Dari Udara Hingga Gas Metana, Usaha Manusia Cari Pengganti Daging
Elshinta
Jumat, 08 November 2019 - 08:44 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Dari Udara Hingga Gas Metana, Usaha Manusia Cari Pengganti Daging
DW.com - Dari Udara Hingga Gas Metana, Usaha Manusia Cari Pengganti Daging

Dengan suksesnya produk pengganti daging sapi dan burger vegan yang dikembangkan oleh perusahaan seperti Beyond Meat dan Impossible Foods, alternatif lain untuk menjadi sumber protein terus digali.

Berdasarkan data dari bank investasi Barclays, potensi penjualan daging alternatif dalam satu dekade bisa mencapai 140 miliar dolar AS, atau setara dengan 10 persen industri daging global. Perkiraan angka ini adalah peningkatan 10 kali lipat dari yang ada saat ini.

Generasi baru produk ini menggabungkan teknologi mutakhir dengan proses fermentasi kuno untuk mengubah unsur-unsur berbahaya maupun elemen yang ada sehari-hari menjadi bahan makanan penting dengan tujuan mengurangi jejak karbon.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kegiatan pertanian, kehutanan dan aktivitas penggunaan lahan lain menyumbang 23 persen dari total emisi gas rumah kaca dari tahun 2007 hingga 2016. Angka ini melonjak jadi 37 persen jika kegiatan sebelum dan sesudah produksi turut diperhitungkan. Sementara itu peternakan menyumbang sekitar 14,5 persen dari emisi gas rumah kaca global.

Bahan baku udara

Enter Solar Foods, sebuah perusahaan Finlandia saat ini berusaha membuat bubuk protein yang bisa dimakan yang disebut Solein dengan menggunakan bahan baku dari air, udara, dan listrik terbarukan.

"Anda menghindari dampak penggunaan lahan seperti pembukaan hutan untuk pertanian, penggunaan pestisida dan penggunaan pupuk yang melepaskan gas rumah kaca dan sebagainya," ujar CEO dan salah satu pendiri Enter Solar Foods, Pasi Vainikka.

Solein dibuat dengan memasukkan mikroba ke dalam cairan. Mikroba tersebut kemudian diberi makan berupa gelembung kecil berisi hidrogen dan karbon dioksida. Proses ini mirip dengan pembuatan bir atau anggur, hanya saja tidak menggunakan anggur atau biji-bijian lain, ujar Vainikka. Setelah mengental, cairan ini dikeringkan menjadi bubuk yang sangat halus yang mengandung sekitar 65 persen protein dan rasanya seperti tepung gandum.

Pada September 2019, Solar Foods berhasil mencapai kesepakatan dengan perusahaan makanan Nordic Fazer untuk mengembangkan produk makanan dengan menggunakan Solein. Bahan ini bisa digunakan dalam produk nabati yang telah ada di pasaran atau di masa depan mungkin juga bisa dipakai untuk menumbuhkan daging di laboratorium. Harga produksi Solein sekitar € 5 (sekitar Rp 77.000,-) per kilogram dan akan dipasarkan pada tahun 2021, kata Vainikka.

Fermentasi adalah kunci

Perusahaan lain yang berusaha mengurangi emisi pertanian melalui fermentasi adalah String Bio dari Bangalore, India. Perusahaan ini berusaha untuk mengubah metana menjadi protein bubuk untuk dikonsumsi hewan. Metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada karbon dioksida karena dapat menyimpan panas 28 kali lebih banyak,

"Menurut kami ini mungkin dampak terbaik yang dapat manusia miliki di dunia ini, yaitu ketika kita mengambil sesuatu yang tidak kita perlukan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang kita butuhkan," kata Vinod Kumar, yang bersama istrinya Ezhil Subbian mendirikan perusahaan ini.

Pertimbangan lingkungan, seiring dengan keprihatinan atas kesejahteraan hewan dan kesehatan manusia, telah mendorong permintaan dan pasokan atas protein alternatif, kata Dan Altschuler Malek, Managing Partner di perusahaan investasi Unovis Partners. Hanya 10 tahun yang lalu, dia mengatakan, pengecer melihat protein alternatif sebagai sesuatu yang berisiko, tetapi "hari ini mereka menyadari adanya permintaan besar terhadap produk ini."

Unovis mengelola New Crop Capital, sebuah dana investasi eksklusif dalam pengembangan pengganti daging, makanan laut, dan susu.

New Crop juga berinvestasi di Nova Meats, sebuah perusahaan Spanyol yang menggunakan mesin cetak 3D khusus untuk menghasilkan steak yang dapat meniru rasa dan tekstur daging asli. Printer ini menghasilkan steak vegan tiga dimensi menggunakan jarum suntik bergaya cartridge yang menggunakan protein nabati.

Dari volkano dan organisme kecil

Protein buatan generasi baru ini diklaim tidak begitu banyak diproses, kata Thomas Jonas, CEO Sustainable Bioproducts yang proteinnya didasarkan pada mikroba yang ditemukan di sumber air panas vulkanik Taman Nasional Yellowstone.

Setelah mengumpulkan dana sebesar 33 juta dolar AS (Rp 513 miliar) pada bulan Februari, perusahaan ini berencana untuk menghasilkan apa yang mereka sebut sebagai produk "setara hamburger" pada tahun depan melalui "fermentasi baru" dari mikroba.

Dengan kapasitas penuh, pabrik seluas 3.250 meter persegi di Chicago ini dapat menghasilkan burger yang setara dengan burger sapi yang merumput di lahan seluas 6.100 hektare, kata Jonas.

Bagi investor seperti Altschuler Malek, protein alternatif adalah masalah pilihan bagi konsumen, dengan tiga hal penting: "Rasanya harus enak, memenuhi batas harga tertentu dan harus dapat diproduksi secara massal," katanya.

ae/rap (Thomson Reuters Foundation)



Memang terlihat seperti fiksi ilmiah, tetapi mungkin tidak lama lagi di atas meja-meja makan akan terhidang steak dari mesin cetak, serta protein lain dari udara, gas metana, maupun mikroba vulkanik.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kursi: Lebih dari Sekedar Tempat Duduk
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Empat kaki, satu tempat duduk dan sebuah sandaran: Tidak ada hal lain yang dibutuhkan untuk membuat ...
Lyari Girls Cafe: Pupuk Percaya Diri bagi Perempuan Pakistan
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Pakistan bukan negeri yang ramah bagi kaum perempuan untuk mendapatkan kesetaraan hak. Sebab itu sek...
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Yute adalah tanaman unik yang bisa menghasilkan serat nabati sebagai bahan baku tali tambang. Di Ban...
AS Pertimbangkan Kembali Perlakuan Khusus untuk Hong Kong, Sanksi untuk Cina
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Di hadapan parlemen AS, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo pada Rabu (27/05), meny...
Kematian George Floyd Akibat Dicekik Polisi Minneapolis AS, Picu Kemarahan Warga
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kematian seorang pria Afrika-Amerika, George Floyd, akibat lehernya dicekik oleh polisi di Minneapol...
Wabah dan Kekeringan: Bencana Berganda Melanda Warga Miskin India
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Protokol pencegahan wabah sekilas sangat mudah. Penduduk diimbau menjaga kebersihan dan mencuci tan...
Parlemen Cina Sahkan UU Anti Subversi buat Hong Kong
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kamis (28/5) Kongres Rakyat Nasional(NPC) secara aklamasi meloloskan legislasi kontroversial itu, de...
Bagaimana Wabah Corona Pengaruhi Harapan Hidup Penderita Penyakit Kronis
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Thomas menderita stroke pada awal April. Sekitar waktu yang bersamaan, gambar dramatis di bangsal-ba...
Apa Bahaya Sekolah Via Zoom dan Aplikasi Pelacakan Data?
Jumat, 29 Mei 2020 - 03:54 WIB
Kondisi gawat darurat kesehatan publik terkait pandemi Covid-19, ibarat hentakan keras yang membangu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV