Puncak Virus Corona Jawa Timur di Bulan Juli, Jangan Tergesa Ke New Normal
Elshinta
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Puncak Virus Corona Jawa Timur di Bulan Juli, Jangan Tergesa Ke New Normal
ABC.net.au - Puncak Virus Corona Jawa Timur di Bulan Juli, Jangan Tergesa Ke New Normal

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Puncak penularan kasus COVID-19, paling tidak di Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, diperkirakan baru akan terjadi di bulan Juli, sehingga saat ini tidak diperlukan tindakan bergesa-gesa untuk melakukan apa yang disebut kehidupan new normal.

Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan memiliki kasus corona virus yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia dan menjadikanya sebagai epicentrum utama penyebaran virus tersebut.

Beberapa rumah sakit di Jawa Timur, termasuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo kini kewalahan menampung pasien COVID-19.

Sidoarjo menjadi kawasan kedua di Jawa Timur yang memiliki kasus virus corona.

Dr Atok Irawan, SpP dalam perbincangan dengan wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya, hari Selasa (2/6/2020), mengatakan tidak perlu tindakan tergesa ke new normal.

"Saat ini semua rumah sakit di Surabaya dan Sidoarjo penuh ruang isolasinya," kata dr Atok.

"Di RSUD Sidoarjo ruang isolasi ada 131 tempat tidur, pasien yang kami rawat 134 pasien, dengan tiga 3 orang saat ini isolasi di IGD," katanya.

Dari seluruh rumah sakit yang ada di Kabupaten Sidoarjo, seluruh tempat tidur isolasi yang tersedia adalah 352 dan semuanya penuh terisi.

Menurut dr Atok, selama tiga minggu terakhir, kasus COVID di wilayahnya terus meningkat.

"Hitungan saya, puncaknya akan terjadi di bulan Juli, dan di bulan Agustus baru turun," katanya.

Menurutnya hal yang menyebabkan terus meningkatnya kasus corona di Jawa Timur adalah karena tidak cukupnya kedisiplinan terhadap protokol kesehatan di kalangan masyarakat.

"Pemakaian masker dan social distancing tidak dijalankan," katanya.

Penambahan kasus-kasus baru, menurut dr Atok terjadi selama bulan Ramadan dan Lebaran.

"Banyak orang berkerumun belanja untuk kebutuhan lebaran. Pembagian sembako dan BLT juga tidak sesuai protokol, jadi kasus makin meningkat," katanya lagi.

Seorang dokter lain yang dihubungi oleh ABC Indonesia, Dr Brahmana Askandar, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Surabaya juga menyebut hal yang sama mengenai protokol kesehatan yang harus dilakukan warga.

"Perjuangan belum selesai, patuhi protokol kesehatan, memakai masker dengan benar, masker bukan dipakai hanya untuk memenuhi syarat saja,"

"Pastikan menutup hidup dan mulut dengan baik dan benar. Pemakaian masker yang tidak benar masih sangat banyak ditemui," kata Dr Brahmana ketika ditanya mengenai apa yang harus dilakukan masyarakat saat ini.

Orang muda pun bisa terkena virus dan fatal

Menurut angka resmi hingga 1 Juni kemarin, ada 655 kasus virus corona dengan 58 orang meninggal dunia di Sidoarjo.

Menurut dr Atok, 90 persen yang meninggal adalah mereka yang sudah memiliki masalah kesehatan lainnya dan berusia di atas 60 tahun.

Namun sebagai dokter spesialis paru-paru, dr Atok juga mengatakan virus ini bisa menyerang siapa saja dengan akibatnya bisa fatal.

Dia menunjukkan sebuah hasil rontgen paru-paru seorang korban yang baru berusia 31 tahun yang meninggal tanpa memiliki masalah kesehatan sebelumnya.

Hanya dalam waktu dua hari, pasien tersebut mengalami radang paru-paru (pneumonia).

"Yang lain yang meninggal ada karena TB paru luas, gagal, gagal ginjal, diabetes melitus, riwayat penyakit jantung, bahkan HIV AIDS," katanya.

Menurutnya, berbagai informasi sudah disampaikan kepada masyarakat mengenai bahayanya virus tersebut, namun informasi itu oleh sebagian masyarakat masih tidak dianggap serius.

Dr Atok mengatakan sebagian masyarakat Indonesia masih "dableg", atau tidak mau memenuhi anjuran kesehatan.

Angka kasus tertinggi di Surabaya

Di provinsi Jawa Timur, kasus COVID-19 tertinggi sejauh ini menurut angka resmi dari pemerintah adalah di kota Surabaya.

Sampai hari Senin, di Surabaya ada 2.608 kasus, dengan 243 orang yang meninggal.

Dr Brahmana Askandar, Ketua IDI Surabaya mengatakan naiknya angka kasus positif kemungkinan disebabkan karena meningkatnya tes yang dilakukan.

"Saat ini Surabaya dan Jawa Timur sedang mengadakan tes secara masif, baik Rapid Test maupun PCR, mungkin hal ini yang membuat angka meningkat signifikan," katanya kepada ABC Indonesia.

"Mungkin juga memang kasusnya meningkat. Jadi bisa karena gencarnya test yang dilakukan, bisa juga memang masih terjadi pergerakan penduduk, masuk ke Jawa Timur."

Dalam pantauannya dari sisi tenaga kesehatan, berkaitan dengan Alat Perlindungan Diri (APD), Dr Brahmana mengatakan sejauh ini persediaan sudah lebih baik dari masa sebelumnya.

"APD sejauh ini masih ada, lebih baik daripada masa awal-awal dulu, mungkin dengan banyaknya donasi, juga bantuan dari BNPB, meski kekurangan di sana sini masih tetap terjadi," katanya.

Sementara itu di RSUD Sidoarjo, dr Atok mengatakan mereka sudah memiliki APD yang cukup untuk masa empat bulan ke depan.

Dr Brahmana mengatakan persoalan yang sekarang harus dipecahkan oleh pihak-pihak terkait adalah mencegah semakin banyaknya penularan.

"Problem penting yang harus dipecahkan adalah testing masyarakat atau pasien, sehingga bisa mendiagnosis pasien mana yang pasien COVID-19 dan mana pasien mana yang non COVID, sehingga tidak bercampur yang akan meningkatkan risiko penularan," katanya.

Ia juga berpendapat diperlukan pemisahan rumah sakit, yang khusus menangani COVID-19 dan rumah sakit yang non-COVID.

"Karena pasien non-covid juga tetap perlu penanganan optimal yang aman," kata Dr Brahmana, Ketua IDI Surabaya.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di dunia lewat situs ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Susahnya Cari Kerja di Australia, Apakah Kuliah Lagi Ide yang Bagus?
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan ancaman akan banyaknya pengangguran, banyak anak-anak muda di A...
Australia Turunkan Biaya Kuliah Bidang Ilmu yang Pekerjaannya Akan Dibutuhkan
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Biaya kuliah di sejumlah bidang ilmu humaniora di universitas Australia akan naik berlipat ganda, na...
Sudah Ribuan Orang Dikarantina di Australia dengan Biaya Ditanggung Pemerintah
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Pemerintah Australia sedang mempertimbangkan agar biaya karantina wajib bagi mereka yang masuk ke Au...
Australia Tolak Visa Perempuan Asal Indonesia, Pasangannya Putus Asa
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Permohonan visa Australia yang diajukan seorang perempuan Indonesia, Kimi Santoso sejauh ini ditolak...
Dua Warga Victoria Meninggal Karena COVID, Perbatasan Victoria dan New South Wales Akan Ditutup
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Perbatasan Victoria dan New South Wales akan mulai ditutup hari Rabu (9/07), karena angka penularan ...
Perdagangan Bebas Berlaku,  Produk Indonesia ke Australia Belum Cukup Unggul
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Kesepakatan perdagangan kemitraan antara Indonesia dan Australia yang menghapuskan sebagian besar ta...
Nonton Pornhub Pakai VPN di Indonesia: Apakah Pendidikan Seks Masih Kurang?
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Sejak pandemi virus corona, akses ke salah satu situs porno di dunia, yakni Pornhub telah meningkat,...
Australia Ciptakan Kaos Kaki Agar Astronot Kembali ke Bumi Bisa Gerak Normal
Senin, 06 Juli 2020 - 01:59 WIB
Setelah menghabiskan waktu di luar angkasa, astronot umumnya mengalami gangguan gerakan tubuh yang h...
China Disebut Berada di Balik Serangan ke Sejumlah Situs Milik Australia
Senin, 06 Juli 2020 - 01:59 WIB
Sejumlah pejabat Australia menyebut China berada di balik serangan siber terhadap lembaga pemerintah...
Virus Corona Ubah Hidup Kita, Tapi Ada Kebiasaan Baru yang Ingin Dipertahankan
Senin, 06 Juli 2020 - 01:59 WIB
Baca dalam Bahasa Mandarin | Baca dalam Bahasa InggrisSudah hampir tiga bulan Pemerintah Australia m...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV