Kenapa Makin Banyak Balita Indonesia yang Kerdil Padahal Negara Makin Kaya?
Elshinta
Kamis, 26 Desember 2019 - 08:47 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kenapa Makin Banyak Balita Indonesia yang Kerdil Padahal Negara Makin Kaya?
ABC.net.au - Kenapa Makin Banyak Balita Indonesia yang Kerdil Padahal Negara Makin Kaya?

Setelah dibujuk berkali-kali, akhirnya Siti Dalfa mau berdiri di depan meteran pengukur tinggi badan yang dipasang di dinding rumahnya di Cipanas, Jawa Barat. Tingginya terbilang cocok untuk balita berusia 15 bulan.

30 Persen Balita Stunting

  • Sekitar 30,8 persen balita di Indonesia mengalami stunting atau tinggi badan lebih pendek dari rata-rata usia sebaya
  • Presiden Joko Widodo mencanangkan untuk menghilangkan masalah stunting ini pada 2030
  • Dongeng mengenai air beras mungkin salah satu faktor penyebab

Masalahnya, Dalfa berusia 21 bulan. Artinya, tinggi badannya lebih rendah daripada rata-rata balita sebayanya.

Tapi Dalfa tidak sendirian. Sekitar satu dari tiga balita di Indonesia saat ini diperkirakan mengalami kondisi pertumbuhan yang lambat atau stunting.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita akibat gizi buruk, infeksi berulang, serta stimulasi psikososial yang tak memadai.

Windy, ibu Dalfa yang berusia 21 tahun hari itu tampak kesal karena putrinya tidak tumbuh dengan baik.

"Dia sering sakit-sakitan. Terakhir beberapa bulan yang lalu," katanya kepada ABC News.

"Bahkan pernah ada satu bulan ketika tingginya tidak bertambah sama sekali. Jelas saya sangat sedih," ujarnya.

Tetangga Windy, Papat Fatimah, juga memiliki seorang putri berusia tiga tahun, Alilah Tulhaniah, yang tingginya hanya 78 sentimeter.

Tinggi badan Alilah sama dengan anak yang usianya separuh lebih muda darinya.

Namun Papat tidak sekhawatir Windy. Sebab menurutnya, stunting adalah sesuatu yang normal di desa mereka.

"Anak ini baik-baik saja kok. Perasaanku dia baik-baik saja. Tidak ada yang berbeda," katanya.

Padahal stunting bukan sekadar masalah tinggi badan pada balita.

Dampak lain dari kondisi stunting termasuk bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak. Di masa depan, penghasilan mereka bisa berkurang hingga 20 persen.

Kondisi stunting sudah tidak bisa lagi dipulihkan begitu anak mencapai usia dua tahun.

Mengapa Banyak Balita Alami Stunting

Pengukuran tinggi badan Dalfa dan Alilah hari itu dilakukan Valerie Krisni dari LSM 1.000 Days, yang bertujuan memberantas stunting di Indonesia pada tahun 2030.

Meski Indonesia sudah masuk kategori negara berpenghasilan menengah menurut ukuran Bank Dunia, tapi kondisi stunting di sini justru lebih tinggi daripada Sudan Selatan dan Somalia.

"Sangat mengecewakan bagi saya ketika Indonesia, negara terbesar di Asia Tenggara, negara anggota G20, memiliki prevalensi tinggi badan hampir setara dengan beberapa negara Afrika," katanya.

"Masalah stunting ini sangat memilukan di Indonesia," ujar Valerie.

LSM 100 Days mengambil inspirasi dari 1000 hari kehidupan seorang bayi, sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Dalam periode inilah 80 persen pertumbuhan otak manusia berlangsung.

Stunting atau lazim juga disebut pengerdilan disebabkan oleh kesehatan dan gizi ibu yang buruk.

Memberi makanan selain ASI selama enam bulan pertama kehidupan bayi adalah salah satu cara mencegah stunting.

Menurut Valerie, di sejumlah daerah ibu-ibu justru mengganti ASI mereka dengan air beras.

"Saya rasa karena banyak orang menganggap air beras menyerupai ASI karena warnanya sama, sehingga mereka pikir air beras bisa mengganti ASI," katanya.

Tidak sedikit ibu melahirkan akan mengganti ASI dengan air beras, karena tak mampu membeli susu formula atau tidak menghasilkan ASI yang cukup.

Menurut Valerie, faktor penyebab lain maraknya stunting yaitu kesalahpahaman tentang seberapa banyak ASI yang dibutuhkan seorang balita.

"Ketika bayi berumur sekitar satu hari, mereka mungkin hanya perlu satu sendok ASI. Banyak ibu melahirkan yang tidak tahu hal ini," jelasnya.

Terjadi infeksi dan diare akibat buruknya kebersihan juga menjadi kontributor terbesar kondisi stunting.

Di desa yang dikunjungi Valerie, toiletnya tidak memiliki pembilasan memadai. Para perempuan yang ditemuinya memasak dan mencuci dengan menggunakan air yang tidak bersih.

Rokok menyebabkan stunting?

Kementerian Kesehatan RI telah menargetkan dalam empat tahun ke depan untuk mengurangi separuh tingkat stunting pada balita.

Salah satu faktor risiko terhambatnya pertumbuhan anak yaitu orangtua yang lebih memilih membeli rokok daripada membeli makanan untuk bayinya.

Ketika hal itu ditanyakan ke Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dia berdalih bahwa kuncinya adalah pendidikan.

"Kita tidak bisa melanggar hak asasi manusia, oleh karena itu pendidikan dilakukan untuk membangun kesadaran," ujarnya.

Sebelum mengunjungi Cipinas, Valeria sempat memberikan pelatihan bagi para voluntir tentang cara pencegahan stunting.

Dalam pelatihan itu hadir satu-satunya pria, Dedi Supardi (50 tahun), yang dulunya seorang kepala desa.

Dia mengaku ikut pelatihan ini dalam upaya untuk meningkatkan kondisi kesehatan di desanya sendiri.

"Kalau bukan saya, siapa lagi?" ujar Pak Dedi.

Dia sangat menyesalkan para orangtua yang membuang-buang uang demi membeli rokok.

"Bagi saya, kesehatan anak-anak lebih penting daripada merokok. Jika uangnya terbatas, seharusnya orang mengurangi membeli rokok," katanya.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
PBB: Perubahan Iklim Ancam Masa Depan Semua Anak-Anak
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Masa depan setiap anak di dunia terancam karena negara-negara di seluruh dunia gagal meredam dampak ...
Musim Karnaval di Jerman
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Pesta karnaval di Jerman, yang sering disebut sebagai "musim ke-5" ini, memasuki masa puncaknya. Kot...
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Fenomena kapal hantu, maksudnya kapal yang ditemukan tanpa awaknya, adalah fenomena yang sering diga...
Polemik RUU Ketahanan Keluarga: Dari Tumpang-tindih Sampai Langgar Hukum Internasional
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga yang masuk dalam program legislasi nasional (proleg...
7 Fakta Tentang Serangan Terorisme di Hanau Jerman
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Serangan di Hanau Aksi Terorisme Ekstrem Kanan Bermotif Rasisme
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Belum banyak informasi tentang sosok pelaku tunggal yang melakukan aksi penembakan di kota Hanau. Me...
Opini: Kebencian di Jantung Jerman
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Hanau hanyalah kasus yang terbaru. Untuk ketiga kalinya dalam hanya beberapa bulan, hawa kebencian t...
Kaum Muda Iran Sambut Dingin Proses Pemilihan Umum
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Banyak orang yang menginginkan perubahan, tetapi lemahnya kekuatan institusi terpilih di Republik Is...
8 Orang Tewas Ditembak di Hanau, Jerman
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Polisi Jerman mengatakan delapan orang mati ditembak di Kota Hanau pada  Rabu (19/2) malam. Perny...
Assange Ditawari Pengampunan Asal Bilang Rusia Tak Intervensi Pilpres AS 2016 
Jumat, 21 Februari 2020 - 09:24 WIB
Pendiri Wikileaks, Julian Assange, mengatakan pemerintahan Trump telah menawarkan akan memberikan pe...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)