Cerita Dari Penghuni Penghuni Rusun di Melbourne yang Sedang di-lockdown
Elshinta
Rabu, 08 Juli 2020 - 11:45 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Cerita Dari Penghuni Penghuni Rusun di Melbourne yang Sedang di-lockdown
ABC.net.au - Cerita Dari Penghuni Penghuni Rusun di Melbourne yang Sedang di-lockdown

Sebagai sebuah kota yang dikenal dengan keberagaman budaya, Melbourne memiliki kantong-kantong yang ditinggali penduduk dari berbagai kawasan di dunia.

  • Sekitar tiga ribu warga yang tinggal di rumah susun umum sedang menjalani lockdown
  • Para warga berasal dari berbagai latar belakang budaya
  • Banyak warga dukung upaya mengurangi penyebaran virus, namun mempertanyakan pelaksanaanya

Seperti sembilan kompleks rumah susun (rusun) milik pemerintah di kota Melbourne, yang saat ini diberlakukan lockdown setelah ditemukan adanya peningkatan penularan virus corona.

Tapi sejumlah masalah timbul, seperti masalah kehadiran polisi, kurang tersedianya informasi dalam berbagai bahasa, hingga makanan apa yang harus dibagikan kepada warga menimbulkan debat.

Sebagian warga yang tinggal di rusun mengatakan kepada ABC, jika mereka menerima perintah lockdown, tapi sebagian lain mengaku ada kebingungan karena kurangnya informasi yang mereka dapatkan.

Sekitar tiga ribu ribu warga di sembilan kompleks rusun tidak boleh keluar rumah.

Komisioner Diskriminasi Ras Australia Chin Tan mengingatkan banyak warga yang tinggal di sana berasal dari negara asal yang sebelumnya mengalami konflik atau perang.

"Mengkambinghitamkan komunitas ini berdasarkan ras mereka adalaha hal yang tidak bisa diterima," katanya di Twitter.

"Meningkatkan stigma bagi mereka yang datang ke Australia untuk mencari kehidupan lebih baik adalah memalukan dan penting sekali kita mengingatkan hal tersebut."

Bermanfaat bagi kami dan yang lain

Yin Yongsheng dari Federasi Asosiasi Warga China (FCA), sebuah organisasi yang membawahi warga perantauan China di Australia, mengtakan ada sekitar 200 warga asal China di kompleks rusun tersebut dan rata-rata berusia 60 tahun.

Salah seorang diantaranya adalah Gong Kehui yang berjusia 85 tahun.

Ia pindah ke Australia di tahun 1985 dan tinggal di salah satu rusun di kawasan North Melbourne.

Ia mendukung perintah lockdown yang diberlakukan oleh Pemerintah Victoria akhir pekan lalu..

"Tindakan lockdown ini dilakukan untuk menemukan sumber COVID-19 dan menghentikan penyebaran," katanya.

"Ini bermanfaat bagi kami dan yang lain."

"Saya melihat banyak orang yang tidak berperilaku semestinya dengan apa yang sekarang terjadi."

Ketika ditanya apakah dia khawatir dengan kesejahteraannya selama lockdown, Gong mengatakan "tidak ada gunanya untuk khawatir."

Dia mengatakan komunitas China di daerah tempat tinggalnya sudah berhati-hati dengan virus corona.

"Kami sudah tidak mengadakan kegiatan kelompok sejak perayaan Natal, dengan kegiatan belanja dan acara dansa bersama dibatalkan," katanya.

"Sampai sekarang kami cuma kontak online, belum lagi bertemu tatap muka."

Gong mengatakan hanya bisa mengerti bahasa Inggris seadanya dan menggunakan aplikasi WeChat sebagai sumber utama mendapatkan informasi mengenai pandemi di Melbourne.

Perempuan Samoa mengalami lockdown bersama 7 anak

Seorang perempuan asal kawasan Lautan Pasifik, Samoa yang minta namanya disebut sebagai Lucy, tinggal bersama 7 anaknya dan seekor anjing di salah satu rusun.

Lucy adalah penyintas kekerasan rumah tangga (KDRT).

"Saya baru tahu hari Jumat sore ketika saya pulang dari belanja. Mereka tidak memberitahu kami akan di-lockdown. Mereka hanya bilang turun ke bawah untuk tes COVID," katanya.

"Saya kemudian melihat di berita dan turun ke bawah dan mereka bilang kamu tidak boleh kemana-mana, naik lagi ke atas dan jangan keluar."

Lucy mengatakan dia belum mempersiapkan diri dan hanya punya sedikit sisa makanan di kulkas, jadi ia tidak punya sayuran, roti dan susu.

Dia diberi nomor telpon untuk meminta bantuan makanan.

"Saya menunggu seharian dan malam hari Minggu dan mereka datang tengah malam. Ketika saya membuka pintu mereka memberi satu paket sup dan lima kue daging. Padahal ada delapan orang di rumah kami."

"Ini tidak cukup untuk delapan oran di rumah. Saya akan memberikan untuk anak-anak, dan saya sendiri akan kelaparan."

"Saya punya teman dan sanak keluarga yang bisa membawakan makanan, namun ketika saya bertanya ke polisi mereka mengatakan "mereka tidak boleh datang."

Lucy juga mengatakan kehadiran polisi sebenarnya tidak diperlukan dan membuat anak-anaknya ketakutan.

"Kami tidak butuh polisi, kami cuma butuh pekerja sosial dan perawat," katanya.

Pasangan Timor Leste masih menunggu untuk dites

Kuon Nhen Lay, 70 tahun dan istrinya Lucy (65 tahun) yang berasal dari Timor Leste tinggal di kawasan apartemen milik pemeritah di Flemington.

Mereka mengatakan beruntung karena sudah membeli bahan makanan hari Jumat yang cukup untuk selama seminggu sebelum adanya lockdown yang mendadak tersebut.

Namun Kuon mengatakan dia sejauh ini belum mendapat informasi mengenai kapan dia akan bisa menjalani tes COVID-19.

"Saya takut terkena COVID-19," katanya kepada ABC.

"Saya tahu bahwa yang paling rentan terkena adalah para lansia.

"Saya sangat khawatir ketika mendengar apa yang terjadi di komplek kami. Saya berharap segera dites dan mendapat hasilnya."

Dia mengatakan bahwa ada sekitar 40 keluarga asal Timor Leste yang tinggal di komplek perumahan apartemen tinggi di Flemington tersebut.

Pasangan tersebut biasanya dikunjungi oleh anak perempuan dan cucu-cucunya hari Minggu, dan karena lockdown sekarang tidak bisa dilakukan.

Kuon mengatakan ia khawatir dengan kesehatan anggota keluarganya, namun memahami mengapa pemerintah negara bagian Victoria mengalami tindakan lockdown tersebut.

"Bila warga bekerjasama dengan pemerintah, pandemi ini akan berakhir lebih cepat," katanya.

Lihat artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Seberapa Membantu Tunjangan Uang dari Pemerintah Australia Bagi Warga Indonesia?
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pemerintah Australia memberikan tunjangan uang bagi permanent resident (PR) dan warganegara Australi...
Kematian Karena Flu Biasa di Australia Turun Tajam Karena Social Distancing
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Salah satu hal yang positif dari penerapan aturan pembatasan aturan jarak antara warga, atau social ...
Pria Australia Lari Keliling Bali Untuk Membantu Warga Bali yang Kesulitan
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Seharusnya Jamin Heppell, seorang warga Australia, bisa saja melewati hari-harinya dengan mudah saat...
Pendekatan Baru Indonesia Untuk Menangani COVID-19, Seberapa Efektif?
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pekan lalu, Indonesia menggunakan pendekatan baru dalam penanganan pandemi virus corona di Indonesia...
Warga Melbourne Akan Diberi Rp3 Juta Kalau Diam di Rumah Setelah Tes Corona
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pemerintah negara bagian Victoria mengumumkan akan memberikan tunjangan uang senilai AU$300, atau le...
Sejumlah Penjaga Karantina COVID-19 Di Melbourne Direkrut Lewat WhatsApp
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Sejumlah penjaga keamanan yang ditugaskan untuk menjaga hotel-hotel di Melbourne tempat karantina wa...
Pasukan Khusus Australia Bentangkan Simbol Rasis di Afghanistan
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Anggota pasukan khusus Australia (SAS) berpose dan merekam aksinya sendiri membentangkan sebuah Bend...
KDRT Meningkat di Asia Akibat Lockdown COVID-19, Termasuk di Indonesia
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Aturan pembatasan pergerakan warga, atau lockdown, selama pandemi COVID-19 telah menyebabkan meningk...
Reynold Poernomo Gagal Ke Final MasterChef Australia 2020
Rabu, 22 Juli 2020 - 00:30 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Harapan Reynold Poernomo, peserta yang difavoritkan banyak...
Kasus Corona di Melbourne Masih Tinggi, Masker Wajib Pakai dengan Denda Rp2 juta
Rabu, 22 Juli 2020 - 00:30 WIB
Negara bagian Victoria, dengan ibukota Melbourne memiliki hampir 3.000 kasus aktif virus corona, den...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV