Tumor Otak pada Anak Bukan Berarti Vonis Mati
Elshinta
Kamis, 02 Juli 2020 - 13:31 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Tumor Otak pada Anak Bukan Berarti Vonis Mati
DW.com - Tumor Otak pada Anak Bukan Berarti Vonis Mati

Asosiasi Jerman untuk tumor otak melaporkan, sekitar 25 persen kasus kanker yang didiagnosa pada anak-anak adalah tumor pada otak serta sistem saraf pusat. Mayoritas kasus pada anak berada dalam median usia 6,5 tahun. Kasus pada anak laki-laki lebih sering dibanding anak perempuan.

Gejala umum kanker otak pada anak anak adalah sakit kepala, perasaan mual dan muntah-muntah. Gejala lainnya adalah gangguan visual dan keseimbangan serta koordinasi motorik. Gejala yang muncul juga tergantung dimana lokasi tumornya di dalam otak.

Para dokter biasanya menggunakan magnetic resonance imaging (MRI/MRT), untuk menetapkan dengan tepat lokasinya. Dengan menganalisis citra yang dihasilkan MRT, para dokter bisa lebih tepat menegakkan diagnosisnya. Selain itu juga dilakukan biopsi atau pegambilan sampel jaringan untuk konfirmasi diagnosis.

Sampel jaringan biasanya diperiksa di bawah mikroskop untuk mendiagnosa, apakah jenisnya ganas atau jinak. Tumor ganas akan menyerang sel lainnya dan terus menyebar.

Kehidupan berubah drastis

Jika seorang anak didiagnosa mengidap kanker, yang menderita bukan hanya si anak melainkan seluruh keluarganya. Semua aspek kehidupan berbuah drastis. Fokusnya sekarang menyembuhkan sang anak. Tidak ada lagi suasana tanpa kecemasan untuk menyongsong masa depan.

Rangkaian operasi, kemoterapi, radioterapi, atau gabungan keduanya dan berbagai langkah medis lainnya kini harus dilakoni. Operasi pada otak tergantung lokasi dan ukuran tumornya.

Sebagai kontras dengan organ tubuh lainnya, tidak selalu jelas bagian otak mana yang mempengaruhi fungsi apa? Juga para dokter yang membedah bagian kepala, sering tidak mengetahui secara pasti, bagian mana pada otak dan saraf pusat yang mengatur fungsi tertentu pada tubuh.

Ada beberapa kategori tumor
Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengkategorikan kanker menjadi beberapa jenis. WHO juga mendata, kasus paling banyak kanker otak pada anak adalah astrocytoma yang berkembang relatif lambat. Astrocytoma yang memiliki bentuk seperti bintang, juga memilik beberapa derajat keseriusan kasus.

Jika dokter sukses mengangkat astrocytoma dari otak, anak punya harapan besar untuk sembuh sepenuhnya. WHO mengketegorikan tumor otak ini sebagai tingkat I.

Jenis tumor otak lainnya adalah ependymoma yang masuk tingkat II dan III kategori WHO. Serta jenis tumor otak yang langka, medulloblastoma yang masuk kategori IV WHO atau tumor yang ganas dan menyebar pada otak dan sistem saraf pusat.

“Ependymoma mencakup sekitar 10% kasus tumor otak pada anak. Jenis ini bisa berkembang pada sistem saraf pusat, menyerang otak maupun kanal tulang belakang dan jaringan saraf tulang belakang,“ ujar Kristian Pajtler, spesialis tumor ependymoma pada pusat terapi kanker anak-anak Hopp (KITZ) di Heidelberg, Jerman

“Jenis tumor ini relatif resisten pada kemoterapi. Membuat pengobatan lebih sult dan menjadi tantangan besar buat para dokter“, Pajtler menjelaskan lebih lanjut. Spesialis tumor ependymoma itu juga mengatakan, tumor kadang tumbuh kembali.

“Masalah lainnya, radioterapi opsinya sangat terbatas, hanya bisa diulang sekali atau maksimal dua kali. Setelah itu diikuti kemoterapi. Bagi tubuh anak-anak yang masih ringkih, pengobatan seperti itu sangat berat,“ ungkap Pajtler.

Kasus fatalitas jarang

Pakar tumor otak pada anak-anak, Kristian Pajtler juga menjelaskan, diagnosa tumor otak tidak harus ditanggapi seperti vonis hukuman mati. Ia mengatakan, kasus fatalitas relatif jarang. Jika dokter berhasil mengangkat tumornya, peluang anak untuk selamat sekitar 75%. Sementara pada tumor agresif, peluangnya menurun pada kisaran 40%.

“Kami mencoba mengembangkan berbagai opsi untuk pengobatan, dan berkonsultasi dengan para dokter ahli bedah saraf dan ahli radioterapi. Tapi sekitar 90% pasien di onkologi anak-anak mendapat pengobatan standar“, kata Pajtler menjelaskan.

Namun kadang tindak operasi menjadi sangat sulit, jika tumor berlokasi pada bagian penting otak. Dokter bedah otak harus sangat hati-hati dan menimbang dengan cermat risiko kerusakan saraf dengan pilihan menyelamatkan nyawa anak.

Anak-anak pra sekolah yang menjalani operasi tumor otak, juga harus menghadapi risiko defisiensi kongnisi saraf, yang membuat mereka lebih lambat atau mengalami kesulitan belajar dibanding anak normal. Ini bisa menjadi beban tambahan di sekolah buat anak-anak yang pernah mengidap kanker otak.

Pajtler juga memperingatkan kemungkinan ependymoma muncul lagi, pada beberapa kasus peluangnya cukup signifikan. Karena itu para dokter selalu berusaha mengangkat semua tumor tanpa ada sisa sedikit pun. Selain itu disarankan, agar diagnosa, tindak operasi serta terapi penyembuhan dilakukan di satu institut yang sama, untuk menjamin semua proses berlangsung cepat, efetif, dan terkoordinir.

(Ed: as/rap)



Tumor otak jadi jenis kanker kedua setelah leukemia, yang paling sering menyerang anak-anak. Anak yang didiagnosa dengan kanker otak harus jalani terapi intensif dan panjang untuk bisa sembuh.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rusia Segera Gelar Peradilan Pertama Pelaku Sunat Perempuan Setelah Lockdown
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:35 WIB
"Empat orang yang tidak dikenal memegangi tangan dan kakinya di kursi pemeriksaan ginekologi,&q...
Langgar Karantina Covid-19, Perempuan Austria Dihukum Penjara dan Denda Uang
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:35 WIB
Pengadilan negeri di kota Klagenfurt, Austria, pada hari Rabu (22/07) menjatuhkan hukuman percobaan ...
Oxford University: Produksi Vaksin Corona Mungkin Bisa Dimulai Akhir Tahun Ini
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:35 WIB
"Targetnya, peluncuran vaksin bisa dilakukan akhir tahun ini - itu suatu kemungkinan, tetapi sa...
Menteri Pertahanan Jerman: Penarikan Pasukan AS Mengkhawatirkan untuk Aliansi NATO
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:35 WIB
Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer berpendapat bahwa ancaman Amerika Serikat (AS) ...
Banyak Pekerja Jerman Lebih Senang Home Office dan Tidak Ingin Kembali ke Kantor
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Lebih sedikit stres, lebih banyak waktu untuk keluarga, bahkan lebih produktif, kata mayoritas peker...
Kenapa Israel Urung Duduki Tepi Barat? 
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Perhatian dunia terpaku ke arah Tepi Barat Yordan pada 1 Juli silam, ketika Israel sejatinya akan me...
Krisis Keuangan Runtuhkan Sistem Rumah Sakit di Libanon, Salah Satu  yang Terbaik di Timur tengah 

 
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Rumah-rumah sakit di Libanon berjuang untuk bisa tetap membayar para pegawai, dan membayar biaya pe...
Misteri Virus Corona, Menyebar Super Cepat Diam-diam Tanpa Gejala
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Hanya dalam waktu tiga bulan setelah pemerintah Cina mengumumkan wabah pneumonia misterius di Wuhan,...
Studi: Amerika Utara Kemungkinan Telah Dihuni Manusia Sejak 26.500 Tahun Lalu
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Rabu (22/07) mengungkap bahwa Amerika Utara kemungkinan tela...
Nusantara Institute: Penghayat Sunda Wiwitan
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kuningan baru-baru ini dilaporkan menyegel bangunan...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV