Pentingnya Pelayanan Konseling Psikologis Selama Lockdown di Italia
Elshinta
Minggu, 05 April 2020 - 01:45 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pentingnya Pelayanan Konseling Psikologis Selama Lockdown di Italia
DW.com - Pentingnya Pelayanan Konseling Psikologis Selama Lockdown di Italia

Sonia Tranchina, 38, telah hidup terkurung bersama dua anaknya dan anjing mereka di apartemen seluas 65 meter persegi di kota Milan, sejak aturan lockdown yang ketat diberlakukan untuki meredam penyebaran virus corona.

"Semuanya berjalan baik, sampai kemarin. Yang termuda berusia 13 tahun. Dia biasanya tertutup, tetapi dia mengejutkan saya ketika menuntut untuk diizinkan pergi bersama teman-temannya. Dia tidak pernah melakukan itu. Tiba-tiba saya merasa kewalahan.".

"Dia sebelumnya pemalu, sekarang dia bosan. Dia tidur sepanjang hari, hanya bangun untuk kelas online yang dia hadiri setiap hari. Saya cemas," katanya.

Sonia Tranchina tunanetra. Dia anggota tim nasional Italia untuk Showdown- olahraga yang mirip dengan tenis meja, yang diciptakan untuk orang-orang tunanetra. "Kami sekarang terkucil. Sungguh aneh untuk tinggal di dalam rumah. Aku bahkan jadi lebih bingung ketika pergi ke supermarket, karena aku tidak mendengar ada orang di sekitar. Virus corona telah menghentikan hidup kita."

Dukungan psikologis dibutuhkan

Pemerintah Italia akhir Maret memulai program dukungan psikologis untuk orang-orang seperti Sonia Tranchina. Layanan itu bekerja dengan berbagai lembaga, psikolog dan psikoanalis, memberikan bantuan darurat secara gratis kepada siapa saja yang membutuhkannya. Klien bisa berbicara lewat telepon atau melakukan kontak online.

Kondisi lockdown memang diakui bisa memicu tekanan berat, bahkan bagi orang-orang dengan hubungan keluarga yang stabil dan situasi pekerjaan yang aman.

"Kami menjadi saling curiga. Rasa ini akan tetap ada selama berbulan-bulan, jika tidak bertahun-tahun," kata Giovanni Cerana, 44, seorang guru dan ayah dua anak. "Sistem sosial bisa runtuh, bahkan juga jaringan keluarga. Orang tua saya sudah relatif uzur. Dan anak-anak saya mungkin tidak bisa mengunjungi mereka selama berbulan-bulan. Kakek-nenek adalah pilar masyarakat Italia, sekarang mereka tersisih.. Bukankah itu menyedihkan?", keluhnya.

Giovanni Cerana juga menunjuk pada kasus anak-anak yang ditampung di rumah khusus, setelah orang tua mereka dinyatakan positif Covid-19.

Kondisi Darurat dalam situasi darurat

“Permintaan untuk dukungan psikologis makin meningkat, terutama di antara orang-orang berusia tiga puluhan“, kata Camilla Quarticelli, seorang psikoterapis yang berbasis di Milan.

"Kita semua dihadapkan pada trauma psikologis yang intens, baik secara individu maupun kolektif, yang disebabkan tidak hanya oleh konsekuensi langsung dari pandemi - berkabung dan penyakit - tetapi juga secara tidak langsung, dan yang tidak kalah penting, konsekuensi seperti kehilangan pekerjaan, kelelahan dan stres karantina", papar psikoterapis Quarticelli.

Keluarga berpenghasilan rendah dan orang lajang yang tinggal sendirian di ruang kecil mejadi sangat rentan. Terutama mereka yang terbiasa menggunakan segala macam obat terlarang.

"Karantina bisa menjadi tantangan serius bagi mereka yang kecanduan," kata Serena Camposeo, seorang psikoterapis di wilayah Apulia selatan. "Pengurungan, imobilitas dan kurangnya obat legal ataupun ilegal dapat mendorong mereka ke dalam lingkaran obat terlarang. Mereka juga bisa beralih dari narkoba ke alkohol“, ujar Camposeo.

Pekerja medis hadapi tekanan lebih berat

Para petugas kesehatan menderita stres yang jauh lebih berat, karena kekhawatiran mereka tertular virus, atau menularkan virus kepada orang lain. Sejauh ini, di Italia sudah lebih 60 dokter yang meninggal karena tertular virus corona.

"Saya tidak hanya takut untuk diri saya sendiri, tetapi untuk orang-orang yang saya cintai," kata seorang dokter, yang bekerja di sebuah rumah sakit di Lombardy dan berbicara dengan syarat anonim. "Saya hanya berharap tidak kehabisan tenaga. Dukungan psikologis memang diperlukan, tetapi tidak ada waktu. Tidak ada sumber daya."

Isabel Fernandez, seorang psikolog klinis yang mengambil spesialisasi dalam gangguan stres pasca-trauma (PTSD), mengatakan, para dokter sekarang lebih sering berduka untuk rekan-rekan mereka yang terinfeksi atau meninggal. "Setiap dokter atau perawat yang terinfeksi adalah pengingat kepada yang lain, bahwa mereka bisa menjadi yang berikutnya." Dia mengatakan, kurangnya sumber daya medis adalah faktor lainnya yang bisa membuat trauma. (hp/as)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kursi: Lebih dari Sekedar Tempat Duduk
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Empat kaki, satu tempat duduk dan sebuah sandaran: Tidak ada hal lain yang dibutuhkan untuk membuat ...
Lyari Girls Cafe: Pupuk Percaya Diri bagi Perempuan Pakistan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Pakistan bukan negeri yang ramah bagi kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan hak. Sebab itu sek...
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Yute adalah tanaman unik yang bisa menghasilkan serat nabati sebagai bahan baku tali tambang. Di Ban...
AS Pertimbangkan Kembali Perlakuan Khusus untuk Hong Kong, Sanksi untuk Cina
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Di hadapan parlemen AS, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo pada Rabu (27/05), meny...
Kematian George Floyd Akibat Dicekik Polisi Minneapolis AS, Picu Kemarahan Warga
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kematian seorang pria Afrika-Amerika, George Floyd, akibat lehernya dicekik oleh polisi di Minneapol...
Wabah dan Kekeringan: Bencana Berganda Melanda Warga Miskin India
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Protokol pencegahan wabah sekilas sangat mudah. Penduduk diimbau menjaga kebersihan dan mencuci tan...
Parlemen Cina Sahkan UU Anti Subversi buat Hong Kong
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kamis (28/5) Kongres Rakyat Nasional(NPC) secara aklamasi meloloskan legislasi kontroversial itu, de...
Bagaimana Wabah Corona Pengaruhi Harapan Hidup Penderita Penyakit Kronis
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Thomas menderita stroke pada awal April. Sekitar waktu yang bersamaan, gambar dramatis di bangsal-ba...
Apa Bahaya Sekolah Via Zoom dan Aplikasi Pelacakan Data?
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kondisi gawat darurat kesehatan publik terkait pandemi Covid-19, ibarat hentakan keras yang membangu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV