Picu Gempa, Belanda akan Hentikan Penambangan Gas di Groningen
Elshinta
Senin, 24 Februari 2020 - 08:07 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Picu Gempa, Belanda akan Hentikan Penambangan Gas di Groningen
VOA Indonesia - Picu Gempa, Belanda akan Hentikan Penambangan Gas di Groningen
Pemerintah Belanda mengatakan hari Jumat (21/2) akan mengurangi produksi gas alam dari tambang gas terbesar di Eropa, dan akan menghentikan penambangannya sama sekali tahun 2022, karena seringnya terjadi gempa bumi yang merusak bangunan. Penambangan gas dari lapangan Groningen akan diturunkan sampai tiga milyar meter kubik menjelang tahun 2021, sementara pemilik bangunan yang rusak akan mendapat ganti rugi dan bangunan lainnya diperkuat, kata pernyataan kabinet Belanda. Tahun 2013 tambang itu menghasilkan 53,9 milyar meter kubik gas alam , tapi penduduk yang tinggal di kawasan Groningen sejak lama minta pada pemerintah untuk menutup tambang itu karena seringnya terjadi gempa bumi. Penambangan gas alam secara besar-besaran telah mengakibatkan terjadinya ratusan gempa kecil, yang disebabkan runtuhnya lapisan tanah yang tadinya mengandung gas itu. Lebih dari 900 rumah dan bangunan rusak di Groningen, sejak tahun 2011, yang memicu protes keras dari penduduk. Tahun lalu, kawasan itu dilanda lebih dari 80 gempa. Pemerintah akan mengurangi penambangan gas itu dan menghentikannya secepat mungkin karena keselamatan warga di Groningen lebih penting, kata pernyataan kabinet. Sementara itu, pemerintah juga akan mengajukan rancangan undang-undang yang akan mempercepat usaha penguatan gedung-gedung yang ada di Groningen, dengan mengurangi proses panjang untuk mendapat izin dengan sedikitnya dua bulan. [ii/pp]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Bantuan Rusia untuk Atasi Virus Corona di AS Membingungkan
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Pesawat militer Rusia yang membawa 60 ton peralatan medis tiba di Amerika Serikat akhir Maret lalu. ...
Militer Sudan akan Kembalikan Jasad Perwira yang Dieksekusi Bashir
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Militer Sudan mengatakan akan mengembalikan jasad 29 perwira yang dieksekusi 30 tahun lalu, kepada k...
Hiu Bunuh Petugas Margasatwa Australia di Great Barrier Reef
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Para pejabat, Selasa (7/4), mengatakan seekor hiu membunuh seorang kayawan muda margasatwa Australia...
Kamis, DK PBB akan Gelar Rapat Pertama Bahas Wabah Corona
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Para diplomat mengatakan, Senin (6/4), Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan pertama membahas...
Umat Kristiani Yerusalem Bersiap Rayakan Paskah
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Bagi miliaran orang Kristen di seluruh dunia, minggu ini adalah Pekan Suci, tujuh hari yang terentan...
Pasca Meninggalnya Bupati Morowali Utara, Wartawan Lakukan Isolasi Mandiri
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Meninggalnya Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor akibat virus corona pada 2 April 2020 membuat ...
Stigma Tumbuh Subur di Tengah Wabah Corona
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Pada 10 Maret 2020 lalu, seorang warga berinisial S mendatangi Rumah Sakit Respira di Kabupaten Bant...
Kardinal George Pell Bebas Setelah Vonis Pelecehan Seksual Dibatalkan
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Kardinal Australia George Pell bebas hari Selasa (7/4) setelah Pengadilan Tinggi Australia membatalk...
Finlandia Perpanjang dan Perketat Pembatasan Perjalanan
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Pemerintah Finlandia, Selasa (7/4), memperpanjang dan memperketat pembatasan perjalanan ke dalam dan...
PM Inggris Masih Dirawat di ICU, Jepang Deklarasikan Keadaan Darurat
Rabu, 08 April 2020 - 00:51 WIB
Jepang, Selasa (7/4) bersiap-siap untuk mendeklarasikan keadaan darurat karena virus corona di beber...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV