Virus Corona: Takut Dicaplok Asing, Australia Batasi Penanaman Modal Asing
Elshinta
Senin, 30 Maret 2020 - 11:23 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Virus Corona: Takut Dicaplok Asing, Australia Batasi Penanaman Modal Asing
ABC.net.au - Virus Corona: Takut Dicaplok Asing, Australia Batasi Penanaman Modal Asing

Di tengah pandemi virus corona di Australia, pemerintah Australia berusaha membatasi investor asing yang berusaha menanamkan modalnya.

  • Setiap usaha pembelian dari investor asing akan dikaji dulu berapapun nilainya
  • Pemerintah mengatakan mengambil keputusan ini untuk jaga kepentingan nasional
  • Tapi Pemerintah Australia menegaskan ini bukan bentuk pembekuan investasi asing

Pemerintah mengambil keputusan tersebut di tengah kekhawatiran perusahaan Australia yang mengalami krisis akan dicaplok dengan mudah oleh pemodal asing.

Sebelumnya, investor asing harus mendapat persetujuan dari pemerintah bila membeli aset atau lahan di Australia jika nilainya melebihi batasan tertentu.

Bagi investor swasta dari negara-negara yang memiliki perjanjian dagang bebas dengan Australia, batasan itu antara AU$ 50 juta sampai AU$ 1,1 miliar, untuk pembelian lahan dan bukan lahan.

Namun mulai hari Minggu (29/3/2020), semua usaha investor asing untuk menanamkan modal di Australia akan dikaji terlebih dahulu oleh Dewan Kajian Penanaman Modal Asing (FIRB).

Menurut keterangan yang diperoleh ABC, beberapa pejabat Australia mengatakan perubahan aturan ini adalah untuk mencegah China menggunakan kesempatan untuk membeli aset yang secara strategis penting bagi Australia.

Dalam penjelasannya, pemerintah Australia mengatakan langkah ini diambil bukan sebagai upaya pembekuan masuknya modal asing.

Pemerintah masih beranggapan selama pandemik virus corona, investasi dari luar negeri masih tetap diperlukan.

Namun dikatakan perubahan sementara penting dilakukan demi kepentingan nasional, di saat pandemik semakin terasa mempengaruhi kehidupan bisnis dan ekonomi di Australia.

Anggota parlemen dari partai Liberal, Andrew Hastie, yang Kepala Komite Intelejen dan Keamanan, mengatakan langkah ini diambil untuk melindungi perusahaan Australia agar tidak dicaplok perusaahaan asing.

"Bisnis di Australia sangat terpengaruh oleh pandemik COVID-19," katanya.

"Kita perlu melindungi aset kita yang saat dalam keadaan rentan, negara-negara otoriter ingin mengambil alih bisnis-bisnis tersebut."

Perubahan ini dilakukan di saat pemeritnah Australia akan menggelontorkan paket ekonomi ketiga, yang diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.

Sebelumnya, Parlemen Australia sudah menyetujui paket bantuan keuangan senilai AU$84 miliar untuk pekerja, mahasiswa, dan bisnis yang terganggu akibat pandemik virus corona.

Parlemen Australia saat ini sedang mengambil masa reses selama lima bulan.

Anggota parlemen, baik dari partai koalisi pemerintah maupun dari pihak oposisi, mendukung paket stimulus senilai AU$ 17,6 miliar dan AU$66 miliar yang merupakan bantuan ekonomi langsung, yang diumumkan dalam paket bantuan ekonomi tahap kedua hari Sabtu lalu.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Melanggar Aturan Terkait Virus Corona, Siswa Asrama di Melbourne Dikeluarkan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaSebanyak 24 siswa Trinity College, yang dikenal sebagai asr...
Ingat Indonesia, Reynold Poernomo Hidangkan Cendol di MasterChef Australia
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaHampir semua peserta menitikkan air mata dalam acara Master...
Baru Bisa Beli Baju Hangat: Sepertiga Ibu Tunggal di Australia Miskin
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:53 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaMusim dingin di Australia kali ini dirasakan berbeda oleh a...
Belajar dari Rumah: Masih Ada Kesenjangan Pendidikan di Indonesia?
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:53 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC IndonesiaBelajar dari rumah telah menjadi bagian dari new normal war...
Seberapa Amankah Berkunjung ke Mall di Australia Saat Ini?
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Di Australia, restoran dan kafe merupakan objek-objek yang menjadi sasaran penegakan aturan pembatas...
WHO: Penularan COVID-19 Masih Tinggi, Saudi Buka Mesjid, Spanyol Berkabung
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Di saat banyak negara mulai melonggarkan aturan terkait COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) m...
WHO Minta Indonesia Hentikan Pemberian Obat Malaria Ke Pasien COVID-19
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendesak Indonesia untuk menghentikan penggunaan dua jenis ob...
Gaji PNS di New South Wales Tidak Akan naik Selama 12 Bulan Karena COVID-19
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Karena pandemi COVID-19, Pemerintahan negara bagian New South Wales (NSW) di Australia tidak akan me...
Pengalaman Perempuan Australia Belajar dan Masuk Islam dari Game Online
Kamis, 28 Mei 2020 - 09:07 WIB
Baca dalam Bahasa InggrisPerempuan Australia bernama Zahra Fielding tidak menyangka dirinya akan men...
Gaji dan THR Sejumlah Perawat Indonesia Dipotong Saat Berjuang Hadapi Corona
Rabu, 27 Mei 2020 - 05:32 WIB
Di saat merayakan Idul Fitri sejumlah pekerja lepas, termasuk tenaga kesehatan, ada yang belum menda...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV