Pesantren: Ponpes di Jawa Timur dibuka dengan 'tidur dibuat berjarak dan isolasi santri', tetapi potensi risiko penularan Covid-19 'besar'
Elshinta
Rabu, 17 Juni 2020 - 06:04 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pesantren: Ponpes di Jawa Timur dibuka dengan 'tidur dibuat berjarak dan isolasi santri', tetapi potensi risiko penularan Covid-19 'besar'
BBC - Pesantren: Ponpes di Jawa Timur dibuka dengan 'tidur dibuat berjarak dan isolasi santri', tetapi potensi risiko penularan Covid-19 'besar'
PESANTREN Hak atas foto ANTARA FOTO

Pesantren-pesantren di Jawa Timur sudah diizinkan beraktivitas kembali mulai Senin (15/06), meski jumlah kasus positif Covid-19 di provinsi itu terus meningkat.

Ikatan Dokter Anak Indonesia mengatakan para santri yang kembali ke pesantren lebih berisiko tertular dari murid sekolah biasa.

Pemerintah Provinsi Jatim sendiri mengatakan dimulainya kembali aktivitas di pesantren harus dilakukan secara hati-hati.

Sementara itu, kegiatan belajar dengan tatap muka langsung di sekolah umum hanya boleh digelar di daerah berstatus zona hijau mulai Juli nanti secara bertahap, menurut keterangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Petugas melakukan rapid test COVID-19 terhadap santri di Ponpes Sunan Gunung Jati, Ngunut, Tulungagung, Kamis (11/06). Rapid test diberlakukan terhadap ratusan santri dari luar daerah yang mulai berdatangan ke sejumlah pondok pesantren di Tulungagung guna mencegah penularan COVID-19

'Waktu isolasi'

Mulai Senin (15/06), para santri di Jawa Timur sudah dapat kembali ke pondok pesantren masing-masing secara bertahap, menurut keterangan resmi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pelonggaran itu berlaku ketika jumlah kasus positif Covid-19 di Jawa Timur terus meningkat hingga mencapai lebih dari 8.000, atau tertinggi kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta (data 15/06).

Pondok Pesantren Lirboyo, di Kediri, yang menampung sekitar 28.000 santri, misalnya, akan mulai mendatangkan sekitar 2.500 santrinya pada 20 Juni mendatang, ujar Abdul Muid, pengurus pesantren itu.

Pada tahap pertama, yang diizinkan kembali masuk pesantren adalah para santri dari sekitar Kediri, seperti Nganjuk, Blitar, dan Trenggalek.

Hak atas foto https://kkp.go.id/
Image caption Gambar ilustrasi: Cara makan bersama yang lazim ditemui di sejumlah pondok pesantren.

Abdul Muid, yang akrab disapa Gus Muid, mengatakan para santri itu sudah diminta melakukan isolasi di rumah dan akan diisolasi lagi selama dua minggu di asrama khusus di pesantren.

"Sebenarnya, kalau di pondok pesantren ini, kalau orang dulu bilangnya pesanten itu 'penjara suci' karena mereka nggak bisa ke mana-mana sepanjang tahun. Kita isolasi, agar mereka konsentrasi dengan belajarnya," ujar Gus Muid.

"Kebiasaan seperti ini sangat aman untuk menjaga dari tertular virus. Ya makanya yang paling penting screening awalnya ini."

Ia merujuk pada pengecekan kesehatan para santri yang kembali ke pondok pesantren, yang akan dilakukan pihaknya dengan bekerja sama dengan TNI dan Polri.

"Kemungkinan rapid test," ujarnya.

Ke depannya, ia mengatakan, para santri akan dibiasakan menuruti protokol pencegahan penularan Covid-19, seperti melakukan jaga jarak dan rajin cuci tangan. Isi kelas juga akan dikurangi hingga setengahnya, kata Gus Muid.

Hak atas foto ANTARA FOTO
Image caption Santri pesantren Mahyal Ulum Al Aziziyah, Sibreh antre mengikuti rapid test COVID-19 setelah libur panjang di Aceh Besar, Aceh, Kamis (11/06).

'Pendidikan Jarak Jauh belum efektif'

Pengasuh Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Reza, mengatakan cara tidur para santri di pesantren juga akan disesuaikan dengan protokol pencegahan Covid-19.

"Yang biasanya satu kamar dengan ukuran 5 meter x 7 meter itu diisi sampai 20 orang, untuk saat ini saat pandemi kita atur sedemikian rupa. Jarak tidur diatur antara 1- 1,5 meter, kita ikuti kapasitasnya kita sesuaikan," ujar Reza.

Reza mengatakan pendidikan di pesantren penting dimulai dahulu karena sistem pendidikan jarak jauh belum efektif.

Salah satu hambatannya, kata Reza, adalah terbatasnya jaringan internet di sejumlah tempat.

'Risiko lebih besar'

Meski protokol pencegahan disebut sudah disiapkan, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dokter Aman Bhakti Pulungan, mengatakan masih ada risiko penularan Covid-19 yang dihadapi para santri.

Hak atas foto AJI STYAWAN/ANTARA FOTO
Image caption Petugas memeriksa suhu tubuh santriwati dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Jatim, menggunakan 'thermo gun' di dalam bus saat tiba di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, (12/04).

Para santri, kata Aman, lebih berisiko tertular Covid-19 dibandingkan anak sekolah pada umumnya.

"Potensi risikonya lebih banyak lagi untuk mereka saling menularkan. Apalagi kalau 24 jam mereka bareng, sekamar semua, dan sebelum masuk tidak di tes PCR semua," ujarnya.

"Kalau mereka saling menularkan, gurunya, kiainya bisa ketularan," kata Aman.

Menurutnya, saat ini baik pesantren maupun sekolah belum siap untuk dibuka.

Aman mengatakan sebelum memutuskan untuk memanggil para siswa kembali, pesantren atau sekolah harus melakukan pelatihan penerapan protokol pencegahan Covid-19.

Hak atas foto AJI STYAWAN/ANTARA FOTO
Image caption Petugas memeriksa suhu tubuh santriwati dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Jatim, menggunakan 'thermo gun' di dalam bus saat tiba di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, (12/04).

Dinas Kesehatan setempat kemudian harus menilai kesiapan pesantren terkait dan memutuskan apakah institusi itu sudah siap melakukan kegiatan belajar mengajar.

Ia menambahkan harus dipastikan juga fasilitas di pesantren itu, seperti kamar mandi, kamar tidur, ruang bersama, mendukung penerapan protokol pencegahan Covid-19.

Hal senada dikatakan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti.

"Kalau belum siap infrastruktur, buka tunda sekolah atau pesantren," ujarnya.

'Harus hati-hati'

Sementara itu, dalam keterangan resminya, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan proses kembalinya santri ke pondok pesantren harus dilakukan secara hati-hati dengan menjadikan kaidah keselamatan sebagai prinsip utama.

Ia menambahkan pondok pesantren juga diperkenankan menyusun protokol kesehatan sesuai dengan kondisi masing-masing, tapi harus sesuai standar yang dikeluarkan pemerintah pusat.

Hak atas foto Oky Lukmansyah/Antara foto
Image caption Petugas medis melakukan penyemprotan disinfektan kepada santri yang tiba di Terminal Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, (12/04).

Pada akhir April lalu, Malaysia mengumumkan puluhan santrinya yang berada di Al-Fatah Temboro, Magetan, Jawa Timur, positf terkena Covid-19.

Pesantren ini memiliki 22.000 santri dari 13 negara.

Kasus di pesantren itu sejauh ini merupakan kasus Covid-19 pertama pada santri dari sekitar 18 juta santri di berbagai pesantren Indonesia.

Selain di Jawa Timur, Jawa Barat juga telah mempersiapkan kembalinya para santri ke pondok pesantren.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengatakan pembukaan akan dilakukan di zona hijau atau biru.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)