Bagaimana Ulama Wahabi Terbelah Soal Penawaran Saham Aramco
Elshinta
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Bagaimana Ulama Wahabi Terbelah Soal Penawaran Saham Aramco
DW.com - Bagaimana Ulama Wahabi Terbelah Soal Penawaran Saham Aramco

Modernisasi Arab Saudi yang dipacu oleh Pangeran Muhammad bin Salman dengan mengikis doktrin Wahabisme kini ikut membayangi proses penawaran saham perdana (IPO) milik perusahaan minyak negara, Aramco.

Raksasa minyak asal Teluk itu berniat menjual 1,5% sahamnya senilai USD 25 miliar. Namun keterlambatan dan keterbatasan profil calon pembeli, di mana investor dalam negeri dan negara Teluk lebih didahulukan, membuat lesu reaksi pasar. Sejauh ini saham Aramco hanya menghasilkan permintaan sebesar 1,7 kali lipat dari jumlah saham yang ditawarkan.

Padahal penjualan saham perdana National Commercial Bank pada 2014 silam memicu serbuan pelaku saham yang mencatat tingkat permintaan sebesar 23 kali lipat.

Baca juga:Arab Saudi Longgarkan Peraturan Perwalian: Reformasi Nyata atau Sekadar Simbol?

Namun kali ini pemerintah harus bekerja keras membibit ketertarikan investor dengan menggelar kampanye nasional menyebut investasi merupakan bagian dari tugas patriotik dan bank-bank lokal menawarkan "pinjaman IPO" berbunga rendah. Aramco juga menjanjikan keuntungan berganda buat pemegang saham lokal.

Terbatasnya minat pengusaha lokal antara lain diyakini disebabkan oleh perdebatan soal hukum Fiqh yang kini menjadi fron terdepan modernisasi Arab Saudi. Ulama senior Saudi, Syeikh Abdullah al-Mutlaq misalnya menyebut penjualan saham oleh Aramco "dihalalkan" di dalam Islam.

"Partisipasi adalah hal baik dan ulama pun bahkan akan ikut serta," ujarnya.

Namun ulama lain yang tak kalah berpengaruh, Abdelaziz al-Fawzan, yang ditangkap tahun lalu, mengatakan sebagian dari proses penjualan saham Aramco bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. "Saya ingin membeli saham, tapi Fawzan mengatakan hal itu merupakan Riba dan Mutlaq mengatakan halal. Kami kebingungan di antara keduanya," tulis seorang pengguna Twitter.

Fawzan ditangkap lantaran mengritik kebijakan tegas pemerintah Saudi terhadap ulama dan tokoh agama. Dalam sebuah unggahan di Twitter, dia menyebut Riyadh "sedang mengobarkan perang terhadap agama dan nilai-nilai Islam."

Gejolak iman tidak hanya terjadi di Arab Saudi, melainkan juga di negeri Jiran Kuwait. Seperti dilaporkan Bloomberg, Kementerian urusan Waqf dan Agama Islam awal Oktober lalu menelurkan fatwa yang melarang IPO Shamal Al-Zhour, perusahaan listrik negara karena bertentangan dengan Islam. Fatwa tersebut dikhawatirkan ikut mempengaruhi sikap investor lokal terkait penjualan saham Aramco.

Baca juga: Penyerangan Aramco: Produksi Berkurang Setengah, Harga Minyak Melonjak

Namun ini bukan kali pertama ulama Saudi berusaha menghalangi perdagangan saham perdana perusahaan negara. Saat National Commerical Bank membuka saham ke publik lima tahun silam, komite fatwa yang dipimpin Mufti Besar Syeikh Abdul Aziz al-Asyeikh, juga menyebut perdagangan tersebut sebagai Riba.

Uniknya fatwa tersebut juga didukung oleh Syeikh Abdullah al-Mutlaq yang kini getol mengkampanyekan IPO Aramco. "Apa yang jelas buat saya bahwa hal ini tidak diizinkan, "katanya saat itu seperti dikutip Arab News.

rzn/vlz (AFP, Bloomberg, ArabNews, Al-Arabiya)



Penawaran saham perdana milik perusahan minyak negara Aramco memicu perdebatan di kalangan ulama Arab Saudi seputar praktik Riba. Uniknya sebagian ulama yang tadinya menolak, kini malah giat mengkampanyekan investasi.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV