China kian memanas pekan ini setelah kedua pihak saling melontarka...
Tigerair Australia yang Pernah Bermasalah di Bali Berhenti Terbang Selamanya
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Maskpai penerbangan asal Australia, yang dikenal dengan tiket murahnya, menghentikan operasinya sete...
Pejabat Australia Juga Menghadapi Kepentingan Politik Saat Menangani COVID-19
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Para pemimpin di seluruh dunia saat ini sedang mengatasi pandemi COVID-19 dengan pilihan sulit antar...
Agar Harga Makanan Tak Naik, Warga Australia Diserukan Bekerja di Perkebunan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Warga Australia didesak untuk bekerja sebagai backpacker di negara mereka sendiri untuk mencegah bua...
Jakarta Tarik Rem Darurat, Warga Jerman Lebih Takut Trump Ketimbang Virus
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Angka penularan virus corona di Indonesia, termasuk di ibukota Jakarta terus meningkat yang membuat ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV