Belum Ada Kasus COVID-19 di NTT, Dokter: Terkendala Alat Diagnostic Test
Elshinta
Selasa, 07 April 2020 - 01:03 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Belum Ada Kasus COVID-19 di NTT, Dokter: Terkendala Alat Diagnostic Test
DW.com - Belum Ada Kasus COVID-19 di NTT, Dokter: Terkendala Alat Diagnostic Test

Hingga Senin (06/04), sebanyak 31 Provisi di Indonesia sudah melaporkan kasus COVID-19 dengan total kasus berjumlah 2.491. Namun, provinsi Nusa Tenggara Timur tercatat belum melaporkan kasus positif COVID-19. Lantas seperti apa kondisi di NTT saat ini terkait pandemi virus corona? Bagaimana kesiapan sarana dan prasarana, tenaga medis, hingga fasilitas kesehatan di sana? DW Indonesia melakukan wawancara dengan dr. Floriana Elfira Rosari Dugis, salah seorang dokter di Puskesmas Watu Alo, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT, yang menceritakan pengalamannya selama bertugas di tengah pandemi virus corona.

Deutsche Welle: Provinsi NTT tercatat belum ada kasus positif COVID-19. Bagaimana kesiapan tenaga medis dan fasilitas kesehatan di lapangan sejauh ini?

dr. Floriana: Memang benar yang dilaporkan, kalau NTT kasusnya masih 0 tapi kami terkendala sarana prasarana untuk diagnostic test. Kalau untuk ODP sendiri NTT sudah banyak, PDP pun sudah ada. Cuma protapnya itu ODP harus tetap dites rapid test. PDP juga seperti itu. Tapi rapid test yang masuk itu baru 40 buah, itu pun hanya dikhususkan di rumah sakit. Di rumah sakit setengahnya juga sudah dipakai untuk tenaga medis. Di faskes tingkat I yakni puskesmas, kami belum ada pengecekan dengan rapid test sama sekali.

Tenaga medis di sini merasa agak was –was, apa benar 0 kasus, karena sebagaimana kita ketahui COVID-19 ini sekarang pun ada yang tanpa gejala atau dengan gejala ringan. Kalau masyarakat yang di Manggarai sebetulnya aman-aman saja, cuma dengan kantor, hotel, banyak tenaga yang di-PHK, sehingga kami di sini was-was pendatangnya banyak sekali dari zona merah yang kembali ke sini. Rata-rata yang pergi merantau di sini itu dari desa, jadi jelas akan kembali ke faskes tingkat I puskesmas. Bukan tidak mungkin besok-besok akan muncul kasus positif.

Bagaimana dengan ketersediaan APD di sana?

APD susah, pusekesmas kami harus pakai mantel hujan. Maskernya sendiri dari dinas kabupaten hanya dijatah 2 box per puskesmas. Satu box Cuma 50, betul-betul untuk tenaga medis yang berkontak dengan pasien hanya memakai masker paling standar, masker bedah hijau. Sedangkan supir, administrtasi hanya pakai masker kain. Sarung tangan pun kami dijatah sangat sedikit dari dinas kesehatan kabupaten, hanya yang betul-betul perlu yang pakai, yang lain tidak.

Sudah ada tindak lanjut dari pemerintah daerah?

Kalau untuk pemda di sini sebetulnya sudah tahu masalah ini, cuma dari awal kasus COVID-19 ini pun hanya habis dengan menjanjikan. Mereka utamakan yang di rumah sakit dulu ketimbang di faskes-faskes tingkat I puskesmas. Mereka tidak berpikir jauh bahwa pendatang itu lebih banyak ke desa-desa. Kalau pun ke RS sudah jelas bahwa dia memang PDP. RS pasti sudah siap dengan baju pelindung dan APD lainnya. Karena ini puskesmas, kami ini penyaring awal, sedangkan kami tidak punya apa-apa.

Bagaimana sikap masyarakat Manggarai dalam merespon wabah ini?

Waktu awal-awal kasus COVID-19 di Indonesia, saat itu dihimbau semua kantor-kantor, sekolah-sekolah, diliburkan, memang warga di sini semua patuh. Jalanan sepi, pasar sepi, cuma karena berlalunya waktu sekitar sebulan ini terlebih mendengar NTT masih 0, semua mulai mengabaikan, mulai ramai-ramai lagi di jalan. Kasus di puskesmas sendiri, karena kami wilayahnya tidak begitu luas, waktu awal-awal kami mengimbau masyakarat dengan calling-calling keliling. Karena kalau mengumpulkan warga sudah tidak mungkin, jadi kita keliling kita sampaikan ke warga seperti apa penyakit ini. Di sini sakit sedikit langsung ke puskesmas, kami imbau betul-betul yang sakit dan tidak bisa dirawat dengan istirahat saja yang ke puskesmas. Kalau batuk pilek segera datang. Pendatang segera lapor ke kantor desa dan isolasi diri selama 14 hari. Apabila dalam 14 hari ada gejala batuk, pilek, panas, sakit tenggorokan, atau diare bisa langsung ke puskesmas. Masyarakat kini lebih paham, jadi benar-benar yang datang ke puskesmas itu yang sakit, yang tidak bisa sembuh dengan istirahat saja.

Harapan Anda terkait pandemi corona khususnya di NTT?

Pertama, kami sebagai garda terdepan berharap ketersediaan APD yang kami butuhkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus tetap melayani, sedangkan kami juga sayang diri sendiri dan keluarga di rumah. Kedua, rapid test bisa merata di seluruh wilayah Indonesia. Walau itu bukan untuk diagnostic test, hanya untuk screening. Mungkin saja NTT kita lihat masih 0 kasus, mungkin saja sudah ada sebenarnya. Karena yang tanpa gejala dan gejala ringan ada. Ketiga, karantina wilayah karena itu saja kuncinya. Selama tidak ada orang keluar masuk, saya kira kita bisa benar-benar mengisolasi daerah masing-masing, menjaga daerah masing-masing.

Wawancara untuk DW Indonesia dilakukan oleh Rizki Akbar Putra dan telah diedit sesuai konteks.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Narapidana Honduras Hidup dalam “Neraka” Penjara di Tengah Pandemi Virus Corona
Kamis, 04 Juni 2020 - 03:20 WIB
Di penjara Honduras, para narapidana takut terinfeksi oleh virus corona. Jarak sosial tidak mungkin ...
Pembunuhan demi Kehormatan: Perlindungan Perempuan di Iran Terganjal Kaum Konservatif 
Kamis, 04 Juni 2020 - 03:20 WIB
Akhir Mei silam sebuah desa di utara Iran diguncang kasus mengerikan ketika Reza Ashrafi memotong le...
Uni Eropa Kutuk Tindakan Rasisme dan Peringatkan Kekuatan Berlebihan
Kamis, 04 Juni 2020 - 03:20 WIB
Pejabat tinggi kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengatakan bahwa pembunuhan George Flo...
Menlu Jerman Heiko Maas Dukung Aksi Damai George Floyd di AS, Kritik Kebrutalan Polisi
Kamis, 04 Juni 2020 - 03:20 WIB
Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas hari Selasa (2/6) mengatakan, aksi protes damai terhadap kebru...
Uni Eropa Siap Reformasi Regulasi Farmasi Untuk Pengadaan Obat Vital
Kamis, 04 Juni 2020 - 03:20 WIB
Komisi Eropa (EC) memulai proses untuk merevisi regulasi produksi farmasi, untuk memungkinkan obat-o...
Taliban Bantah Langgar Perjanjian Damai Amerika
Kamis, 04 Juni 2020 - 03:20 WIB
Kelompok militan Afghanistan, Taliban, menepis laporan Perserikatan Bangsa-bangsa yang mengaitkan ke...
Penanganan Wabah Corona di Swedia Membuat Warga Asing Cemas
Kamis, 04 Juni 2020 - 03:20 WIB
Eva Panarese tumbuh dewasa di Italia, ibunya seorang Swedia. Sejak dulu dia bercita-cita pindah ke S...
Siapkah Dunia Mencontoh Sistem Pendapatan Dasar Universal dari Finlandia?
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Penulis asal Finlandia, Tuomas Muraja, menggambarkan dirinya kurang lebih seperti "kelinci perc...
Kasus Pedofilia Picu Keretakan di Gereja Katolik Polandia 
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Jakub dan Bartek Pankowiak hidup di kota kecil bernama Pleszew di jantung Polandia. Ayah mereka seor...
Para Pelacak dari Unit Penelusuran dan Pelacakan Kontak Covid-19
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:26 WIB
Di negara bagian Bayern, Jerman, Franziska Weiss adalah satu dari sekitar 2500 pelacak kontak Covid-...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV