Australia Tetap Prioritaskan Membantu Indonesia Saat Pandemi Virus Corona
Elshinta
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Australia Tetap Prioritaskan Membantu Indonesia Saat Pandemi Virus Corona
ABC.net.au - Australia Tetap Prioritaskan Membantu Indonesia Saat Pandemi Virus Corona

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.

Strategi bantuan luar negeri Australia di masa pandemi COVID-19 mengalami pembaruan, yang kini hanya difokuskan pada kelompok negara prioritas pertama, yaitu Indonesia, Timor Leste dan kawasan Pasifik.

Strategi yang tertuang dalam program Kemitraan untuk Pemulihan dirilis oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) hari Jumat (19/05), yang menetapkan pendekatan baru dalam penyaluran bantuan pembangunan Australia dua tahun ke depan.

Menteri Luar Negeri Marise Payne dalam kata pengantar dokumen itu menyebutkan, negara-negara tetangga Australia mengalami kerentanan terhadap dampak kesehatan dan ekonomi dari COVID-19.

"Pertumbuhan, keterbukaan, dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik yang menunjang kesejahteraan dan keamanan Australia selama beberapa dekade kini mengalami risiko," kata Menlu Payne dalam dokumen yang diakses ABC.

"Bagaimana tetangga kita keluar dari krisis ini akan menentukan keadaan ekonomi dan strategis Australia untuk beberapa dekade mendatang," tambahnya.

Perubahan pendekatan ini menempatkan negara-negara di kawasan Pasifik, Timor-Leste dan Indonesia kini dinominasikan sebagai "prioritas tingkat pertama".

Strategi ini akan mengalihan dana yang ada untuk difokuskan pada masalah kesehatan, stabilitas dan pemulihan ekonomi di negara-negara prioritas, seperti Indonesia.

Menteri Urusan Pembangunan Internasional dan Pasifik di Australia, Alex Hawke menyatakan, negara-negara prioritas ini merupakan negara yang paling banyak memiliki kemitraan serta yang paling bisa berdampak pada Australia.

"Skala krisis akibat COVID-19 akan mengurangi sumber daya yang kami miliki, termasuk anggaran ODA (Official Development Assistance)," demikian pernyataannya dalam dokumen tersebut.

Sejauh ini sudah AU$280 juta dana yang kembali dialokasikan karena dampak COVID-19, termasuk AU$100 juta untuk membantu negara-negara Pasifik dalam membiayai pelayanan dasar.

Sumber dana yang direlokasikan itu termasuk dana penyediaan beasiswa dan relawan, akibat adanya pembatasan perjalanan internasional, yang menghambat kedatangan para mahasiswa dari berbagai negara penerima.

Menlu Payne menggambarkan kebijakan baru itu sebagai "poros yang belum pernah terjadi sebelumnya dari program pembangunan kami".

"Dalam semangat kemitraan dengan tetangga, kami merespon langsung kebutuhan penting mereka selama pandemi ini," katanya.

Menanggapi hal ini, Marc Purcell dari Australian Council for International Development (ACFID) menyambut baik pendekatan ini, termasuk fokus pada negara-negara di kawasan.

Namun dia menyatakan keprihatinan mengenai batas pengalihan program bantuan yang ada.

"Pada 2005, Perdana Menteri John Howard mengumumkan paket bantuan kemanusiaan baru senilai AU$1 miliar untuk Indonesia setelah tsunami," jelasnya.

"Untuk mendukung strategi COVID-19 ini, Pemerintah Australia seharusnya mengalokasikan dana baru senilai $2 miliar selama empat tahun pada APBN mendatang," kata Purcell.

"Sangat jelas bahwa rakyat Australia menghendaki agar kita membagi keahlian dan meningkatkan dukungan keuangan untuk mengakhiri COVID-19 di luar negeri," tambahnya.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh ACFID menyebutkan 72 persen responden setuju bila Australia membantu negara-negara miskin mengatasi COVID-19 dengan memberikan keahlian dan meningkatkan bantuan keuangan.

Bisakah COVID-19 picu kerusuhan di negara prioritas?

Salah satu tujuan utama dalam strategi baru Australia adalah memastikan agar pandemi COVID-19 jangan sampai memicu ketidakstabilan di negara-negara prioritas tersebut, termasuk Indonesia.

"Negara-negara dengan tata kelola yang lebih lemah mungkin kesulitan untuk memberikan pelayanan dasar dan menerapkan aturan isolasi dan menjaga jarak," kata dokumen ini.

"Penurunan ekonomi yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusuhan dan ketidakstabilan politik," tambahnya.

Secara khusus, dokumen ini menyebutkan adanya prospek dampak COVID-19 yang mengarah pada kerusuhan di Asia Tenggara.

"Kontrak sosial yang rapuh dapat mengalami ujian di sejumlah negara, dengan risiko pergolakan politik yang mengancam stabilitas regional," katanya.

Strategi Kemitraan untuk Pemulihan merupakan langkah sementara, sebab DFAT sebenarnya sedang dalam proses mereview bantuan ketika COVID-19 melanda.

Selain pendanaan, DFAT menyebutkan perlunya bantuan dari sektor publik dan swasta, termasuk perpanjangan visa Australia untuk pekerja musiman dari Pasifik, serta memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas.

Strategi ini tetap menekankan pendekatan Australia untuk bekerjasama dengan organisasi multilateral dan fokus pada kaum perempuan pada khususnya.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Susahnya Cari Kerja di Australia, Apakah Kuliah Lagi Ide yang Bagus?
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan ancaman akan banyaknya pengangguran, banyak anak-anak muda di A...
Australia Turunkan Biaya Kuliah Bidang Ilmu yang Pekerjaannya Akan Dibutuhkan
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Biaya kuliah di sejumlah bidang ilmu humaniora di universitas Australia akan naik berlipat ganda, na...
Sudah Ribuan Orang Dikarantina di Australia dengan Biaya Ditanggung Pemerintah
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Pemerintah Australia sedang mempertimbangkan agar biaya karantina wajib bagi mereka yang masuk ke Au...
Australia Tolak Visa Perempuan Asal Indonesia, Pasangannya Putus Asa
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Permohonan visa Australia yang diajukan seorang perempuan Indonesia, Kimi Santoso sejauh ini ditolak...
Dua Warga Victoria Meninggal Karena COVID, Perbatasan Victoria dan New South Wales Akan Ditutup
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Perbatasan Victoria dan New South Wales akan mulai ditutup hari Rabu (9/07), karena angka penularan ...
Perdagangan Bebas Berlaku,  Produk Indonesia ke Australia Belum Cukup Unggul
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Kesepakatan perdagangan kemitraan antara Indonesia dan Australia yang menghapuskan sebagian besar ta...
Nonton Pornhub Pakai VPN di Indonesia: Apakah Pendidikan Seks Masih Kurang?
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:25 WIB
Sejak pandemi virus corona, akses ke salah satu situs porno di dunia, yakni Pornhub telah meningkat,...
Australia Ciptakan Kaos Kaki Agar Astronot Kembali ke Bumi Bisa Gerak Normal
Senin, 06 Juli 2020 - 01:59 WIB
Setelah menghabiskan waktu di luar angkasa, astronot umumnya mengalami gangguan gerakan tubuh yang h...
China Disebut Berada di Balik Serangan ke Sejumlah Situs Milik Australia
Senin, 06 Juli 2020 - 01:59 WIB
Sejumlah pejabat Australia menyebut China berada di balik serangan siber terhadap lembaga pemerintah...
Virus Corona Ubah Hidup Kita, Tapi Ada Kebiasaan Baru yang Ingin Dipertahankan
Senin, 06 Juli 2020 - 01:59 WIB
Baca dalam Bahasa Mandarin | Baca dalam Bahasa InggrisSudah hampir tiga bulan Pemerintah Australia m...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV