Ijab Kabul yang Menegangkan: Pasangan Indonesia-Australia Nikah Lewat Zoom
Elshinta
Kamis, 02 Juli 2020 - 13:31 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ijab Kabul yang Menegangkan: Pasangan Indonesia-Australia Nikah Lewat Zoom
ABC.net.au - Ijab Kabul yang Menegangkan: Pasangan Indonesia-Australia Nikah Lewat Zoom

Pandemi virus corona tidak menghalangi rencana pernikahan pria Australia dan gadis Jawa Timur yang melangsungkan pernikahan mereka melalui aplikasi Zoom.

Max Walden dan Shaffira Gayatri terpisah ribuan kilometer jaraknya antara Sydney dan Surabaya.

Namun, keduanya memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan mereka sesuai dengan tanggal yang sudah direncanakan meski konsepnya harus berubah.

Max yang berprofesi sebagai jurnalis ABC News dan Fira, panggilan akrab Shaffira, sudah merencanakan pernikahan mereka sejak akhir tahun 2019 dan memilih tanggal 20 Juni 2020.

Saat virus corona mulai merebak, Max dan Fira, mulai berpikir realistis tentang rencana pernikahan mereka dan sempat berniat menangguhkannya sampai awal tahun depan.

Tetapi mendekati tanggal 20 Juni, keduanya kembali mendiskusikan kembali rencana pernikahan mereka.

"Saya memang agak galau. Apalagi … 20 Juni bertepatan dengan World Refugee Day dan saya sampaikan ke Max bahwa sebenarnya ini adalah momentum yang pas untuk kami menikah," kata Fira.

Fira dan Max memang sama-sama menaruh perhatian, minat, dan memiliki pengalaman pada isu-isu pengungsi.

Akhirnya sehari sebelum 20 Juni, setelah meminta pendapat dari beberapa ulama soal mekanisme pernikahan jarak jauh, Max dan Fira memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan mereka.

Max semakin yakin dengan keputusannya setelah ia ingat Presiden ke-4 Indonesia, KH Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, juga melangsungkan akad nikah lewat sambungan telepon.

Menurut Fira, pernikahan mereka hanya dilakukan secara agama karena keterbatasan waktu untuk mengurus berbagai dokumen di masa pandemi.

"Baik keluarga saya maupun Max sangat supportive saat kami menyampaikan keputusan kami untuk menikah online. Enggak ada masalah sama sekali, keluarga kami senang."

"Semua persiapan dilakukan satu hari sebelumnya. Ditemani adik saya, kami membeli make-up, bunga untuk dekorasi, dan memilih baju yang akan dikenakan pada hari pernikahan," tutur Fira.

Kekhawatiran terbesar menikah di Zoom

Sabtu, 20 Juni 2020 lalu, Ijab Kabul keduanya dilakukan lewat Zoom dengan dihadiri keluarga dekat di rumah mereka masing-masing di Sydney dan di Surabaya, serta disaksikan oleh teman dan kerabat.

"Ijab Kabul tentu saja menjadi momentum yang sangat menegangkan, karena di Indonesia sangat penting untuk mengucapkannya dalam satu tarikan nafas," tutur Max.

"[Tapi] menurut mereka yang menyaksikan prosesi tersebut, saya sudah melakukannya dengan baik."

Sementara Fira memiliki kekhawatiran besar lain dengan prosesi Ijab Kabul lewat Zoom.

"Saya khawatir ada gangguan koneksi internet. Bagaimana kalau hang atau terputus koneksinya di tengah-tengah prosesi?" kata Fira menceritakan kegelisahan terbesarnya saat itu.

Apalagi, koneksi internet di rumah Fira memang sempat terputus sekitar setengah jam lamanya sebelum acara dimulai.

Tapi segala kekhawatiran mereka tidak terjadi.

Rangkaian akad nikah jarak jauh berjalan lancar dengan disambut suka cita oleh keluarga dan sahabat yang menontonnya.

"Max dan Shaffira menemukan cara untuk bisa bersama dan merayakan bersatunya mereka pada hari yang telah mereka rencanakan, melawan rintangan, meskipun faktanya mereka dalam keadaan terkunci dan terpisah 5.000 kilometer di negara masing-masing karena pandemi," kata Inara Walden, Ibu dari Max.

Selain Inara, yang juga tak kalah berbahagia adalah Civita Patriana, sahabat karib Fira yang juga mengikuti akad nikah lewat Zoom.

"Saat Fira memberitahu saya kalau dia akan tetap menikah, nada suaranya seperti dia habis menang undian satu milyar," kata Vita, panggilan akrab Civita, setengah tergelak.

"Tapi saat mengikuti di zoom, saya sangat bahagia bercampur haru, sampai menangis juga. Memikirkan mereka berjauhan dan enggak bisa langsung bersama-sama," tambahnya.

Sudah terlihat serasi sejak awal bertemu

Vita adalah sosok yang cukup berperan di balik relasi Max dan Fira.

Saat pertama kali Fira dan Max bertemu di tahun 2017, Vita juga ada di sana dan sudah bisa melihat keduanya memiliki kecocokan.

"Saya kemudian berpikir untuk mempertemukan mereka lagi. Jadi saya … mengajak Max menjadi salah satu Pagar Bagus di pernikahan saya," tutur Vita yang sudah 11 tahun bersahabat dengan Fira.

Di pernikahan Vita, Max dan Fira kembali berjumpa dan dari sana komunikasi keduanya terus terjalin.

Sebagai seorang sahabat yang mengenal karakter baik Fira maupun Max, Vita menilai, perbedaan karakter keduanya justru saling melengkapi.

"Miripnya kalau di antara mereka berdua sebenernya cuma soal isu yang mereka geluti. Mereka punya kepedulian yang sama soal isu pengungsi."

"Di luar itu [karakter] mereka beda banget. Tapi justru karena itu menurutku mereka klik karena bisa memberi perspektif yang beda bagi satu sama lain," ujar Vita.

Mengatasi rintangan budaya

Selain perbedaan karakter, Max dan Fira juga memiliki latar belakang budaya yang berbeda dan seringkali mengundang pertanyaan.

Tapi Max mengaku jika perbedaan budaya di antara kedua keluarga tidak terlalu menjadi masalah baginya dan Fira.

"Saya pikir semua relasi adalah tentang kompromi dan upaya untuk mengenal pasangan dengan apa adanya, bahkan ketika tidak ada perbedaan budaya," ucap Max.

Max menambahkan, baik Fira atau dirinya juga punya pengalaman yang membantu mereka mengatasi rintangan budaya.

"Fira menempuh studi masternya di Inggris dan saya telah menghabiskan banyak waktu di Indonesia, jadi kami berdua lumayan punya pemahaman tentang latar belakang budaya yang berbeda," kata Max yang saat berkomunikasi dengan Fira menggunakan Bahasa Indonesia dan Inggris.

Ibu Max, Inara Walden juga tidak menganggap perbedaan budaya sebagai rintangan.

Malah ia mengaku memiliki menantu orang Indonesia dan Muslim justru memperkaya pengetahuannya soal budaya.

"Saya sudah mencintai Indonesia dan merasa sangat tersanjung karena sekarang ada bagian dari keluarga kami di Indonesia, ini sangat istimewa," tutur Inara.

"Saya mulai belajar Bahasa Indonesia supaya bisa belajar lebih banyak lagi tentang budaya dan cara hidup [Indonesia], dan supaya bisa mengenal keluarga Shaffira dengan lebih baik lagi."

Sementara bagi keluarga Fira, kehadiran Max juga langsung disambut baik meskipun datang dari latar belakang budaya yang berbeda.

Apalagi Max sudah mempelajari soal Islam dan menjadi Muslim sebelum bertemu dengan orangtua Fira untuk pertama kalinya pada Juli 2019.

"Untuk keluarga Shaffira, komitmen saya pada Islam sangat penting," ucap Max.

Fira mengaku jika Max bisa langsung akrab tidak hanya dengan orangtua dan saudara kandungnya, tapi juga dengan keluarga besarnya saat diperkenalkan.

Punya energi yang tidak dimiliki pasangan lain

Setelah melewati satu tahap pernikahan yang dilakukan online, masih banyak yang menanti Max dan Fira di depan.

Salah satunya adalah menggelar pesta pernikahan seperti yang direncanakan semula, yakni di Surabaya dan mungkin di Sydney tahun depan, tergantung perkembangan kondisi pandemi virus corona.

Tapi yang paling ingin segera mereka lakukan saat ini adalah dapat segera berjumpa.

"Karena kami belum bisa bertemu selama enam bulan ini, saya benar-benar menantikan Shaffira datang ke Melbourne," kata Max.

Rencana itu pun tetap akan menghadapi tantangan baru karena akan ada banyak dokumen yang diurus oleh pasangan beda kewarganegaraan ini untuk mencatatkan pernikahannya.

"Ada masalah beda budaya, paper [dokumen], paper fee [biaya dokumen], travel restrictions [larangan berpergian], dan itu pasti menguras energi. Tapi saya yakin mereka bisa menghadapinya," kata Vita.

"Mereka berdua punya energi yang enggak dimiliki pasangan lain, gabungan dari love, passion, and madness. Gunakan energi itu untuk mengatasi tantangan-tantangan di depan," pesan Vita kepada sahabatnya.

Selamat menempuh hidup baru untuk Max dan Fira!

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Seberapa Membantu Tunjangan Uang dari Pemerintah Australia Bagi Warga Indonesia?
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pemerintah Australia memberikan tunjangan uang bagi permanent resident (PR) dan warganegara Australi...
Kematian Karena Flu Biasa di Australia Turun Tajam Karena Social Distancing
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Salah satu hal yang positif dari penerapan aturan pembatasan aturan jarak antara warga, atau social ...
Pria Australia Lari Keliling Bali Untuk Membantu Warga Bali yang Kesulitan
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Seharusnya Jamin Heppell, seorang warga Australia, bisa saja melewati hari-harinya dengan mudah saat...
Pendekatan Baru Indonesia Untuk Menangani COVID-19, Seberapa Efektif?
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pekan lalu, Indonesia menggunakan pendekatan baru dalam penanganan pandemi virus corona di Indonesia...
Warga Melbourne Akan Diberi Rp3 Juta Kalau Diam di Rumah Setelah Tes Corona
Jumat, 24 Juli 2020 - 01:34 WIB
Pemerintah negara bagian Victoria mengumumkan akan memberikan tunjangan uang senilai AU$300, atau le...
Sejumlah Penjaga Karantina COVID-19 Di Melbourne Direkrut Lewat WhatsApp
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Sejumlah penjaga keamanan yang ditugaskan untuk menjaga hotel-hotel di Melbourne tempat karantina wa...
Pasukan Khusus Australia Bentangkan Simbol Rasis di Afghanistan
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Anggota pasukan khusus Australia (SAS) berpose dan merekam aksinya sendiri membentangkan sebuah Bend...
KDRT Meningkat di Asia Akibat Lockdown COVID-19, Termasuk di Indonesia
Kamis, 23 Juli 2020 - 07:12 WIB
Aturan pembatasan pergerakan warga, atau lockdown, selama pandemi COVID-19 telah menyebabkan meningk...
Reynold Poernomo Gagal Ke Final MasterChef Australia 2020
Rabu, 22 Juli 2020 - 00:30 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Harapan Reynold Poernomo, peserta yang difavoritkan banyak...
Kasus Corona di Melbourne Masih Tinggi, Masker Wajib Pakai dengan Denda Rp2 juta
Rabu, 22 Juli 2020 - 00:30 WIB
Negara bagian Victoria, dengan ibukota Melbourne memiliki hampir 3.000 kasus aktif virus corona, den...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV