Wartawan Indonesia yang Separuh Buta: ‘’Tuhan Memberi Saya Kesempatan untuk Mencari Keadilan’’
Elshinta
Senin, 23 Desember 2019 - 11:37 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Wartawan Indonesia yang Separuh Buta: ‘’Tuhan Memberi Saya Kesempatan untuk Mencari Keadilan’’
VOA Indonesia - Wartawan Indonesia yang Separuh Buta: ‘’Tuhan Memberi Saya Kesempatan untuk Mencari Keadilan’’
Hampir dua bulan lalu, wartawan Veby Mega Indah sedang meliput protes anti-pemerintah di Hong Kong, ketika ia merasakan sengatan tajam di bola mata kanannya.  “Saya sedang melakukan live-streaming, dan sebelum saya menyadari apa yang terjadi, saya mendengar dua letutan senjata yang sangat keras, dan saya melihat asap putih dari tangga di mana polisi berada,” ujarnya kepada VOA.  Veby lalu terjatuh. Sejumlah wartawan lain segera datang membantunya. “Ia (seorang wartawan lain.red) memeluk saya dan kami jatuh ke lantai,” ujar Veby, yang berusia 39 tahun. “Berkat dirinya, saya tidak mengalami cedera otak atau lainnya. Kami langsung jatuh ke lantai dan ia tetap memeluk saya. Saya tidak bisa membuka mata saya lagi. Saya tidak bisa merasakan wajah saya,” tambahnya. Veby diyakini terkena peluru karet ketika sedang melakukan live-streaming demonstrasi dari salah satu sudut jembatan penyebrangan bagi pejalan kaki. Rekanan editor “Suara Hong Kong News” – sebuah outlet berita bagi warga migran asal Indonesia – pada Minggu siang (29/9) itu justru menjadi bagian dari laporan demonstrasi. Ketika berita tentang cedera yang dialaminya menarik perhatian media internasional, Veby menyadari bahwa tidak seperti ratusan atau bahkan ribuan orang yang luka-luka dalam demonstrasi itu, ia ketika tertembak sedang berada dalam posisi mendekati polisi, tanpa menghadapi risiko untuk ditangkap. “Banyak orang yang luka-luka di Hong Kong tidak dapat melakukan apa yang saya lakukan karena jika mereka melakukannya, mereka dapat dituntut,” ujarnya.  "Jadi hal ini saya lakukan bukan untuk diri saya sendiri…Tuhan memberi saya kesempatan untuk mencari keadilan,”lanjutnya. “Jika saya tidak melakukannya, saya merasa malu terhadap diri saya sendiri.”  Proyektil yang menghantam Veby telah membuat mata kanannya tidak dapat melihat lagi.  Kota di bawah kekuasaan China itu telah diguncang aksi demonstrasi selama lebih dari enam bulan, yang sesekali bergulir menjadi aksi kekerasan, ketika para aktivis menyerukan sejmlah tuntutan, antara lain demokrasi yang lebih luas dan penyelidikan independen terhadap tindakan polisi. Polisi, yang telah membubarkan demonstrasi dengan gas air mata dan peluru karet, mengatakan mereka telah menahan diri menghadapi terus meningkatnya aksi kekerasan.  Veby, yang belum dapat kembali bekerja, kini diwakili oleh pengacara HAM Hong Kong yang berkantor di Inggris, Michael Vidler. Suratkabar “The South China Morning Post” melaporkan Veby telah mengajukan permohonan bantuan hukum untuk membiayai kasusnya. (em/pp)
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Botol Minuman di Australia Dihargai Seribu Rupiah Agar Warga Mau Daur Ulang
Senin, 24 Februari 2020 - 08:08 WIB
Mulai tahun 2023, warga di negara bagian Victoria bisa mendapat 10 sen dolar Australia dari setiap k...
Dibunuh pelan-pelan: Kru Kapal Asal Indonesia Minta Segera Dievakuasi
Senin, 24 Februari 2020 - 08:08 WIB
Kru kapal asal Indonesia di Diamond Princess telah menyampaikan pesan agar segera dievakuasi dari ka...
Berawal dari Bahagiakan Istri, Tasmania Kini Punya Potensi Ditanami Padi
Senin, 24 Februari 2020 - 08:08 WIB
Apa yang dilakukan oleh Joseph Hartley sebagai bentuk perbuatan romantis kepada istrinya, sekarang m...
Mengapa Makin Banyak Perempuan di Negara Barat Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga?
Senin, 24 Februari 2020 - 08:08 WIB
Danielle merupakan sosok perempuan modern yang terpesona pada "kehangatan jaman dulu". Ia mengaku ba...
Kodok Berkaki Lima Ini Diamputasi Agar Tetap Bisa Memiliki Hidup yang Normal
Senin, 24 Februari 2020 - 08:08 WIB
Karena hidupnya terganggu dengan memiliki lima kaki, seekor kodok di Australia akhirnya menjalani am...
Orang Pertama di Eropa Meninggal karena Virus Korona
Senin, 24 Februari 2020 - 08:07 WIB
Orang pertama di Eropa meninggal karena virus korona, hanya beberapa jam setelah 10 kota dinyatakan ...
Picu Gempa, Belanda akan Hentikan Penambangan Gas di Groningen
Senin, 24 Februari 2020 - 08:07 WIB
Pemerintah Belanda mengatakan hari Jumat (21/2) akan mengurangi produksi gas alam dari tambang gas t...
Perusahaan Spanyol akan Bangun Jalan Kereta Api Cepat Pertama di AS
Senin, 24 Februari 2020 - 08:07 WIB
Perusahaan kereta api Spanyol Renfe, Kamis (20/2), mengatakan telah mencapai persetujuan dengan peru...
Pemerintah akan Segera Evakuasi WNI dari Kapal Diamond Princess
Senin, 24 Februari 2020 - 08:07 WIB
Pemerintah akhirnya memutuskan akan mengevakuasi 74 WNI di kapal pesiar Diamond Princess dari Yokoha...
Dalai Lama Peringati 80 Tahun Penobatannya
Senin, 24 Februari 2020 - 08:07 WIB
Dalai Lama pada Sabtu (22/2) memperingati 80 tahun penobatannya sebagai pemimpin spiritual Tibet.  ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)