Kiri Kanan
Trump Minta Tokyo Bayar AS$ 8 Miliar Atas Penempatan Pasukan AS di Jepang
Elshinta
Senin, 18 November 2019 - 08:44 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Trump Minta Tokyo Bayar AS$ 8 Miliar Atas Penempatan Pasukan AS di Jepang
VOA Indonesia - Trump Minta Tokyo Bayar AS$ 8 Miliar Atas Penempatan Pasukan AS di Jepang
Presiden AS Donald Trump meminta Jepang untuk melipatgandakan pembayarannya untuk pasukan AS yang ditempatkan di negara Matahari Terbit tersebut. Demikian dilaporkan Foreign Policy mengutip seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya saat ini dan seorang mantan pejabat AS lainnya. Washington ingin Tokyo meningkatkan pembayaran tahunan untuk 54 ribu tentara AS di Jepang menjadi sekitar AS$8 miliar dari sekitar AS$2 miliar, menurut laporan Foreign Policy yang mengutip tiga mantan pejabat pertahanan yang tidak disebutkan namanya.  Perjanjian tersebut akan berakhir pada Maret 2021. Berita yang dilansir dari Reuters tersebut mengatakan permintaan itu disampaikan kepada pejabat Jepang ketika John Bolton dan Matt Pottinger melawat ke Jepang pada bulan Juli. Pada saat itu Bolton memiliki kapasitas sebagai penasihat keamanan nasional Trump, sementara Pottinger saat itu menduduki jabatan sebagai Direktur Asia untuk Dewan Keamanan Nasional.  Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Jepang membantah laporan Foreign Policy. Menurutnya, tidak ada negosiasi AS-Jepang mengenai perjanjian baru yang telah terjadi. Sementara perwakilan dari pemerintah AS tidak segera memberikan komentarnya.  Sejumlah negara sekutu AS berada di bawah tekanan terkait pada masalah pengeluaran pertahanan dari Washington. Trump juga menegaskan Seoul memikul lebih banyak biaya atas kehadiran militer AS di Korea Selatan. Personil AS tersebut berfungsi sebagai pencegahan terhadap Korea Utara. Trump juga telah melayangkan sebuah gagasan untuk menarik pasukan AS dari semenanjung. [ah]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)