A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: row

Filename: elshinta/phpmu-link.php

Line Number: 56

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/phpmu-link.php
Line: 56
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/template.php
Line: 25
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 17
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: row

Filename: elshinta/phpmu-link.php

Line Number: 58

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/phpmu-link.php
Line: 58
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/template.php
Line: 25
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 17
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

news-mitra/////kajian-ilmiah-fokus-pada-hasil-akhir-selalu-memberi-kita-rasa-aman-palsu" />
Kajian ilmiah: Fokus pada hasil akhir selalu memberi kita rasa aman palsu
Elshinta
Kamis, 10 Oktober 2019 - 08:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kajian ilmiah: Fokus pada hasil akhir selalu memberi kita rasa aman palsu
BBC Indonesia - Kajian ilmiah: Fokus pada hasil akhir selalu memberi kita rasa aman palsu

Bayangkan seorang pilot mengemudikan pesawat di rute penerbangan yang sudah dikenalnya, lalu tiba-tiba cuaca menjadi buruk. Ia tahu bahwa terbang menerjang badai sangat berisiko. Dan berdasarkan yang dipelajarinya saat latihan, ia seharusnya memutar atau kembali.

Namun pilot itu pernah melalui rute yang sama, dalam cuaca yang sama, dan tidak mengalami masalah. Haruskah ia jalan terus? Atau haruskah ia kembali?

Jika Anda percaya bahwa sang pilot aman untuk meneruskan penerbangan tanpa mengganti rute, maka Anda telah terkecoh oleh kecenderungan kognitif yang dikenal sebagai outcome bias atau "bias hasil".

Berbagai penelitian menunjukkan, kita kerap menilai kualitas suatu keputusan atau perilaku berdasarkan hasilnya. Kita juga mengabaikan banyak faktor pendukung yang bisa berkontribusi pada kesuksesan atau kegagalan.

Kajian menyebut bahwa kecenderungan ini dapat membuat kita tak menyadari kemungkinan kesalahan besar dalam pemikiran kita, yang bisa berakibat fatal.

Dalam contoh di atas, keputusan si pilot untuk terus terbang dalam kejadian sebelumnya sebenarnya sangat berisiko. Dia mungkin berhasil menghindari kecelakaan hanya karena beruntung.

Tapi karena bias hasil, ia bisa mengabaikan kemungkinan ini dan berasumsi bahwa potensi bahaya telah dilebih-lebihkan, atau bahwa ia bisa melaluinya berkat keterampilannya yang luar biasa.

Semua itu membuatnya semakin tidak segan untuk kembali mengambil risiko di masa depan. Dan semakin sering ia melakukannya, semakin ia tidak sadar akan bahaya perbuatannya.

Selain memicu kita semakin gegabah dalam mengambil keputusan, bias hasil dapat membuat kita mengabaikan ketidakmampuan dan perilaku tidak etis rekan kerja kita. Konsekuensinya bisa benar-benar mengerikan.

Penelitian menunjukkan bahwa bias hasil punya andil dalam banyak bencana terkenal, di antaranya peristiwa jatuhnya pesawat ulang-alik milik NASA di Columbia dan tumpahan minyak Deepwater Horizon.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Outcome bias can lead to devastating results as a result of ignoring risks during the decision-making process

Berfokus pada hasil akhir, bukan proses

Seperti banyak dari pemahaman kita tentang irasionalitas manusia, bias hasil pertama kali diamati pada tahun 1980-an, dalam penelitian penting tentang pengambilan keputusan terkait kesehatan.

Para peserta diberikan deskripsi berbagai skenario medis, termasuk risiko dan manfaat berbagai prosedur yang berbeda. Mereka kemudian diminta menilai kualitas diagnosa dokter.

Para peserta diberitahu tentang pilihan dokter untuk menawarkan opsi operasi bypass jantung. Opsi ini berpeluang menjaga kesehatan pasien selama bertahun-tahun, meski ada kemungkinan kematian saat operasi.

Mungkin seperti sudah diprediksi, para peserta menilai keputusan sang dokter jauh lebih keras jika mereka diberi tahu bahwa pasien meninggal setelah operasi dibandingkan ketika mereka diberitahu bahwa pasien bertahan hidup — meskipun manfaat dan risikonya sama persis dalam setiap kasus.

Bias hasil tertanam begitu dalam di otak kita sehingga tidak sulit untuk memahami mengapa para peserta merasa bahwa dokter harus dihukum atas kematian pasien.

Namun alasan mereka tidak logis, karena bagi dokter tidak ada cara yang lebih baik untuk menimbang bukti tersebut ada saat pengambilan keputusan, kemungkinannya lebih besar bahwa operasi akan berhasil.

Bagaimanapun, begitu Anda mengetahui tentang tragedi itu, sulit untuk tidak menyalahkan sang dokter — hal membuat para peserta mempertanyakan kompetensinya.

"Kita kesulitan memisahkan peristiwa acak yang, selain kualitas keputusan, sama-sama berkontribusi pada hasil akhir," jelas Krishna Savani di Universitas Teknologi Nanyang Singapura.

Temuan ini, yang dipublikasikan pada tahun 1988, telah direplikasi berkali-kali, menunjukkan bahwa hasil negatif membuat kita menyalahkan seseorang atas peristiwa yang jelas-jelas di luar kendali mereka, bahkan ketika kita mengetahui semua fakta yang memaklumi pengambilan keputusan mereka.

Dan kita sekarang tahu bahwa yang sebaliknya juga benar: berkat bias hasil, hasil yang positif bisa mengarahkan kita untuk mengabaikan pengambilan keputusan yang cacat, sehingga membiarkan perilaku yang tidak dapat diterima.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Karena bias hasil, kita cenderung menyalahkan seseorang, misalnya dokter, untuk hasil negatif akibat peristiwa yang di luar kendali mereka, dan sebaliknya.

Dalam satu percobaan oleh Francesca Gino di Harvard Business School, peserta diberi cerita tentang seorang ilmuwan yang memalsukan hasil untuk membuktikan kemanjuran obat yang sedang mereka uji.

Gino mendapati bahwa para peserta kurang kritis terhadap perilaku ilmuwan jika obat tersebut ternyata aman dan efektif, ketimbang menyebabkan efek samping berbahaya.

Idealnya, tentu saja, Anda menilai kedua situasi dengan sama kerasnya karena seorang karyawan yang berperilaku tidak bertanggung jawab bisa menyebabkan bahaya serius di masa depan.

Pemikiran cacat seperti itu menjadi masalah serius ketika mempertimbangkan hal-hal seperti promosi.

Katakanlah, seorang investor bisa diberi penghargaan karena keberuntungan dalam kinerja mereka, bahkan ketika ada bukti yang jelas tentang perilaku tidak kompeten atau tidak etis, karena bos mereka tidak dapat membedakan proses pengambilan keputusan mereka dari hasil akhir yang mereka capai.

Sebaliknya, itu menunjukkan bagaimana kegagalan bisa diam-diam merusak reputasi Anda, bahkan ketika ada bukti yang jelas bahwa Anda telah bertindak dengan tepat berdasarkan informasi yang tersedia.

"Adalah masalah besar ketika orang-orang dipuji atau disalahkan atas peristiwa yang sebagian besar ditentukan oleh kebetulan," kata Savani.

"Dan ini relevan bagi para pembuat kebijakan, manajer bisnis, dan siapapun yang membuat keputusan."

Bias hasil bahkan dapat memengaruhi pemahaman kita tentang olahraga. Arturo Rodriguez di University of Chile baru-baru ini memeriksa penilaian para pengamat sepak bola terhadap kinerja pemain di situs Goal.com.

Dalam permainan yang harus ditentukan dengan adu penalti, ia menemukan bahwa apa yang terjadi dalam beberapa menit terakhir pertandingan memengaruhi penilaian para pengamat terhadap kinerja para pemain selama pertandingan. Itu bahkan berlaku bagi pemain yang belum mencetak gol.

"Hasil tendangan penalti berdampak signifikan pada evaluasi individu para pemain — bahkan jika mereka tidak berpartisipasi dalam penalti," kata Rodriguez. Mereka bisa hanya menikmati kemenangan orang lain.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bias hasil bisa sangat memengaruhi penilaian dan evaluasi seseorang, terutama dalam pekerjaan dan olahraga.

Nyaris celaka

Akan tetapi, konsekuensi bias yang paling serius menyangkut persepsi kita tentang risiko.

Satu studi tentang penerbangan komersial, misalnya, meninjau penilaian pilot terkait keselamatan terbang di bawah kondisi cuaca berbahaya dengan visibilitas yang buruk. Studi tersebut mendapati bahwa para pilot cenderung meremehkan bahaya penerbangan jika mereka baru saja mendengar bahwa pilot lain berhasil melewati rute yang sama.

Pada kenyataannya, tidak ada jaminan bahwa kesuksesan pada penerbangan pertama berarti penerbangan kedua akan aman – si pilot mungkin hanya beruntung – tetapi bias hasil membuat para pilot mengabaikan fakta ini.

Catherine Tinsley, di Universitas Georgetown, menemukan pola serupa dalam cara orang-orang menanggapi bencana alam seperti badai. Jika seseorang melalui badai tanpa cedera, misalnya, mereka cenderung tidak membeli asuransi banjir sebelum bencana berikutnya.

Penelitian Tinsley kemudian menunjukkan bahwa fenomena ini dapat menjelaskan banyak kegagalan dan bencana organisasi juga.

Kecelakaan pesawat ulang-alik NASA di Columbia disebabkan oleh insulasi busa yang lepas dari tangki eksternal selama peluncuran, menciptakan puing-puing yang melubangi sayap pesawat.

Busa insulasi pernah lepas pada beberapa kali penerbangan uji coba. Tapi karena kebetulan yang beruntung, hal itu belum pernah mengakibatkan kerusakan yang cukup untuk menyebabkan kecelakaan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bias hasil telah mengakibatkan konsekuensi mematikan karena pengabaian risiko, seperti yang terlihat dalam bencana-bencana seperti kecelakaan pesawat ulang-alik di Columbia dan bencana alam.

Terinspirasi oleh temuan-temuan ini, tim Tinsley meminta peserta untuk membayangkan misi hipotetis yang nyaris gagal dan menilai kompetensi pemimpin proyek.

Ia mendapati bahwa dengan menekankan faktor-faktor seperti keselamatan, dan visibilitas organisasi, orang-orang lebih cenderung menyadari tanda peringatan potensi bahaya. Para peserta juga lebih sadar akan bahaya laten jika mereka diberitahu bahwa mereka harus menjelaskan proses pengambilan keputusan mereka kepada manajer senior.

Berdasarkan temuan ini, organisasi harus menekankan bahwa setiap orang bertanggung jawab untuk mengenali risiko laten dan memberi penghargaan kepada orang-orang yang melaporkannya.

Savani setuju bahwa kita dapat melindungi diri dari bias hasil. Ia menemukan, misalnya, bahwa menyiapkan orang untuk berpikir lebih hati-hati tentang konteks seputar keputusan atau perilaku bisa membuat mereka lebih kebal terhadap bias hasil. Tujuannya adalah untuk memikirkan keadaan yang melahirkan keputusan atau perilaku tersebut dan mengenali faktor-faktor, termasuk kebetulan, yang mungkin berkontribusi pada hasil akhir.

Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan berpikir secara kontra-faktual saat menilai kinerja Anda atau orang lain, kata Savani. Faktor-faktor apa yang bisa jadi menyebabkan hasil yang berbeda? Dan apakah Anda akan tetap menilai keputusan atau proses dengan cara yang sama, jika itu terjadi?

Bayangkan kasus ilmuwan yang memalsukan hasil uji coba obatnya. Bahkan jika obat tersebut akhirnya aman, membayangkan skenario terburuk – dengan kematian pasien – akan membuat Anda lebih sadar akan risiko yang ia ambil.

Demikian pula, jika Anda adalah pilot yang memutuskan untuk terbang dalam kondisi yang tidak sesuai, Anda dapat memeriksa penerbangan lain untuk meninjau setiap risiko yang Anda ambil dan apa yang mungkin terjadi jika keadaannya berbeda.

Apakah Anda seorang investor, pilot, atau ilmuwan NASA, strategi untuk menghindari bias hasil ini akan membantu mencegah kesuksesan karena kebetulan membutakan Anda terhadap bahaya di depan mata.

Hidup adalah taruhan, tetapi setidaknya Anda bisa memastikan bahwa peluang kesuksesan Anda lebih besar, alih-alih membiarkan pikiran Anda membuai Anda ke dalam rasa aman yang palsu.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The bias that can cause catastrophe, di BBC Worklife.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
PM India, Presiden China Adakan KTT di Tengah Ketegangan Hubungan
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Sebuah KTT tidak resmi antara Presiden China Xi Jin-ping dan PM India Narendra Modi dimulai hari Jum...
Polisi Ceko Tahan 31 Fans Sepak Bola Jelang Pertandingan Ceko-Inggris
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Polisi Ceko telah menahan 31 fans sepak bola sebelum pertandingan kualifikasi Piala Eropa 2020 antar...
AS, China Capai Persetujuan Awal, Hindari Kenaikan Tarif
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Presiden Trump hari Jumat (11/10) mengumumkan bahwa Washington dan Beijing telah mencapai kesepakata...
Panglima Militer Thailand Deklarasikan Perang dengan Para Pengkritiknya
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Panglima militer Thailand hari Jumat (11/10) mendeklarasikan perang dengan pengkritiknya, dan memper...
Bersiap Hadapi Badai Hagibis, Jepang Sarankan Ratusan Ribu Orang Mengungsi
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Jepang bersiap menghadapi badai terbesar dalam 60 tahun terakhir. Badai yang dinamakan Hagibis itu d...
Australia, Fiji akan Mengirim Pasukan Penjaga Perdamaian ke Timur Tengah
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Australia dan Fiji berencana akan mengirimkan pasukan bersama PBB, yang memiliki misi menjaga perdam...
Hadapi Ancaman Iran, AS Mengerahkan 3.000 Pasukan ke Arab Saudi
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Amerika Serikat mengumumkan pengerahan pasukan militer tambahannya ke Arab Saudi pada hari Jumat (11...
Satu Orang Tewas Saat Topan Hagibis Mendekati Jepang
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Satu orang tewas dan lebih dari satu juta orang di Jepang disarankan untuk mengungsi akibat topan te...
WFP: 100.000 Warga Suriah Lari dari Ofensif Turki
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan sejauh ini ada lebih dari 100.000 orang kehilangan tempat ting...
Xi dan Modi Bertemu Bahas Perdagangan, Perbatasan
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:42 WIB
Para pemimpin India dan China bertemu dalam sebuah KTT tidak resmi pada Sabtu (12/10). Kedua pemimpi...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)