PM Inggris Dibawa ke RS karena Corona, Ratu Elizabeth Minta Rakyat Bersatu
Elshinta
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
PM Inggris Dibawa ke RS karena Corona, Ratu Elizabeth Minta Rakyat Bersatu
DW.com - PM Inggris Dibawa ke RS karena Corona, Ratu Elizabeth Minta Rakyat Bersatu

Minggu (05/04), Ratu Inggris Elizabeth II dalam pidato resmi kerajaan angkat bicara mengenai pandemi COVID-19 di dunia, khususnya di Inggris. Ratu Elizabeth mengatakan bahwa pandemi virus corona dapat diatasi jika seluruh masyarakat Inggris Raya “tetap bersatu dan teguh” dalam menghadapi krisis ini. "Saya berbicara kepada kalian semua dalam situasi yang tengah sulit," ujar Ratu Elizabeth dari Windsor Castle.

Dalam pidato yang disiarkan lewat televisi khusus kerajaan, Ratu berusia 93 tahun ini mengatakan bahwa mengurangi aktivitas dan kontak dengan sesama merupakan hal yang tepat untuk dilakukan sekarang ini.

“Kali ini kita bergabung dengansemua bangsa di seluruh dunia dalam upaya bersama, menggunakan kemajuan besar ilmu pengetahuan dan naluri kasih sayang untuk sembuh. Kita akan berhasil - dan kesuksesan itu akan menjadi milik kita semua,” ujarnya.

Ratu Inggris berusia 93 tahun ini juga memberi penghormatan dan berterima kasih kepada para tenaga medis atas pekerjaan tanpa pamrih mereka. Sebelumnya, sang anak Pangeran Charles juga dilaporkan positif terinfeksi COVID-19.

Pidato ini terbilang langka karena merupakan pidato kelima Ratu Elizabeth di luar agenda pidato natal tahunan. Empat pidato sebelumnya disiarkan yakni ketika Perang Teluk tahun 1991, meninggalnya Putri Diana tahun 1997, meninggalnya ibundanya tahun 2002, dan perayaan Berlian Jubilee-nya pada tahun 2012 silam.

PM Boris Johnson masuk RS

Setelah menjalani isolasi mandiri di kediamannya selama lebih kurang sepuluh hari terkahir, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dibawa ke rumah sakit karena menunjukkan gejala COVID-19 yang semakin serius. Minggu (05/04) waktu setempat, PM Johnson dibawa ke sebuah rumah sakit di London untuk menjalani serangkaian pemeriksaaan.

Juru bicara perdana menteri mengatakan, “Atas saran dokter, perdana menteri malam ini dirawat di rumah sakit untuk menjalani tes.”

“Ini adalah langkah pencegahan, karena prdana menteri terus menunjukkan gejala virus corona yang persisten setelah positif COVID-19,10 hari lalu. Perdana Menteri berterima kasih kepada tenaga medis untuk semua kerja keras mereka yang luar biasa dan meminta masyarakat untuk terus mengikuti saran pemerintah untuk tinggal di rumah," ujar juru bicara.

PM Johnson dilaporkan akan berada di rumah sakit selama yang dibutuhkan. Jika kondisi Johnson semakin memburuk, Dominic Raab selaku Sekretaris Luar Negeri sekaligus Sekretaris Utama Inggris akan menggantikan posisi Johnson dalam bertugas.

Optimisme Trump

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia berharap bahwa tingkat infeksi corona segera menurun di beberapa wilayah.

"Kami melihat ada harapan. Hal-hal itu sedang terjadi," ujar Trump saat melakukan pengarahan singkat di Gedung Putih mengenai masalah tersebut. Namun Trump memperingatkan bahwa AS akan masih bergelut dengan jumlah angka kematian yang mengerikan.

Trump menambahkan bahwa sekitar 1,67 juta orang Amerika telah dites sejauh ini dan dia sekali lagi mendorong gagasan bahwa obat hidroksiklorokuin akan efektif melawan virus.

Terlepas dari kenyataan bahwa tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung klaim tersebut, Trump mengatakan bahwa ada "beberapa tanda yang sangat kuat" bahwa obat itu bekerja. Trump mengumumkan bahwa AS telah membeli obat tersebut dalam jumlah besar.

Hingga Senin (06/04), sedikitnya 1.274.956 orang terinfeksi COVID-19 di seluruh dunia dan 69.487 di antaranya meninggal dunia. Amerika sendiri menjadi negara terparah terjangkit COVID-19 dengan 337.635 kasus.

rap/pkp (dari berbagai sumber)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kursi: Lebih dari Sekedar Tempat Duduk
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Empat kaki, satu tempat duduk dan sebuah sandaran: Tidak ada hal lain yang dibutuhkan untuk membuat ...
Lyari Girls Cafe: Pupuk Percaya Diri bagi Perempuan Pakistan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Pakistan bukan negeri yang ramah bagi kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan hak. Sebab itu sek...
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Yute adalah tanaman unik yang bisa menghasilkan serat nabati sebagai bahan baku tali tambang. Di Ban...
AS Pertimbangkan Kembali Perlakuan Khusus untuk Hong Kong, Sanksi untuk Cina
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Di hadapan parlemen AS, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo pada Rabu (27/05), meny...
Kematian George Floyd Akibat Dicekik Polisi Minneapolis AS, Picu Kemarahan Warga
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kematian seorang pria Afrika-Amerika, George Floyd, akibat lehernya dicekik oleh polisi di Minneapol...
Wabah dan Kekeringan: Bencana Berganda Melanda Warga Miskin India
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Protokol pencegahan wabah sekilas sangat mudah. Penduduk diimbau menjaga kebersihan dan mencuci tan...
Parlemen Cina Sahkan UU Anti Subversi buat Hong Kong
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kamis (28/5) Kongres Rakyat Nasional(NPC) secara aklamasi meloloskan legislasi kontroversial itu, de...
Bagaimana Wabah Corona Pengaruhi Harapan Hidup Penderita Penyakit Kronis
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Thomas menderita stroke pada awal April. Sekitar waktu yang bersamaan, gambar dramatis di bangsal-ba...
Apa Bahaya Sekolah Via Zoom dan Aplikasi Pelacakan Data?
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kondisi gawat darurat kesehatan publik terkait pandemi Covid-19, ibarat hentakan keras yang membangu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV