Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Elshinta
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
BBC Indonesia - Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik

"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti saya dan jenis rambut seperti saya, tidak pernah dianggap cantik."

"Saya pikir sudah waktunya hal itu berhenti hari ini."

Itulah pesan Zozibini Tunzi, perempuan asal Afrika Selatan yang baru dinobatkan sebagai Miss Universe.

Dia merupakan satu dari 90 lebih perempuan dari berbagai penjuru dunia yang ikut ambil bagian dalam kontes kecantikan di Atlanta, Amerika Serikat.

Zozibini berhak mengenakan mahkota setelah mengalahkan finalis asal Puerto Rico, Madison Anderson, serta Sofia Aragon dari Meksiko.

Para finalis ditanyai sejumlah pertanyaan mengenai beragam topik, seperti perubahan iklim, demonstrasi, dan media sosial.

Pada pertanyaan terakhir, Zozibini ditanya apa yang harus diajarkan kepada para perempuan muda zaman sekarang?

Jawabannya: kepemimpinan.

"Itu adalah sesuatu yang masih kurang pada perempuan muda dan wanita dewasa dalam waktu yang sangat lama. Bukan karena kami tidak ingin [memimpin], tapi karena label yang diberikan masyarakat terhadap perempuan," paparnya.

"Saya pikir kami adalah makhluk paling kuat di dunia dan kami seharusnya diberikan setiap peluang."

"Dan itulah yang harus kita ajarkan kepada perempuan-perempuan muda ini—untuk mengambil tempat."

Hak atas foto EPA
Image caption Zozibini dirujuk penyelenggara Miss Universe sebagai perempuan yang "bangga menyokong kecantikan alami".

Zozibini adalah perempuan berkulit hitam pertama yang memenangi kontes Miss Universe sejak Leila Lopes pada 2011.

Mantan Miss Universe asal Angola itu mengucapkan selamat kepada Zozibini melalui Instagram dengan tulisan: "Selamat ya, kamu membuat kami sangat bangga."

Menanggapi kemenangannya, Zozibini menulis: "Malam ini sebuah pintu telah dibuka dan saya tidak henti-hentinya bersyukur menjadi orang yang berjalan melaluinya."

"Kiranya setiap anak perempuan yang menyaksikan momen itu selamanya meyakini kekuatan mimpi-mimpinya dan kiranya mereka menyaksikan wajah mereka tercermin pada wajah saya."

"Saya bangga menyatakan nama saya Zozibini Tunzi, Miss Universe 2019!"

Tagar #MissUniverse lantas menjadi trending di Twitter dan namanya disebut oleh Oprah Winfrey.

Sejumlah orang menggarisbawahi pentingnya seorang perempuan berkulit hitam dengan rambut alami memenangi kontes kecantikan.

Zozibini, yang meraih gelar Miss Afrika Selatan pada Agustus lalu dirujuk penyelenggara Miss Universe sebagai perempuan yang "bangga menyokong kecantikan alami".

Lebih lanjut, Zozibini disebut sebagai "pegiat yang berenjana (passionate) dan terlibat dalam peperangan melawan kekerasan bermotif gender".

"Dia mendedikasikan kampanye media sosial untuk mengubah narasi seputar stereotipe-stereotipe gender."

Kendati hadiahnya tidak diungkap penyelenggara Miss Universe, Zozibini diperkirakan mendapat gratis sewa apartemen di New York selama setahun dan upah senilai US$100.000 (Rp1,4 miliar).

Dia juga akan bepergian keliling dunia untuk bertemu media sekaligus mendapat peluang di bidang model.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wakil Indonesia, Frederika Cull, menembus 10 besar Miss Universe 2019.

Miss Universe dan kontes kecantikan lainnya berulang kali dikritik berbagai kalangan yang mempertanyakan apakah kontes-kontes tersebut punya tempat pada masyarakat zaman sekarang.

Seorang warganet mencuit: "Kontes kecantikan yang menempatkan perempuan bertarung satu sama lain sudah sangat ketinggalan zaman."

Penyelenggara kontes-kontes itu kemudian berupaya menyesuaikan konsep acara. Beberapa bahkan berfokus pada raihan para kontestan dan memberikan panggung agar mereka bisa bersuara.

Kendati demikian, kontes Miss Universe masih menampilkan kompetisi pakaian renang sehingga para kontestan dapat berpose sembari mengenakan bikini—walau bagian itu tidak ditayangkan di televisi.

Tahun lalu, kontestan asal Inggris, Dee-Ann Kentish-Rogers, mengatakan kepada BBC bahwa kontes kecantikan masih punya tempat.

"Salah satu masalah terbesar yang dimiliki perempuan pada abad ke-21 adalah kesempatan sehingga orang-orang bisa mendengar mereka," ujarnya.

"Kami harus sangat kreatif untuk menciptakan tempat untuk kami sendiri."

Hak atas foto Kev Wise
Image caption Dee-Ann Kentish-Rogers mendapat gelar Miss Universe Great Britain pada 2018.

Dia mengakui bahwa pertanyaan mengenai kontes kecantikan dan standar kecantikan "dapat dipahami".

"Sebagai seseorang yang sudah melalui sistem itu, saya akan memperjuangkannya untuk perempuan-perempuan muda."

Kontes kecantikan lainnya, Miss World, baru-baru ini dihujani kritik karena melarang ibu untuk ikut serta bersaing.

Model Veronika Didusenko, 24, diberi gelar Miss Ukraina 2018. Namun gelar itu dicabut ketika pihak penyelenggara mengetahui dia memiliki seorang putra.

Dia memutuskan untuk mengambil langkah hukum untuk melawan kebijakan kontes tersebut.

"Saya ingin membuat kontes itu lebih sesuai dengan zaman sekarang dan mencerminkan realitas perempuan masa kini--yang bisa menyeimbangkan karier dan kehidupan pribadi mereka dengan sempurna," tuturnya kepada BBC Newsbeat.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV