Cerita Humaidi, yang Gagal Dievakuasi dari Wuhan dan Semangat Untuknya
Elshinta
Jumat, 28 Februari 2020 - 02:00 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Cerita Humaidi, yang Gagal Dievakuasi dari Wuhan dan Semangat Untuknya
VOA Indonesia - Cerita Humaidi, yang Gagal Dievakuasi dari Wuhan dan Semangat Untuknya
Evakuasi warga negara Indonesia (WNI ) dari Wuhan awal Februari lalu ternyata masih menyisakan 7 WNI. Tiga diantaranya gagal dievakuasi lantaran tidak memenuhi persyaratan kesehatan untuk bisa diangkut keluar dari Kota Wuhan.   Humaidi adalah salah satunya. Mahasiswa S-2 jurusan linguistik itu terpaksa harus tinggal lebih lama di Wuhan akibat batuk yang ia alami saat proses evakuasi berlangsung. “Saya tertahan gara-gara isi kolom batuk,” ujar Omed, panggilan akrabnya. Humaidi mengaku sangat terpukul saat mengetahui ia tak bisa pulang bersama kawan-kawan lainnya yang dievakuasi pemerintah awal Februari lalu, “Saya pas itu lebih dari sedih. Mental saya itu ndumplang (jatuh), (rasanya seperti) mau nyebur ke sumur.” Sehari-hari, Humaidi menghabiskan kegiatan di dalam asrama. Tinggal di Asrama yang kosong dan lengang membuat Humaidi mengaku kesepian. Nyaris seluruh penghuni asrama kampusnya telah meninggalkan Wuhan. Meski demikian, kontak dengan pihak kampus terjalin secara teratur. Humaidi mendapatkan makan 3 kali sehari, termasuk pengecekan suhu rutin. Wabah Korona yang bermula di kota tempatnya menuntut ilmu tersebut membuat ia dan penghuni kota lainnya serba ekstra waspada, bahkan paranoid terhadap gejala sekecil apapun pada tubuh. ” ’Waduh nafasku kok ngga enak. Tanda-tanda ini, Korona ini, Korona ini!’ orang-orang jadi takut,” keluh Humaidi. Kedutaan Besar Indonesia di Beijing menyebut terus memonitor kondisi para WNI yang masih berada di Wuhan. Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun menyatakan dari 7 WNI, 3 diantaranya memang memilih untuk tidak ikut evakuasi.  Meski terisolasi, KBRI mengaku rutin mengirimkan masker, vitamin dan kebutuhan lainnya kepada para WNI. ”Pemerintah setempat dan pihak kampus juga memperhatikan mereka. Pihak kampus juga atas komunikasi KBRI yang menjemput mereka dari airport saat mereka diinfokan (kurang sehat), karena pertimbangan kesehatan sesuai standar nasional dan WHO tidak bisa diberangkatkan,” ujar Djauhari melalui pesan singkat kepada VOA Djauhari menekankan pentingnya menjaga semangat para WNI di Wuhan dalam kondisi seperti ini,  “Mohon bantuan untuk juga ikut membangkitkan semangat mereka agar tetap positive thinking dan bertahan di situasi sulit ini. Itu yang mereka butuhkan saat ini.”  Dukungan dan semangat kepada para WNI yang masih berada di Wuhan mengalir deras. Sebuah akun bernama @Omedjiayou (red: ‘semangat Omed’ dalam Bahasa Mandarin) muncul di Instagram. Puluhan foto diunggah berisikan kumpulan dukungan semangat untuk Humaidi yang direpost dari akun-akun pribadi kawan dan warganet yang bersimpati. Akun @nia_unaizah misalnya yang memberikan semangat kepada Humaidi melalui unggahan yang direpost akun @omedjiayou, "Mas, terimakasih banyak sudah merangkul kami semua. Terimakasih juga sudah bertahan sejauh ini, kami tau mas omet kuat sekali. Semoga Wuhan cepat membaik, dan semoga kita segera bertemu dipenuhi guyonanmu yg kami rindukan. Inget mas, kon gak dewean!" Belum dapat dipastikan kapan WNI yang tersisa di Wuhan bisa dievakuasi. Menurut keterangan KBRI China, seluruh Provinsi Hubei masih dalam isolasi total, termasuk untuk akses keluar masuk. Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto juga belum bisa memastikan waktu evakuasi, “Tergantung kebijakan China apakah mereka sudah boleh keluar Wuhan.” Ia menambahkan tindakan pasca evakuasi yang akan diberikan kepada WNI di Wuhan ini juga belum bisa dipastikan apakah akan sama seperti 238 WNI sebelumnya yang dikarantina di Pulau Natuna awal Februari lalu. (rw/ft)
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kasus Positif Corona di Indonesia Tembus 2.092 Orang 
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Jumlah orang yang tertular virus corona di Indonesia menembus angka 2.092 orang, dan yang patut dice...
Pria Bersenjata Pisau Tewaskan Dua Orang di Prancis Selatan
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Jaksa penuntut umum Prancis mengatakan seorang pria yang mengacungkan pisau telah menyerang sejumlah...
LSM Lingkungan Hidup Perdagangan Satwa Liar Marak Lagi di China
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Sejumlah kelompok konservasi khawatir perdagangan satwa liar akan kembali muncul ketika China mulai ...
Pakistan akan Buka Perbatasan agar Warga Afghanistan Bisa Pulang
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Pakistan, Sabtu (4/4), mengatakan akan membuka perbatasan dengan Afghanistan selama beberapa hari aw...
Kasus Infeksi Virus Corona Seluruh Dunia Melampaui 1 Juta
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Hingga Sabtu (4/4), pandemi virus corona telah menginfeksi lebih dari 1 juta orang dan menewaskan le...
Malaysia Tangkap Ribuan Orang yang Melanggar Karantina Wilayah
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Malaysia telah menangkap lebih dari 4.000 orang karena melanggar berbagai perintah karantina wilayah...
Ekuador Simpan Jenazah Korban Covid-19 di Kontainer Pendingin
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Pemerintah Ekuador mulai menyimpan jenazah korban virus corona di dalam kontainer pendingin sementar...
Penumpang Berkurang Drastis, Pesawat Hanya Angkut Satu Orang
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Pesawat yang nyaris kosong kini menjadi pemandangan umum bagi berbagai maskapai AS, meskipun mereka ...
Trump: AS Hadapi Pekan Terberat, Akan Ada
Senin, 06 April 2020 - 01:30 WIB
Presiden AS Donald Trump, Sabtu (4/4),mengatakan AS akan memasuki apa yang dikatakannya sebagai ming...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV