Polisi New South Wales Selidiki Anggotanya yang Menendang Remaja Aborigin
Elshinta
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Polisi New South Wales Selidiki Anggotanya yang Menendang Remaja Aborigin
ABC.net.au - Polisi New South Wales Selidiki Anggotanya yang Menendang Remaja Aborigin

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Kepolisian New South Wales yang bermarkas di Sydney sedang menyelidiki salah satu anggotanya yang terlihat dalam rekaman video menendang seorang remaja Aborigin dan menjatuhkannya ke tanah.

Dalam video yang beredar di jejaring sosial Senin malam (1/06), terlihat ada tiga petugas polisi yang berbicara dengan sekelompok remaja Aborigin di kawasan Surry Hills.

Seorang remaja pria berusia 17 tahun, yang identifikasinya tidak dapat diungkapkan karena dilindungi undang-undang, terdengar berbicara dengan seorang petugas polisi pria kemudian mengatakan "saya akan mematahkan lehermu".

Seorang petugas polisi pria kemudian terlihat berjalan ke arah remaja berusia 17 tahun tersebut dan memerintahkannya untuk "berbalik badan", sebelum memegang tangan bocah itu di belakang punggungnya.

Kemudian polisi itu menendang kakinya, membuat remaja pria itu jatuh ke tanah.

Dua petugas polisi perempuan membantu menahan remaja saat ia diborgol.

Dalam sebuah pernyataan, Kepolisian NSW mengonfirmasi remaja tersebut dibawa ke rumah sakit, sebelum dilepaskan ke keluarganya "sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut".

"Bagaimana penangkapan terjadi kini sedang dalam penyelidikan yang dilakukan oleh petugas kepolisian dari Saturan Standar Profesional," berikut isi pernyataan Kepolisian NSW.

"Polisi yang terlibat kini tugasnya dibatasi di saat penyelidikan sedang dilakukan."

"Anggota polisi senior telah bertemu dengan masyarakat dan sesepuh dan akan terus menjaga hubungan selama proses berlangsung."

Insiden serupa yang melibatkan anggota polisi terjadi di Amerika Serikat yang menyebabkan kematian George Floyd, warga Minneapolis.

Kematiannya menyulut protes dan unjuk rasa soal cara polisi menggunakan kekuatan dan hingga kini berakhir dengan kerusuhan di sejumlah kota di Amerika Serikat.

Sejumlah warga Aborigin di Australia mengaku jika kepolisian di Australia pun sudah sering melakukannya kepada mereka, namun tanpa mendapat perhatian internasional.

Menteri Kepolisian NSW, David Elliott mengatakan dirinya telah melihat rekaman itu dan telah diberi pengarahan tentang insiden tersebut oleh pejabat sementara Komisaris Polisi.

"Remaja itu sudah pulang, polisi masih berhubungan dengan keluarganya tentang masalah ini," kata Elliott.

"Dan tentu saja akan ada tinjauan terhadap prosedur operasi standar untuk memastikan semua prosedur itu dipenuhi."

Nathan Moran dari Dewan Pertanahan Aborigin yang berbasis di kawasan Redfern, mengatakan penangkapan remaja itu adalah contoh penggunaan kekuatan kepolisian yang berlebihan.

"Menjatuhkan wajah anak itu ke tanah ... itu tidak pernah dibenarkan," katanya.

"Ya, saya tahu dia membuat beberapa ancaman verbal yang tidak pantas, tapi bisa kita lihat ia tidak mengancam secara fisik dan menjatuhkan badannya dengan wajah terlebih dahulu, itu sangat mengerikan."

Nathan mengatakan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh polisi adalah masalah yang masih dihadapi oleh komunitas Aborigin.

"29 tahun yang lalu kami memiliki komisi khusus yang menyoroti tindakan polisi seperti ini yang seharusnya tidak dilanjutkan," katanya.

"Kita sekarang sudah di tahun 2020 dan hal ini masih terjadi menunjukkan perjalanan kita masih panjang."

Simak laporannya dalam Bahasa Inggris di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
India larang TikTok, Amerika dan Australia akan melarang, Bagaimana Indonesia?
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:11 WIB
Aplikasi TikTok menjadi aplikasi terpopuler di kalangan remaja belakangan ini. Tapi baru sekarang te...
Tak Akan Ditemukan: WHO Kirim Tim Pencari Pasien Pertama COVID-19 ke China
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:11 WIB
Pekan ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengirim tim ke China untuk menyelidiki asal-usul v...
Australia Beri Kemudahan Bagi Warga Hong Kong Jadi Penduduk Tetap
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:11 WIB
Australia akan menawarkan jalur bagi warga Hong Kong untuk menjadi permanent resident (PR) dan mengh...
Indonesia Tetapkan Tarif Tertinggi Rapid Tes, Tapi Seberapa Penting Tes Ini?
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:11 WIB
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menetapkan tarif tertinggi pemeriksaan rapid test antibodi sebes...
Mengapa Enam Minggu? Alasan di Balik Melbourne Kembali Lockdown
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Pemerintah Victoria mengumumkan kembali diberlakukannya lockdown selama enam minggu di seluruh kawas...
Pelajaran dari Lockdown Melbourne: Kembali Normal Tak Bisa Dicapai Teburu-buru
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Kawasan Metropolitan Melbourne dan Mitchell Shire akan kembali ke Tahap 3 pembatasan tinggal di ruma...
Tragedi Nasional: 65.000 Orang Australia Berupaya Bunuh Diri Setiap Tahunnya
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Dalam setiap satu kematian akibat bunuh diri di Australia, terdapat 30 orang lainnya yang juga berus...
Australia Pertimbangkan Untuk Kurangi Jumlah Kedatangan Internasional
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan jumlah orang yang boleh memasuki Australia dari ...
Cerita Dari Penghuni Penghuni Rusun di Melbourne yang Sedang di-lockdown
Rabu, 08 Juli 2020 - 11:45 WIB
Sebagai sebuah kota yang dikenal dengan keberagaman budaya, Melbourne memiliki kantong-kantong yang ...
Masih Ada Warga Australia yang Mengira Bali Sebagai Negara Tersendiri
Rabu, 08 Juli 2020 - 11:45 WIB
Meski jutaan warga Australia berlibur ke Bali setiap tahunnya, sebuah survei terbaru menunjukkan mas...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV