Dampak Virus Corona, Lobster Australia Kini Dijual Murah
Elshinta
Rabu, 19 Februari 2020 - 01:54 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Dampak Virus Corona, Lobster Australia Kini Dijual Murah
ABC.net.au - Dampak Virus Corona, Lobster Australia Kini Dijual Murah

Merebaknya virus corona di China telah menyebabkan permintaan lobster dari Australia menurun tajam, sehingga memicu anjloknya harga makanan laut yang dikenal mahal ini.

Menurunnya harga lobster ini akan berdampak buruk dalam jangka panjang bagi industri yang sebagian besar terkonsentrasi di Australia Barat bila virus corona tidak tertangani dengan baik.

China adalah pembeli terbesar industri bernilai $AUD 500 juta ini, yang membeli 98 persen dari produksi 6.615 ton setiap tahunnya.

Biasanya permintaan lobster dari China akan mencapai puncaknya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, sekitar 40-50 ton per hari.

Geraldton Fishermens Co-operative (GFC) adalah koperasi yang menguasai 60 persen produksi lobster di Australia dan sejak dua pekan lalu menghentikan pengiriman lobster ke China, karena menurunnya permintaan.

Menurut CEO GFC Matt Rutter, saat ini banyak tangkapan lobster yang berada di pusat penampungan di Australia dan mereka harus menjual produk tersebut dengan harga rendah, termasuk di dalam negeri.

Saat ini harga lobster paling mahal kelas A jenis western rock dihargai $AUD 33 (sekitar Rp 330 ribu), padahal sebelum adanya wabah corona virus, harganya Rp 480 ribu.

"Kami sebenarnya tidak memiliki banyak lobster di kolam penyimpanan," kata Rutter.

"Kami memperkirakan persedian yang ada sekitar 1 bulan, dan kami terus berusaha menjual lobster ini ke pasar mana saja."

"Di seluruh Australia, ada beberapa ratus ton lobster yang sudah ditangkap namun belum dikapalkan ke China sebelum pasar ditutup. Ini seluruh Australia."

"Dari ratusan ton itu, sebagian di antaranya adalah lobster western rock."

Harga lobster saat ini bukanlah yang terendah namun Rutter mengatakan sudah lebih rendah dari harga pasaran dunia.

"Masih belum pasti kapan pasar China akan dibuka lagi," kata Rutter.

"Situasi ini akan berkembang terus dan karenanya harga akan turun."

Menurut Matt Rutter, dampak dari penutupan perdagangan lobster ke China sangat luas.

"Karena tidak ada penangkapan yang dilakukan, tidak ada truk yang jalan, tidak ada depot yang menerima lobster. Banyak staf yang sebelumnya bekerja, sekarang harus berhenti kerja sampai produksi dimulai lagi."

"Jadi bukan saja para nelayan yang mengalami dampaknya, namun semua orang yang menggantungkan hidupnya dari industri ini terkena."

Sebagai perusahaan yang melakukan ekspor lobster terbesar dari Australia, GFC memiliki kapasitas penyimpanan 220 ton, dengan tempat penyimpanan tersebut bisa memuat pasokan lobster selama 4 sampai 6 minggu.

Sambil menunggu China membuka pintu bagi perdagangan lobster, Rutter mengatakan mereka berusaha mencari pasar baru termasuk pasar domestik, juga ke Jepang, Taiwan, Asia Tenggara dan Amerika Serikat.

Lihat artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Australia Punya Momen Seperti George Floyd, Tapi Tak Memicu Kecaman Luas
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:22 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Kesedihan mendalam yang dirasakan akibat kematian George F...
Polisi New South Wales Selidiki Anggotanya yang Menendang Remaja Aborigin
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:22 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Kepolisian New South Wales yang bermarkas di Sydney sedang...
Kakak George Floyd Minta Kerusuhan Dihentikan, Trump Ancam Kerahkan Militer
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:22 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Saudara laki-laki George Floyd, Terrence telah menyerukan ...
Puncak Virus Corona Jawa Timur di Bulan Juli, Jangan Tergesa Ke New Normal
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:22 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Puncak penularan kasus COVID-19, paling tidak di Kabupaten...
Apa Itu Antifa yang disebut Presiden Trump Sebagai Organisasi Teroris?
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:22 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan ia...
Beredar Petisi Terkait Koleksi Indonesia di Perpustakaan Nasional Australia
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Sebuah petisi online sekarang sedang beredar yang ditujukan kepada Perpustakaan Nasional Australia (...
Australia Tetap Prioritaskan Membantu Indonesia Saat Pandemi Virus Corona
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Strategi bantuan luar negeri Australia di masa pandemi COV...
New Normal di Australia yang Belum Tentu Bisa Ditiru Negara Lain
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Kondisi new normal sedang banyak dibicarakan di hampir sem...
WNI di Amerika Serikat: Sikap Rasialis Makin Terasa Sejak Trump Berkuasa
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Aksi unjuk rasa dan kerusuhan yang terjadi di berbagai kot...
Bisakah Warga di Australia Menolak Kembali ke Kantor dam Bekerja Dari Rumah?
Selasa, 02 Juni 2020 - 08:15 WIB
Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia.Kemungkinan untuk kembali bekerja di kantor atau tempat ke...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV