Virus Corona Ubah Hidup Kita, Tapi Ada Kebiasaan Baru yang Ingin Dipertahankan
Elshinta
Senin, 06 Juli 2020 - 01:59 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Virus Corona Ubah Hidup Kita, Tapi Ada Kebiasaan Baru yang Ingin Dipertahankan
ABC.net.au - Virus Corona Ubah Hidup Kita, Tapi Ada Kebiasaan Baru yang Ingin Dipertahankan

Baca dalam Bahasa Mandarin | Baca dalam Bahasa Inggris

Sudah hampir tiga bulan Pemerintah Australia memberlakukan peraturan untuk membatasi pergerakan warganya karena pandemi virus corona.

Warga di Australia, termasuk asal Indonesia pun sudah mulai mengadopsi cara baru dalam hidup mereka.

Kini tetangga menjadi lebih saling mengenal dan membantu, anak-anak bersekolah dari rumah, hingga penerapan new normal yang belum tentu bisa diadaptasi negara lain.

Ada banyak hikmah, makna, hingga hobi baru yang dilakukan setelah warga Australia banyak diam di rumah saat lockdwon, yang kini sudah mulai dilonggarkan.

Mengubah hidup saya

Blair Sun, warga Melbourne kelahiran China, mengaku mengawali tahun 2020 dengan kurang beruntung.

Ia pernah mengalami lockdown di China, setelah mengunjungi keluarganya di sana untuk merayakan Tahun Baru Imlek di bulan Februari lalu.

Setelah kembali ke Australia, ia pun tidak bisa langsung ke rumahnya, karena aturan saat itu melarang siapa pun yang berpergian lewat atau dari China masuk ke Australia.

Ia kemudian dikarantina di negara lain sebelum ke Australia, tapi setelah kembali ke Melbourne, malah kehilangan pekerjaannya sebagai seorang produser media di sebuah perusahaan keuangan.

Namun dengan waktu yang lebih banyak ia miliki, Blair menyibukkan dirinya dengan mengambar dan menjadi vlogger untuk mengurangi stress.

"Semuanya mengubah hidup saya … rasanya seperti kembali ke sekolah lagi dan sedang berlibur panjang," kata Blair yang sekarang sudah menemukan pekerjaan baru di bidang yang sama.

Ketika pasangan dan temah serumahnya masih memiliki pekerjaan saat aturan lockdown diberlakukan, Blair mengatakan ia malah kebagian sibuk sebagai koki di rumah.

"Saya merasa memiliki bakat dan dapat belajar masak dengan cepat melalui internet … Saya merasa ada gunanya," katanya.

Merasa dirantai di meja

Manjusha Manjusha adalah seniman Australia asal India yang kehilangan pekerjaan, seperti banyak orang di Australia yang bekerja di industri kreatif, setelah anjuran diam di rumah diberlakukan.

Banyak pagelaran tarian klasik India yang seharusnya ia lakukan terpaksa dibatalkan. Ia juga harus kehilangan pekerjaannya di Wurundjeri Woi Wurrung, organisasi yang mengurus warisan budaya Aborigin di Melbourne.

Kepada Erwin Renaldi dari ABC ia mengatakan pandemi virus corona telah membuatnya untuk mengatur ulang kembali kehidupannya.

"Saya menyadari ketika saya di tempat kerja, saya merasa seperti dirantai di meja secara terus menerus," kata Manjusha.

Hal itu ia rasakan karena kebanyakan waktunya hanya berada di meja kerja tanpa cukup waktu istirahat.

"Di awal [lockdown], saya merasa semuanya tidak jelas. Tapi kemudian sedikit lebih terpola. Saya jadi bisa melakukan yoga di atas gedung apartemen, membuat secangkir teh, dan mengurus tanaman saya."

"[Lockdown] membuat saya memiliki banyak waktu untuk diri sendiri dan sekitar saya, yang tidak pernah terpikir sebelumnya karena selalu menjalankan hari dengan terburu-buru."

Tak ada jaminan orang akan hidup selamanya

Amin Abbas adalah warga Melbourne kelahiran Palestina yang saat ini sedang sekolah Masters of Business Administration di University of Melbourne.

Kepada ABC ia mengatakan selama lockdown ia semakin menjalin hubungan yang erat dengan orang-orang yang dicintainya, baik di dalam maupun di luar negeri.

"Saya adalah orang yang sangat menghargai hubungan, baik itu persahabatan, keluarga, jadi tanpa interaksi langsung benar-benar membuat hidup saya kosong," kata Amin.

"Tak ada jaminan hidup orang akan hidup selamanya… saya rasa jabatan tangan nantinya akan lebih berarti, begitu juga pelukan, dan ciuman di pipi akan lebih berarti [setelah lockdown]," jelasnya.

Saling mengirim keju

Kirsty Ellem dan Claudine Chionh tinggal di sebuah apartemen kecil di sebelah utara kota Melbourne dan keduanya sama-sama bekerja dari rumah selama masa lockdown.

Kirsty yang bekerja di sebuah lembaga konsultan seni mengatakan kepada ABC jika waktu antara bekerja dan tidak di rumah menjadi hal yang paling menantang.

"Batas-batas antara kerja dan tidak memang selalu tercampur, tapi selama lockdown, makin terasa," kata Kirsty.

Tapi Kirsty merasa perbuatan baik antar tetangga di gedung apartemennya mengurangi tekanan bekerja dari rumah, seperti saling mengirim keju.

"Saling berbagi di saat yang sulit dan penuh ketakutan malah menunjukkan siapa orang-orang yang paling disayangi," kata Kirsty.

Sementara bagi Claudine, yang berasal dari Singapura, masa isolasi di rumah membuatnya belajar bermain gitar elektrik.


Kita pulih dengan cepat

Pasangan Australia asal Sri Lanka, Sanjaya Jayatilake dan Atoshi Perea memiliki salon rambut di kawasan Doncaster East, Melbourne.

Bisnis mereka anjlok selama pekan-pekan awal isolasi diberlakukan dan mereka mengaku tidak berdaya dan sempat takut.

"Pandemi itu sangat menakutkan, tetapi kami berhasil tetap membuka salon," kata Atoshi.

"Kami menawarkan penawaran spesial kepada orang-orang yang kehilangan pekerjaan dan paket pada pelanggan, jadi perlahan pelanggan kami kembali."

Sanjaya mengatakan penawaran-penawaran seperti itu membuat bisnisnya tetap jalan, meski sempat pernah tutup dua minggu di bulan Maret lalu.

"Di saat yang sulit, istri dan anak-anak saya tetap mengobrol dengan pelanggan dan menanyakan kabar mereka secara rutin," katanya.

"Membangun relasi yang baik dengan pelanggan sangat membantu bisnis kami."

Baca dalam Bahasa Mandarin | Baca dalam Bahasa Inggris

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Universitas di Sydney Dikritik Setelah Menghapus Unggahan Twitter Soal China
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
University of New South Wales (UNSW) menerima kritik setelah menghapus unggahan di Twitter yang bern...
Wabah Corona Ditemukan Kembali di Dua Kapal Pesiar Setelah Kembali Beroperasi
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Salah satu industri yang banyak mempekerjakan warga Indonesia di luar negeri adalah industri kapal p...
Kehidupan Warga Indonesia Menjalani Lockdown Lebih Ketat di Melbourne
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kawasan metropolitan Melbourne memberlakukan aturan pembatasan yang lebih ketat untuk menekan angka ...
Separah Apa Penularan di Melbourne Sampai Ada Lockdown Ketat dan Denda Besar?
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Premier Daniel Andrews yang memimpin pemerintahan di negara bagian Victoria telah mengumumkan denda ...
Kekuatan Ledakan di Beirut Setara Dengan Gempa  3,5 SR, Satu WNI Terluka
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Ledakan berkekuatan besar mengguncang pusat kota Beirut yang hingga laporan ini diturunkan telah men...
Sejumlah Warga di Indonesia Berbagi Internet Bagi Murid Tak Mampu Beli Kuota
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Sejumlah guru dan orang tua murid menghadapi kendala saat sedang beradaptasi dengan penerapan metode...
Hanya Makan Bubur dan Bawang Bombay: ABK Indonesia Dilarungkan Lagi Ke Laut
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kasus Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang meninggal dunia di atas kapal berbendera Cina kemudi...
Kaka Belajar Masak: Orangtua Asal Indonesia dengan Anak Autisme Jalani Lockdown di Melbourne
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Aturan pembatasan pergerakan tahap keempat di Melbourne telah mengubah rutinitas anak-anak berkebutu...
Satu WNI Pekerja di Spa Diantara Empat Ribu Orang Terluka Dalam Ledakan di Lebanon
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia telah mengonfirmasi satu warga negara Indonesia menjadi k...
Universitas Terkaya di Australia Membayar Pegawainya di Bawah Standar Gaji
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB
Perguruan tinggi terkaya di Australia, University of Melbourne, diam-diam telah membayarkan kembali ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV