Suriname: Apakah terpidana pembunuhan akan kembali jadi presiden?
Elshinta
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Suriname: Apakah terpidana pembunuhan akan kembali jadi presiden?
BBC - Suriname: Apakah terpidana pembunuhan akan kembali jadi presiden?
Suriname's President Desi Bouterse, addresses the public before taking part in a yoga class on the 4th International Yoga Day in Paramaribo, Suriname on June 21, 2018. Hak atas foto Getty Images
Image caption Dési Bouterse telah menjadi presiden sejak 2010.

Rakyat Suriname akan memutuskan pada Senin (25/05) waktu setempat apakah Dési Bouterse, yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara, akan terus memimpin negara Amerika Selatan itu.

Para pemilih akan memberikan suara mereka untuk anggota Majelis Nasional, yang kemudian akan memilih presiden.

Bouterse mengatakan dia yakin akan memenangkan posisi presiden untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Proses bandingnya terhadap vonis pengadilan itu akan dimulai pada bulan Juni.

Siapakah Desi Bouterse?

Dési Bouterse, 74, telah lama mempengaruhi politik di Suriname.

Dia pertama kali muncul di kancah politik ketika memimpin 15 perwira militer pada 1980 untuk menggulingkan pemerintah Henck Arron, pemimpin pertama Suriname setelah merdeka dari Belanda.

Dalam perannya sebagai ketua Dewan Militer Nasional, ia adalah pemimpin de facto Suriname sepanjang era 1980-an.

Tahun 1990 dia kembali mendukung kudeta militer yang melengserkan pemerintah.

Mengapa ia dinyatakan bersalah?

Pada Desember 1982, tentara menangkap, menyiksa, dan mengeksekusi 15 rival Bouterse.

Bouterse mengklaim para korban, termasuk para pemimpin serikat buruh dan jurnalis, ditembak ketika mereka berusaha melarikan diri dari benteng era kolonial tempat mereka ditahan.

Pada tahun 2007, ia mengakui adanya "tanggung jawab politik" untuk apa yang kemudian dikenal sebagai "pembunuhan Desember" tetapi ia selalu membantah adanya tanggung jawab pribadi.

Persidangan dimulai pada tahun yang sama dan tiga hakim menyimpulkan 12 tahun kemudian, pada November 2019, bahwa Bouterse bersalah atas pembunuhan dan harus menjalani 20 tahun penjara.

Namun, tidak ada surat perintah penangkapan yang dikeluarkan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Dési Bouterse memiliki hubungan yang baik dengan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro

Hukuman pembunuhan bukan satu-satunya yang ia hadapi.

Pada 1999, pengadilan di Belanda mendapati Bouterse bersalah karena menyelundupkan lebih dari 450 kilogram kokain dan menghukumnya 11 tahun penjara, meski sidang itu tak dihadiri Bouterse.

Bouterse selalu membantah tuduhan penyelundupan narkoba.

Bagaimana dia kembali berkuasa?

Bouterse tidak pernah jauh dari kekuasaan meskipun pada 1990-an dia belum menempati jabatan puncak.

Pada tahun 2000, ia memenangkan pemilihan demokratis pertamanya dan terpilih sebagai anggota Majelis Nasional.

Pada 2010, koalisi Kombinasi Mega yang dipimpinnya memenangkan mayoritas kursi di Majelis Nasional dan ia terpilih sebagai presiden.

Pada 2015, koalisinya memenangkan 26 dari 51 kursi dan dia terpilih kembali untuk masa jabatan kedua.

Menjelang Pertemuan Majelis Nasional, dia meyakini partainya, Partai Demokrasi Nasional (NDP), akan memenangkan cukup kursi untuk menjamin dia terpilih kembali untuk masa jabatan ketiga kalinya secara berturut-turut.

Namun, jajak pendapat menunjukkan NDP bisa kalah terutama di ibukota, Paramaribo.

Apa proses selanjutnya?

Pengambilan suara ditutup pada pukul 19.00 waktu setempat (Selasa, 05.00 WIB) dan sebagian dari hasil pemilu itu diharapkan dapat diketahui beberapa jam kemudian.

Hasil pemilu sepenuhnya diharapkan akan diketahui pada Selasa (26/05).

Apakah dia terpilih kembali sebagai presiden atau tidak, proses banding Bouterse terhadap vonis pembunuhannya akan dimulai pada bulan Juni, sehingga dia tidak mungkin dipenjara sebelum proses banding selesai.

Terlepas dari kasus itu, Bouterse, yang merupakan keturunan campuran Amerindian, Afrika, Belanda, Prancis dan China, di masa lalu telah berhasil melampaui garis-garis etnis yang mewarnai politik Suriname.

Tetapi survei menunjukkan daya tarik partainya mungkin berkurang karena penurunan ekonomi baru-baru ini.

Pemerintah Bouterse, yang menarik pemilih miskin melalui pemberian bantuan, disebut telah menghabiskan terlalu banyak uang, kondisi yang menurut para ekonom dapat mengakibatkan negara itu gagal membayar utangnya.

Sementara itu, peraturan jam malam untuk mencegah penyebaran virus corona di negara itu telah dicabut untuk memungkinkan pemilih pergi ke tempat pemungutan suara.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Wabah pes di China: Warga Mongolia 'dilarang berburu dan makan hewan marmot'
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:24 WIB
Hak atas foto Getty Images Pihak...
Covid-19: Sebulan usai longgarkan lockdown, India jadi negara ketiga dengan kasus terbanyak di dunia
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:24 WIB
Hak atas foto SANJEEV GUPTA/EPA ...
Krisis Hong Kong: Tatanan dunia baru seperti apa yang tengah diciptakan China?
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:24 WIB
Hak atas foto Getty Images ...
Keputusan Anies 'reklamasi' kawasan Ancol dan Dufan 155 hektare dikritik akan 'percepat ancaman Jakarta tenggelam'
Selasa, 07 Juli 2020 - 09:24 WIB
Hak atas foto Antara Foto/Rivan Awal Lingga ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV