Generasi yang hilang di Eropa: Gelombang pengungsi muda yang bergelandangan sambil menunggu proses permintaan suaka
Elshinta
Rabu, 27 November 2019 - 08:44 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Generasi yang hilang di Eropa: Gelombang pengungsi muda yang bergelandangan sambil menunggu proses permintaan suaka
BBC Indonesia - Generasi yang hilang di Eropa: Gelombang pengungsi muda yang bergelandangan sambil menunggu proses permintaan suaka

Eropa dalam bahaya karena akan menciptakan "generasi yang hilang" dengan adanya para pengungsi berusia muda, demikian dikatakan Badan Hak Asasi Uni Eropa (FRA).

Anak-anak muda berumur 16 sampai 24 tahun melarikan diri dari perang dan persekusi di negara asalnya, dan kini menghadapi masalah besar dalam mengintegrasikan diri di tempat tinggalnya sekarang.

FRA mendesak negara-negara anggota untuk mempercepat proses pemberian suaka, menyederhanakan reunifikasi keluarga dan meningkatkan fasilitas perumahan.

Dari tahun 2015 sampai 2018, terdapat hampir dua juta orang yang mendapatkan suaka di Uni Eropa.

FRA melakukan wawancara dengan para pengungsi dan staf lapangan di Austria, Prancis, Jerman, Yunani, Italia dan Swedia.

Mereka lalu menerbitkan laporan pada hari Selasa (19/11) yang menggarisbawahi "hambatan serius" yang dihadapi para pemuda pemohon suaka di Uni Eropa.

FRA mendesak berbagai negara anggota untuk menerapkan "investasi cerdas" guna membantu keberhasilan pembauran.

"Laporan ini bertujuan untuk menyumbang pemikiran guna mencapai tujuan ini, sehingga memastikan agar kehilangan generasi tidak terjadi," demikian isi laporan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption FRA menyatakan seharusnya lebih mudah dan murah untuk mendapatkan suaka.

Salah satu masalah yang dikemukan adalah anak-anak muda ini menjadi tunawisma dan terpaksa bergelandangan di jalan-jalan pada saat permintaan suaka sedang diproses.

Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Selain itu juga diperlukan perbaikan bantuan perawatan kesehatan jiwa bagi pengungsi muda yang mengalami trauma, serta pendidikan kata FRA.

FRA mendesak negara-negara EU untuk mengatasi masalah-masalah seperti:

  • Suaka: Diperlukan waktu sekitar dua tahun untuk merampungkan proses mendapatkan izin tinggal. Tambahan dana dan sumber daya manusia diperlukan untuk mempercepat proses.
  • Perumahan: Banyak pencari suaka, termasuk keluarga, yang harus hidup dalam keadaan buruk, tinggal di tenda, peti kemas, kamp dan gedung olahraga. Kebijakan perumahan pengungsi harus dapat menangani "kedatangan orang dalam jumlah besar" dengan sewajarnya.
  • Kesehatan jiwa: Pengungsi yang mengalami trauma dan sering kali tidak dapat tidur, minum dan makan dengan baik sementara mereka menunggu proses suaka mereka. Diperlukan identifikasi yang cepat dan efisien, rujukan dan penanganan - termasuk pelatihan petugas.
  • Pendidikan: Sebagian anak-anak perlu menunggu sampai satu tahun agar dapat bersekolah. Pencari suaka seharusnya diberikan akses dini terhadap pendidikan, pelatihan kejuruan dan pekerjaan untuk mencegah mereka melakukan kejahatan.
  • Reunifikasi keluarga: Prosedur yang rumit dan mahal - misalnya harus menyediakan berbagai dokumen dan melintasi sejumlah negara yang sedang berperang - jika mereka ingin mengundang keluarga yang masih berada di negara asal. Reunifikasi keluarga diakui sebagai salah satu mekanisme penting agar terjadi integrasi yang baik bagi para migran dan pengungsi. Reunifikasi keluarga yang cepat dan terjangkau akan membantu pencari suaka untuk tidak berhubungan dengan para penyelundup manusia.

Laporan FRA juga menggarisbawahi sejumlah inisiatif kebijakan setempat yang baik dan mendesak negara EU untuk saling belajar, serta memberikan kesempatan yang memadai agar pengungsi muda dapat hidup.

Sejumlah inisiatif yang disebut FRA adalah:

  • Austria: Di Wina, pemerintah kota mendukung pendanaan perumahan perseorangan bagi pemohon suaka begitu mereka tiba. FRA menyatakan ini adalah pengelolaan perumahan terbaik yang mendukung pembauran dan tidak lagi memerlukan alternatifnya begitu suaka diberikan.
  • Italia: Di Milan, polisi menyedikan waktu satu hari dalam seminggu bagi permohonan suaka oleh anak-anak. Semua langkah administratif - termasuk identifikasi foto - dilakukan dalam waktu satu hari.
  • Jerman: Pemerintah menciptakan sebuah aplikasi yang dijalankan oleh para pencari suaka yang sudah menetap. Aplikasi ini menggunakan multimedia seperti video untuk menjawab berbagai pertanyaan terkait kehidupan di Jerman seperti: permohonan suaka, perumahan, kesehatan, pekerjaan dan pemeliharaan anak. Pihak swasta turut mendanai program ini.
  • Swedia: Sebanyak 25% flat yang kosong digunakan untuk layanan perlindungan internasional - diutamakan bagi keluarga dan anak muda tanpa pendamping.
  • Prancis: Di Marseille, sebuah LSM didirikan untuk menyewa akomodasi, yang kemudian disewakan lagi dengan harga terjangkau bagi pihak-pihak yang memerlukan. LSM juga menyediakan dukungan sosial agar mereka dapat mandiri.

Lebih dari dua setengah juta orang meminta perlindungan internasional di Uni Eropa pada tahun 2015 dan 2016, menurut badan statistik Eropa, Eurostat.

Sejak saat itu jumlah orang pencari suaka menurun, dengan angka terakhir tahun 2018 hampir 650.000 pemohon.

Sebagian besar pencari suaka berasal dari negara-negara di Timur Tengah, Afrika atau Asia Selatan.

Banyak pengungsi akhirnya mencapai Jerman, Swedia, Prancis dan Austria, sementara yang lainnya tetap berada di negara, tempat pertama mereka menginjakkan kaki, yaitu Italia dan Yunani.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)