Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Kritik Kebijakan Australia Terhadap Pengungsi dan Pencari Suaka
Elshinta
Kamis, 10 Oktober 2019 - 08:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Kritik Kebijakan Australia Terhadap Pengungsi dan Pencari Suaka
ABC.net.au - Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Kritik Kebijakan Australia Terhadap Pengungsi dan Pencari Suaka

Komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia Michelle Bachelet memiliki keprihatinan serius tentang migrasi dan kebijakan suaka Australia.

Kunjungan Komisioner HAM PBB:

  • Michelle Bachelet prihatin terhadap penahanan wajib berkepanjangan terhadap para pengungsi dan pencari suaka
  • Dia khawatir "narasi publik" Australia seputar kebijakan ini dipicu oleh informasi yang salah dan sikap rasis
  • Selama kampanye pemilu PM Scott Morrison berjanji untuk membatasi jumlah migran yang datang ke Australia setiap tahun

Dalam pidatonya pada acara Orasi Whitlam Institute di Sydney, New South Wales pada hari Rabu (9/10/2019), Michelle Bachelet mengatakan kekhawatirannya adalah mengenai pemrosesan pengungsi yang dilakukan di luar Australia dan penahanan berkepanjangan terhadap para pengungsi dan pencari suaka.

Michelle Bachelet juga mengkritik narasi publik di Australia seputar kebijakan.

"Yang saya takutkan narasi publik Australia ini telah dipersenjatai oleh informasi yang keliru dan sikap diskriminatif - dan bahkan rasis, termasuk yang berkaitan dengan Islam," kata Bachelet.

"Menargetkan warga migran sebagai kambing hitam untuk berbagai masalah di masyarakat tampaknya menjadi praktik yang tidak terbatas di Australia."

"Di seluruh dunia kita menyaksikan sejumlah politisi dan calon pemimpin opini yang terlalu bersemangat untuk menjelek-jelekkan beberapa orang yang paling rentan dan terpinggirkan dalam masyarakat demi kepentingan politik."

Selama kampanye pemilihan umum lalu, Perdana Menteri (PM) Scott Morrison berjanji untuk membatasi jumlah pemberian visa kemanusiaan selama masa pemerintahannya berikutnya jika Partai Koalisi menang.

Ketika ia mengumumkan kebijakan itu, PM Scott Morrison juga berjanji untuk membatasi jumlah warga pendatang yang datang ke Australia setiap tahun sebagai pengungsi pada angka 18.750, dan meluncurkan serangkaian langkah-langkah yang menjelaskan secara terang-terangan siapa saja yang akan diizinkan tinggal.

Michelle Bachelet mendesak belas kasih dan kemanusiaan dari pihak berwenang yang mengelola masalah ini.

"Manusia yang putus asa mencari keselamatan dan martabat adalah korban, bukan penjahat," katanya.

"Mereka adalah orang-orang seperti kita, lelah dan membutuhkan, dan mereka bergerak, banyak dari mereka melakukannya karena mereka tidak punya pilihan lain.

"Saya menilai sangat disayangkan bahwa Australia, sebuah negara migran, telah memilih keluar dari diskusi global yang penting ini untuk menemukan solusi kooperatif.

"Jika kita menolak dialog, penyertaan, penghormatan dan keadilan, kita pada dasarnya memungkinkan ketidakadilan, kekejaman, keluhan dan ketegangan yang mungkin dapat memicu konflik yang lebih besar."

Michelle Bachelet kemudian berbicara tentang ketidakpuasan yang dialami orang-orang di seluruh dunia saat ini terhadap demokrasi.

Dia memperingatkan orang hanya akan terus mengekspresikan aspirasi mereka jika partisipasi mereka tidak direspon dengan kebijakan responsif dan bertanggung jawab. Ia mencontohkan aksi unjuk rasa gerakan Extinction Rebellion yakni gerakan global yang memperjuangkan perlindungan keanekaragaman hayati dengan perlawanan tanpa kekerasan dan pembangkangan secara damai yang berlangsung di 60 kota di seluruh dunia.

"Pembuat kebijakan perlu mendengarkan tuntutan mereka," katanya.

"Para pemimpin - bukan hanya para pemimpin politik, tetapi juga para pemimpin sosial dan bisnis - dapat dan harus mendorong partisipasi dan keterlibatan yang lebih besar oleh kaum muda, yang kehidupannya akan dibentuk oleh isu-isu yang sedang mengemuka saat ini.

"Daripada memicu sinisme tentang nilai partisipasi, mereka dapat dan seharusnya mendorong orang untuk mengadvokasi kebijakan yang selaras dengan keyakinan dan cita-cita pribadi kita yang paling penting."

Simak berita-berita menarik lainnya di situs ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)