Sarjana Dari Indonesia Dibayar Mahal Jadi Tukang AC dan Listrik di Australia
Elshinta
Kamis, 28 November 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Sarjana Dari Indonesia Dibayar Mahal Jadi Tukang AC dan Listrik di Australia
ABC.net.au - Sarjana Dari Indonesia Dibayar Mahal Jadi Tukang AC dan Listrik di Australia

Data terbaru di Australia menunjukkan tukang AC menjadi salah satu jenis pekerjaan pertukangan, atau istilahnya tradie, dengan gaji terbesar mencapai hampir Rp 800 juta per tahun.

Didin Andijaya, akrab dipanggil Andy, adalah tukang AC di Sydney kelahiran Malang yang mengaku mengawali karirnya dari nol.

Kepada ABC ia menceritakan awal kepindahannya ke Australia untuk mengambil S-2 di bidang bisnis internasional dari Macquarie University.

Ia kemudian menjadi penduduk tetap, atau permanent resident Australia di awal tahun 2000-an, saat pengajuannya masih lebih mudah dibandingkan sekarang. Tapi setelah mendapatkannya, Didin malah kebingungan.

"Mencari pekerjaan untuk PR tetap sulit, karena mereka lebih mencari orang yang punya pengalaman, ketimbang bergelar master," ujar Andy yang dibesarkan di Jakarta.

Sampai akhirnya ia melihat lowongan pekerjaan tradesman atau tradie dari sebuah koran komunitas warga Indonesia di Sydney, yang awalnya ia pikir berkaitan dengan perdagangan.

Meski tak punya pengalaman dengan sebagai tradie, Andy mengaku menunjukkan kesungguhannya setelah ia mendapat tawaran bekerja.

"Saya sebelumnya tidak bisa memegang bor, obeng, tapi semua diajarkan mereka dan dalam kurang dari setahun sudah terlatih menggunakannya," kata pria kelahiran tahun 1967 tersebut.

Setelah magang, atau istilahnya di Australia apprentice, selama 3,5 tahun, Andy akhirnya mendapatkan lisensi sebagai teknisi AC.

Tapi karena di Australia pekerjaan AC juga membutuhkan teknisi listrik, maka Andy mengambil progam pelatihan dan apprentice di bidang listrik untuk memudahkan kebutuhan pelanggannya.

Di tahun 2010, lulusan S1 Teknik Mesin Universitas Trisakti tersebut berhasil mendirikan perusahaannya sendiri, Astro Air, yang menawarkan layanan untuk instalasi AC, termasuk layanan perawatan dan pembersihannya.

Awal bulan November, layanan situs pencari kerja di Australia, SEEK mengumpulkan data lewat jumlah gaji yang dicantumkan dalam sejumlah lowongan kerja tradie.

Hasilnya menunjukkan teknisi AC dan kulkas menjadi tradie memiliki upah tertinggi, dengan rata-rata mencapai AU$ 83,278 per tahun, atau hampir Rp 795 juta per tahun.

Kepada ABC Andy tidak mengaku berapa jumlah pasti pendapatannya, tetapi mengatakan berada di kisaran AU$ 150 ribu sampai AU$ 200 ribu per tahun, atau antar Rp 1,4 hingga 1,9 miliar.

Tapi menurutnya ada beberapa warga Indonesia yang hanya melihat "wah uangnya besar", tetapi begitu mengerjakannnya merasa pekerjaan tersebut "berbahaya dan kotor", karena butuh naik ke atap, misalnya.

Akibatnya tidak banyak warga Indonesia di Australia yang dapat bertahan lama menjadi teknisi AC dan listrik, padahal menurut Andy tradie di Australia memiliki peluang yang bagus.

"Kerjaanya tidak pernah habis, karena semua orang butuh bangunan, listrik, renovasi, terutama jika mereka baru membeli rumah," jelasnya.

Belum lagi dengan cuaca di Sydney yang semakin memanas, hampir semua rumah kini membutuhkan AC, tambahnya.

Pekerjaan tradie lain yang memiliki gaji terbesar saat ini adalah teknisi listrik, atau yang dikenal dengan istilah sparky di Australia.

Gaji rata-rata paling rendahnya mencapai AU$ 82,782, atau sekitar Rp 790 juta per tahun.

Tapi Hilman Sadli, warga Indonesia lainnya di Sydney, mengaku pendapatannya sebagai tukang listrik bisa mencapai lebih dari AU$ 100 ribu atau lebih dari Rp 950 juta, per tahun.

"Pekerjaannya berat dan beresiko, naik-naik ke rumah orang, karena itu mata dan tangan kita harus selalu awas," ujarnya kepada Erwin Renaldi dari ABC di Melbourne.

Hilman, 53 tahun, memilih pindah ke Australia untuk mencoba "mencari kehidupan yang lebih baik", setelah sempat tinggal di Selandia Baru selama beberapa tahun.

Setiap harinya ia memiliki jadwal yang padat dimulai dari sebelum pukul 7 pagi hingga jam 4 sore di sebuah rumah sakit untuk bagian kelistrikan.

Selesai kerja, ia masih menerima panggilan ke rumah-rumah, kebanyakan warga Indonesia, untuk memberikan pelayanan terkait listrik.

"Membetulkan listrik yang mati, memasang lampu, apalagi sekarang lagi jamannya lampu LED," ujar Hilman.

Lulusan Elektro dari Universitas Atma Jaya Jakarta ini mengaku hal yang berkaitan dengan listrik sudah menjadi hobinya sejak kecil, meski saat berada di Indonesia ia memilih bekerja di industri perbankan yang saat itu sedang booming.

Saat berusia 44 tahun, Hilman memutuskan mengganti pekerjaannya menjadi seorang tukang selama empat tahun, sebelum akhirnya memilih bidang keahlian listrik.

"Di Australia intinya tidak perlu takut dengan mencoba apa yang kita tak pernah lakukan sebelumnya di Indonesia," kata Hilman.

"Disini selalu ada ahlinya dan mereka mau berbagi asal kita bertanya dan baik-baik kepada mereka."

Setelah melakukannya beberapa tahun, Hilman mengaku pekerjaan menjadi "tukang" di Australia sebenarnya bisa dilakukan oleh warga Indonesia, asalkan mereka mau dan tidak mudah menyerah.

Sementara bagi Andy, pekerjaan menjadi "tukang" membuatnya bahagia dan itu tidak bisa diukur karena besarnya penghasilan.

"Ada kebahagiaan saat menyelesaikan pekerjaan yang membuat orang lain senang, semakin mereka senang, semakin bahagia juga saya," kata Andi.

Cerita suka duka kehidupan warga Indonesia di Australia, termasuk mencari pekerjaan dan studi bisa Anda ikuti hanya di ABC Indonesia. Ikuti juga komunitas kami di Facebook ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV