Obat virus corona: AS borong pasokan obat remdesivir, anggota DPR sebut 'harganya keterlaluan'
Elshinta
Kamis, 02 Juli 2020 - 13:30 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Obat virus corona: AS borong pasokan obat remdesivir, anggota DPR sebut 'harganya keterlaluan'
BBC - Obat virus corona: AS borong pasokan obat remdesivir, anggota DPR sebut 'harganya keterlaluan'
remdesivir Hak atas foto Reuters

Pemerintah Amerika Serikat telah memborong hampir semua pasokan obat remdesivir untuk khalayak dunia.

Oleh pihak berwenang di AS, obat produksi Gilead Sciences itu merupakan obat pertama yang diperbolehkan untuk dipakai merawat pasien Covid-19.

"Presiden Trump telah membuat kesepakatan menakjubkan guna memastikan warga Amerika punya akses pada obat pertama yang diotorisasi untuk Covid-19," kata Menteri Kesehatan AS, Alex Azar, dalam laman resmi Depkes AS.

Disebutkan laman tersebut bahwa Depkes AS telah mengamankan 500.000 paket obat remdesivir untuk berbagai rumah sakit di AS sampai September mendatang.

Jumlah itu mencakup 100% produksi Gilead pada Juli, 90% produksi pada Agustus, dan 90% produksi pada September.

Sebagai gambaran, satu paket obat remdesivir rata-rata meliputi 6,25 ampul.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Uji klinis baru-baru ini menunjukkan remdesivir membantu mempersingkat waktu pemulihan bagi orang yang sakit parah.

'Harganya keterlaluan'

Gilead Sciences mengumumkan harga remdesivir, pada Senin (29/06).

Untuk negara-negara kaya, satu paket obat tersebut dibanderol US$2.340 atau hampir Rp39 juta.

Bagi pasien di AS yang menggunakan asuransi komersial, Gilead menghargai US$3.120 per paket atau sekitar Rp45 juta. Itu artinya satu ampul dibanderol US$520 alias Rp7,5 juta.

Dalam surat terbukanya, Direktur Eksekutif Gilead, Daniel O'Day, mengatakan harga tersebut jauh di bawah manfaat yang diberikan remdesivir mengingat seorang pasien dapat memperpendek rawat inap di rumah sakit AS sehingga bisa menghemat US$12.000 atau Rp173,6 juta.

Akan tetapi, sebagian kalangan berkeras bahwa biaya remdesivir seharusnya bisa lebih rendah karena obat itu dikembangkan dengan sokongan keuangan dari pemerintah AS.

Lloyd Dogget, anggota DPR AS dari fraksi Demokrat yang mewakili Negara Bagian Texas, mengatakan "harganya keterlaluan untuk obat yang sangat sederhana dan yang diselamatkan dari tumpukan kegagalan dengan menggunakan pendanaan dari uang rakyat."

Kegagalan yang dimaksud Dogget adalah remdesivir tidak mampu mengobati pasien Ebola.

'Harga dan akses yang adil'

Seorang ilmuwan terkemuka Inggris mengatakan "kerangka kerja yang lebih kuat" harus dibuat demi memastikan harga dan akses yang adil pada obat-obatan ketika darurat nasional terjadi.

Prof Peter Horby dari Universitas Oxford mengatakan kepada BBC bahwa kurang lebih "sudah diperkirakan" Gilead, yang merupakan perusahaan asal AS, akan menghadapi "tekanan politik tertentu di ranah lokal".

"Ini memunculkan dua pertanyaan penting: berapa harga yang adil untuk obat dan seperti apa akses yang adil untuk obat? Itu adalah topik yang umum tapi sangat penting dalam krisis global seperti sekarang."

Pertanyaan juga muncul jika vaksin Covid-19 ditemukan.

"Perusahaan-perusahaan komersial dibentuk untuk bersikap seperti ini dan kita perlu kerangka kerja yang lebih kuat jika ingin mengembangkan hal seperti ini yang digunakan untuk darurat nasional."

Hak atas foto EPA
Image caption Depkes AS telah mengamankan 500.000 paket obat remdesivir untuk berbagai rumah sakit di AS sampai September mendatang. Jumlah itu mencakup 100% produksi Gilead pada Juli, 90% produksi pada Agustus, dan 90% produksi pada September.

Korsel distribusikan remdesivir

Walau AS telah memborong remdesivir, Korea Selatan dilaporkan mampu memperoleh obat tersebut dan mulai membagikannya kepada rumah sakit.

Pasokan obat remdesivir yang diperoleh Korsel adalah hasil sumbangan Gilead Sciences. Korsel pun tengah merundingkan pembelian obat tersebut dengan Gilead, kata Pusat Pengendalian Penyakit Korea sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

"Pasien yang dapat diberikan remdesivir terbatas pada pasien kasus berat dengan pneumonia dan memerlukan terapi oksigen," sebut lembaga itu.

Sebelumnya, regulator Inggris mengatakan ada cukup bukti untuk menyetujui penggunaannya pada pasien Covid-19.

Data awal menunjukkan obat itu dapat mengurangi waktu pemulihan sekitar empat hari, tetapi belum ada bukti bahwa obat itu akan menyelamatkan lebih banyak nyawa.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV