Banner imlek 2020
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Elshinta
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
BBC Indonesia - Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022

Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Doping Dunia (Wada). Ini adalah sanksi terparah yang diberlakukan kepada sebuah negara dalam ajang olah raga.

Artinya, bendera dan lagu kebangsaan Rusia tidak akan muncul dalam ajang Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020, serta Piala Dunia 2022 di Qatar.

Akan tetapi, atlet yang bisa membuktikan diri mereka tidak terlibat dalam skandal doping akan diperbolehkan ikut serta dengan menggunakan bendera netral.

Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev, mengatakan bahwa pelarangan itu adalah bagian dari "histeria anti-Rusia yang kronis".

"Sangat jelas bahwa masalah besar doping masih terjadi di Rusia, maksud saya dalam komunitas olahraga kami," katanya. "Ini sulit disangkal."

"Tapi di sisi lain, fakta bahwa semua keputusan ini diulangi, sering kali memengaruhi atlet yang sudah dihukum sebelumnya dengan satu atau lain cara, belum lagi beberapa poin lainnya - tentu saja ini membuat orang berpikir bahwa ini adalah bagian dari histeria anti-Rusia yang telah menjadi kronis."

Komite eksekutif Wada dengan suara bulat memberlakukan larangan terhadap Rusia dalam pertemuan di Lausanne, Swiss, pada Senin (09/12).

Hal itu terjadi setelah Badan Anti-Doping Rusia (Rusada) dinyatakan tidak patuh karena memanipulasi data laboratorium yang diserahkan kepada penyelidik pada Januari 2019.

Mereka harus menyerahkan data kepada Wada sebagai syarat pemulihan kembali yang kontroversial pada 2018 setelah menjalani skorsing selama tiga tahun akibat skandal doping yang disponsori negara.

Hak atas foto ALEXANDER NEMENOV/AFP via Getty Images
Image caption Rusada diberi waktu tiga minggu untuk mengajukan banding atas pelarangan yang dijatuhkan Wada.

Wada mengatakan bahwa Rusada punya 21 hari untuk mengajukan banding terhadap pelarangan itu. Jika mereka melakukannya, banding itu akan dirujuk ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (Cas).

Presiden Wada Sir Craig Reedie mengatakan bahwa keputusan tersebut menunjukkan "tekad untuk bertindak tegas dalam menghadapi krisis doping Rusia" oleh lembaganya.

Ia menambahkan: "Sudah terlalu lama, kasus doping Rusia menurunkan citra olahraga bersih. Pelanggaran terang-terangan oleh otoritas Rusia terhadap kondisi pemulihan Rusada menuntut respons yang tegas.

"Itulah tepatnya yang telah dilakukan.

"Rusia diberi segala kesempatan untuk berbenah dan bergabung kembali dengan komunitas anti-doping demi para atlet dan integritas olahraga, akan tetapi mereka justru memilih melanjutkan sikapnya yang penuh kecurangan dan penyangkalan."

Hak atas foto Mark Metcalfe/Getty Images
Image caption Atlet angkat beban peraih medali Paralimpiade asal Inggris, Ali Jawad, mengkritik keras langkah Wada yang dinilainya masih "lembek" dalam menghadapi Rusia.

Akan tetapi, Wakil Presiden Wada, Linda Helleland, mengatakan bahwa pelarangan itu "tidak cukup".

"Saya ingin sanksi yang tidak bisa dipermudah," ungkapnya. "Kami berutang kepada atlet-atlet yang bersih untuk menerapkan sanksi sekuat mungkin."

Sebanyak 168 atlet Rusia berlomba menggunakan bendera netral dalam ajang Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang setelah negara tersebut menerima pelarangan menyusul penyelenggaraan tahun 2014 di Sochi, Rusia.

Di Sochi, atlet Rusia memenangkan 33 medali, 13 di antaranya adalah medali emas.

Rusia dilarang ikut berkompetisi sebagai sebuah negara di cabang atletik sejak 2015.

Meskipun ada larangan, Rusia akan bisa bertanding di Euro 2020 - St Petersburg menjadi tuan rumah - karena badan pengatur sepakbola Eropa UEFA tidak tergolong sebagai organisasi penyelenggara ajang utama seperti yang dimaksud dalam keputusan mengenai pelanggaran anti-doping.

Fifa mengatakan bahwa pihaknya "telah mencatat" keputusan Wada, dan menyatakan: "Fifa berkomunikasi dengan Wada untuk mengklarifikasi sejauh mana keputusan itu berpengaruh terhadap sepak bola."

Hak atas foto ALEXANDER NEMENOV/AFP via Getty Images
Image caption Rusia diganjar larangan berkompetisi dalam ajang olahraga utama dunia, seperti Olimpiade dan Piala Dunia, dalam empat tahun ke depan.

Dalam sebuah pernyataan, Komite Paralimpiade Internasional (IPC) menyatakan: "Siapapun yang bertanggung jawab memanipulasi data dari laboratorium Moskow sebelum diberikan kepada Wada tampak telah melakukan segala cara untuk melemahkan prinsip-prinsip olahraga yang adil dan bersih, prinsip-prinsip yang didukung dan dipatuhi dunia olahraga.

"Kurangnya rasa hormat yang disengaja terhadap gerakan olahraga dunia ini tidak diinginkan dan tidak memiliki tempat di dunia olahraga. Merupakan hal yang benar bahwa mereka yang bertanggung jawab atas manipulasi data itu diberi hukuman."

Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengatakan bahwa pihaknya "mendukung" keputusan Wada.

Bagaimana bisa seperti ini?

Rusada awalnya diumumkan tidak patuh pada November 2015 setelah laporan yang diminta Wada dan disusun oleh pengacara olahraga Profesor Richard McLaren menduga keras adanya korupsi meluas berupa aksi doping yang disponsori negara dalam cabang olah raga atletik.

Laporan lanjutan yang diterbitkan bulan Juli 2016 menyatakan Rusia menjalankan program doping yang disponsori negara selama empat tahun sepanjang "sebagian besar" ajang olahraga Olimpiade musim panas dan musim dingin.

Hak atas foto KIRILL KUDRYAVTSEV/AFP via Getty Images
Image caption Peraih medali perak Olimpiade London asal Rusia, Anastasia Fesikova, telah berlatih dengan harapan dapat ikut berkompetisi di Olimpiade Tokyo tahun 2020 mendatang.

Pada 2018, Wada menyatakan kembali bahwa Rusada patuh, setelah badan nasional tersebut sepakat untuk merilis data dari laboratoriumnya di Moskow untuk periode Januari 2012 hingga Agustus 2015.

Meski demikian, temuan positif yang terdapat dalam sebuah versi yang dikeluarkan seorang pelapor dari dalam (whistleblower) tahun 2017 lalu tidak muncul dalam data Januari 2019, yang kemudian memicu penyelidikan baru.

Komite peninjauan kepatuhan Wada (CRC) merekomendasikan sederet tindakan "khususnya" berdasarkan ketidakkonsistenan hasil peninjauan forensik yang ditemukan dalam data tersebut.

Sebagai bagian dari pelarangan, Rusia tidak diperbolehkan menjadi tuan rumah, atau mengajukan diri maupun diberikan hak untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan ajang olahraga utama selama empat tahun, termasuk Olimpiade dan Paralimpiade 2032.

Seperti apa reaksi yang muncul?

Pelapor dari dalam (whistleblower) Grigori Rodchenkov, yang merupakan mantan pejabat anti-doping Rusia yang melarikan diri ke Amerika Serikat setelah menyatakan tuduhannya tentang program doping yang disponsori negara, mengatakan bahwa masih ada "banyak hal yang harus dilakukan".

Hak atas foto Dominika Zarzycka/NurPhoto via Getty Images
Image caption Kepala Badan Anti-Doping Rusia (Rusada) Yuri Ganus menghadiri Konferensi Dunia tentang Doping dalam Dunia Olahraga 2019 yang diselenggarakan Wada di Polandia, 6 November 2019.

"Akhirnya, penipuan, kebohongan dan pemalsuan proporsi yang tak terkatakan sebelumnya telah dihukum sepenuhnya," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Mereka yang terlibat dalam korupsi sejumlah olahraga seperti atletik, angkat beban, ski, biathlon, dan bobsleigh, seharusnya dihukum secara retroaktif. Hasil dari Olimpiade London dan Sochi seharusnya dianalisa ulang dan dipertimbangkan ulang dengan informasi baru yang muncul sekarang.

"Kita hanya punya beberapa bulan untuk menganalisa ulang sampel dari Olimpiade London tahun 2012 karena, menurut peraturan Wada, kita hanya memiliki waktu delapan tahun untuk melakukan peninjauan.

"Ada satu generasi atlet bersih yang dengan susah payah meninggalkan impian mereka dan kehilangan penghargaan karena para penipu Rusia. Kita perlu mengambil tindakan paling tegas untuk membawa keadilan kembali ke dalam dunia olahraga."

Kepala Eksekutif Anti-Doping Inggris (Ukad), Nicole Sapstead,mengatakan bahwa keputusan Wada untuk menerapkan larangan terhadap Rusia adalah "satu-satunya cara yang mungkin" untuk "meyakinkan atlet dan publik dan melanjutkan tugas menegakkan keadilan bagi mereka yang dicurangi atlet Rusia".

Namun, Travis Tygart, kepala eksekutif Badan Anti-Doping AS, mengatakan bahwa penerapan larangan yang tidak diberlakukan terhadap seluruh partisipasi atlet Rusia - bahkan mereka yang mewakili bendera netral - merupakan "pukulan telak" bagi atlet yang bersih.

"Reaksi semua yang menghargai olahraga seharusnya tidak kurang dari pemberontakan terhadap sistem yang rusak ini untuk memaksa dilakukannya perombakan," katanya, menambahkan bahwa kasus ini merupakan "Hari Groundhod yang mengerikan lainnya dari korupsi dan dominasi Rusia".

"Wada menjajikan kepada dunia pada tahun 2018 bahwa jika Rusia kembali gagal memenuhi kesepakatan, mereka akan memberlakukan sanksi paling tegas dalam aturan yang ada. Tapi, lagi-lagi; Wada mengatakan satu hal dan melakukan hal yang sama sekali berbeda."

Atlet angkat beban Inggris dan peraih medali Paralimpiade, Ali Jawad, yang merupakan anggota komisi atlet Anti-Doping Inggris, berpendapat bahwa Wada "lembek".

"Untuk melindungi generasi atlet Rusia berikutnya, kita harus memastikan bahwa Rusia dan sistemnya dihukum seberat mungkin," kata Jawad kepada BBC Radio 5 Live.

"Satu-satunya cara kita bisa mengubah itu adalah dengan perubahan yang berarti, tapi pesan apa yang diperlihatkan dari ini semua kepada generasi mendatang? Bahwa, sebenarnya, soal doping yang disponsori negara, kami akan menanganinya secara lembek."

Hak atas foto Luke Walker/Getty Images
Image caption Peraih tiga medali Olimpiade asal Inggris, Kelly Sotherton, memahami mengapa sanksi yang lebih keras tidak dijatuhkan kepada Rusia.

Baroness Tanni Grey-Thompson mengatakan kepada Radio Wales bahwa Wada kini telah "melangkah maju" dan terus berjalan setelah "tidak menganggapnya serius".

"Ada beberapa hal: akan ada atlet Rusia yang bersih, sayang sekali bagi mereka, tapi ada juga banyak atlet bersih lainnya yang sudah terpengaruh oleh siapapun yang menerima doping," ujarnya.

"Bagi atlet yang bersih, atlet Inggris yang telah kalah, Goldie Sayers, tim bobsleigh Inggris yang memenangkan medali mereka bertahun-tahun kemudian, ini bukanlah balasan."

Peraih tiga medali Olimpiade Kelly Sotherton, yang dianugerahi medali perunggu heptathlon 2008 setelah Tatyana Chernova dari Rusia gagal membatalkan larangan doping, mengatakan dia memahami mengapa sanksi yang lebih keras tidak dijatuhkan.

"Saya pikir mereka memikirkan mayoritas atlet yang melakukan hal yang benar, bukan yang melakukan kesalahan," katanya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV