Australia Utara Bergantung Pada Migran Asing Untuk Menambah Penduduknya
Elshinta
Jumat, 12 Juni 2020 - 05:57 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Australia Utara Bergantung Pada Migran Asing Untuk Menambah Penduduknya
ABC.net.au - Australia Utara Bergantung Pada Migran Asing Untuk Menambah Penduduknya

Karena iklim Darwin yang hangat, keramahan warganya, serta tanahnya yang subur untuk menanam buah dan sayuran, Myu Keav Ma berasa di tanah kelahirannya sendiri, yakni Kamboja.

Keluarga Ma melarikan diri dari Kamboja di tahun 1980-an menyelamatkan diri dari rejim Khmer Merah, dan sekarang tinggal di Kawasan Australia Utara atau Northern Territory (NT)

"Saya suka dengan atmosfer Darwin, budaya, percampuran budaya, dan juga cuacanya yang pas," katanya.

Keluarga Muy sekarang berusaha membujuk warga lain untuk pindah ke NT, dengan membangun sebuah kuil Budha di kebun mangga milik mereka di kota Humpty Doo, sekitar 37 km dari Darwin.

"Rencana kami adalah membuat Taman Budha bagi seluruh komunitas, bagi seluruh warga Darwin untuk dinikmati besama, untuk berdoa, juga bagi warga dari negara bagian lain," kata Ma.

Pakar demografi mengatakan keluarga migran seperti Ma bisa membantu mengatasi masalah kependudukan yang dialami NT.

Berbeda dengan kota-kota lain di Australia, seperti Sydney, Brisbane dan Melbourne, jumlah penduduk Darwin berkurang sebanyak -0,8 persen pada tahun 2018-2019.

Jumlah penduduk NT sekarang ini adalah 228.833 orang, hanya separuh dari jumlah penduduk negara bagian Tasmania, padahal luas wilayahnya 20 kali lebih besar dari Tasmania.

Sama seperti negara bagian Alaska di Amerika Serikat dan daerah-daerah lain yang terisolasi namun memiliki lahan luas, NT sudah lama kesulitan menarik warga untuk tinggal lama di sana guna membangun perekonomian.

Ditambah kecenderungan dunia saat ini adalah semakin banyak warga yang pindah ke kota yang lebih besar dengan alasan mencari pekerjaan atau faktor keluarga.

Pakar demografi dari Charles Darwin University, Dr Andrew Taylor mengatakan NT sekarang ini sedang melewati masa pertumbuhan penduduk yang rendah, disebabkan penduduk yang pindah lebih banyak dari yang datang.

"Kita harus menerima bahwa kenyataan ini."

Cuaca yang menjadi salah satu daya tarik

22 Agustus mendatang akan berlangsung pemilihan umum di NT dan banyak warga yang ingin mengetahui kebijakan partai besar berkenaan dengan pertumbuhan penduduk setelah pandemi COVID-19.

Untuk mengatasi masalah pertumbuhan penduduk, pemerintahan NT sudah meluncurkan strategi di tahun 2018 yang menghabiskan dana sekitar Rp500 miliar.

Targetnya adalah pertumbuhan penduduk yang selama ini sekitar 0,6 persen bisa naik menjadi 1,4 persen dalam waktu 10 tahun.

Namun kampanye Boundless Possible, yang mencoba menjual NT agar menarik kelompok warga baru, seperti perempuan muda yang baru memulai karir mereka, sejauh ini tidak terlalu berhasil.

'Boundless Possible' population campaign launch Video: 'Boundless Possible' population campaign launch (ABC News)

Baru ada sekitar 300 orang menyatakan tertarik dengan program yang memberikan bantuan dana Welcome to the Territory dan hanya 147 orang yang benar-benar pindah setelah kampanye diluncurkan.

Bahkan ketika ada proyek pengilangan gas Inpex yang bernilai miliaran dolar di Darwin, Dr Taylor mengatakan NT masih kehilangan warga yang pindah ke negara bagian lain.

"Warga yang lahir di luar negeri semakin menjadi hal faktor utama bagi pertumbuhan penduduk di sini," kata Dr Taylor.

"Mereka yang mempertahankan jumlah penduduk dan mencegah penurunan yang tajam."

Komunitas India, Nepal dan Filipina adalah beberapa komunitas yang semakin banyak di sini dan Dr Taylor mengatakan mereka bisa mencegah semakin berkurangnya penduduk.

Dr Taylor melihat komunitas tersebut yang paling mungkin bertahan lama.

"Kami menyarankan agar mereka jadi fokus perhatian pemerintah dalam masalah kependudukan," katanya.

"Ada banyak kesamaan di antara warga dari negara-negara tersebut."

"Faktor cuaca yang hampir sama dengan negara asal membuat mereka merasa seperti di tanah kelahiran sendiri."

Itulah yang dirasakan oleh Divya Dobariya yang lahir di India, dan mengatakan sekarang senang bisa tinggal di NT.

Staf perpustakaan universitas tersebut pindah ke Sydney dari India, kemudian pindah lagi ke Darwin dua tahun lalu bersama suami dan keluarganya.

"Kami suka di sini karena jumlah penduduknya sedikit dan juga dari berbagai budaya berbeda," kata Dobariya.

"Kami mau membesarkan keluarga kami di sini."

Pendidikan adalah hal yang penting

Kesempatan kerja juga menjadi salah satu alasan mengapa pasangan keluarga asal Nepal, yakni Himalal Gaire dan Naina Pandey pindah ke Darwin dari Sydney.

Himalal Gaire ingin bekerja sebagai pembuat roti di pasar yang belum banyak toko penjual roti.

"Saya senang di sini," kata Gaire.

Pasangan ini belum pernah melihat kampanye apapun yang dilakukan NT untuk menarik warga untuk pindah.

Tetapi mereka mengatakan sistem pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak mereka akan membuat mereka tinggal di sana lebih lama.

"Penitipan anak yang lebih baik, sekolah yang lebih baik, kerjaan dan rumah yang harganya terjangkau," kata Gaire.

"Kebanyakan kami adalah migran muda, kami punya anak-anak yang masih kecil."

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Sari Bui Asal Jakarta Pernah Alami Anxiety, Kini Ia Ingin Menolong Orang Lain
Kamis, 13 Agustus 2020 - 15:20 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Sari Bui, warga Indonesia di Melbourne masih ingat saat ia...
Banyak Orang Masuk Kerja Padahal Sakit: Kasus COVID-19 di Victoria Kian Meningkat
Kamis, 13 Agustus 2020 - 15:19 WIB
Menteri Utama negara bagian Victoria, Australia, Premier Daniel Andrews menyatakan hingga saat ini m...
Eko Ariyanto Sudah Donor Darah 100 Kali di Australia, Rutin Dua Minggu Sekali
Kamis, 13 Agustus 2020 - 15:19 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaApa salah satu kebiasaan yang anda lakukan? Eko Ariyanto, s...
Pelajaran Untuk Kota Lain: Melbourne Dua Kali Lockdown, Penularan Masih Tinggi
Kamis, 13 Agustus 2020 - 15:19 WIB
Sudah tiga pekan lockdown diberlakukan di kawasan metropolitan Melbourne dan Mitchell Shire, yang ki...
Influencer Mesir Dipenjara Dua Tahun Dengan Tuduhan Tidak Bermoral
Kamis, 13 Agustus 2020 - 14:57 WIB
Pengadilan di Mesir menjatuhkan hukuman penjara masing-masing dua tahun bagi dua media sosial influe...
Video Sejumlah Warga Australia Menolak Pakai Masker Jadi Viral di Media Sosial
Kamis, 13 Agustus 2020 - 14:57 WIB
Meningkatnya angka penularan virus corona di Australia mendorong pemerintahnya untuk memperketat atu...
Seberapa Aman Pesta Pernikahan di Indonesia Saat Penularan Corona Masih Tinggi?
Kamis, 13 Agustus 2020 - 14:57 WIB
Pelonggaran aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah di Indonesia telah me...
Bali Dibuka Kembali Untuk Turis Lokal Sebentar Lagi, Bagaimana Persiapannya?
Kamis, 13 Agustus 2020 - 14:56 WIB
Akhir pekan ini, perhatian pariwisata Indonesia akan ditujukan ke salah satu destinasi utama berlibu...
Nasib Mahasiswa Indonesia yang Batal ke Australia Karena Pandemi COVID-19
Kamis, 13 Agustus 2020 - 14:56 WIB
Masih ditutupnya perbatasan Australia bagi warga negara asing telah menahan langkah mahasiswa baru a...
Australia Tolak Desakan Amerika Serikat Untuk Lebih Tegas Menentang China
Kamis, 13 Agustus 2020 - 14:55 WIB
Australia menolak desakan Amerika Serikat untuk lebih tegas menentang China dengan memperbanyak oper...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)