A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: row

Filename: elshinta/phpmu-link.php

Line Number: 56

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/phpmu-link.php
Line: 56
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/template.php
Line: 25
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 17
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: row

Filename: elshinta/phpmu-link.php

Line Number: 58

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/phpmu-link.php
Line: 58
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/template.php
Line: 25
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 17
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

news-mitra/////xanana-gusmao-bersedia-berikan-kesaksian-soal-kasus-penyadapan-timor-leste-di-australia" />
Xanana Gusmao Bersedia Berikan Kesaksian Soal Kasus Penyadapan Timor Leste di Australia
Elshinta
Selasa, 27 Agustus 2019 - 08:35 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Xanana Gusmao Bersedia Berikan Kesaksian Soal Kasus Penyadapan Timor Leste di Australia
ABC.net.au - Xanana Gusmao Bersedia Berikan Kesaksian Soal Kasus Penyadapan Timor Leste di Australia

Mantan perdana menteri Timor Leste Xanana Gusmao mengatakan bersedia datang ke Canberra guna memberikan kesaksian untuk mendukung mantan agen rahasia Witness K dan pengacaranya Bernard Collaery bila kasus ini dilanjutkan.

Kasus Penyadapan Timor Leste

Kepada program ABC Four Corners, Xanana Gusmao mengatakan bukti yang dimilikinya kemungkinan akan mempermalukan pemerintah Australia terdahulu berkenaan dengan operasi intelijen yang dilakukan tahun 2004.

Ketika itu, kantor Perdana Menteri Timor Leste ketika itu Mari Alkitiri disadap oleh agen rahasia Australia di saat perundingan yang sedang berlangsung antar kedua negara berkenaan dengan minyak dan gas di Laut Timor.

"Saya sudah berjanji dengan mereka, bahkan pun bila peradilan berlangsung terbuka, saya akan menjadi saksi." kata Gusmao kepada Four Corners.

Ketika ditanya apa yang akan disampaikannya di pengadilan, Gusmao mengatakan semua informasi yang saya ketahui."

Witness K (Saksi K) adalah seorang agen rahasia yang terlibat dalam operasi penyadapan di Dili tahun 2004, dan Collaery adalah mantan pengacaranya.

Kedua orang ini, Witness K dan Bernard Collaery bisa dijatuhi hukuman penjara setelah dituntut dengan tuduhan memberikan informasi rahasia mengenai penyadapan itu kepada pemerintah Timor Leste.

Colllaery dikenai empat tuduhan tambahan karena berbicara dengan wartawan ABC berkenaan dengan masalah ini menyusul penggerebekan Polisi Federal Australia (AFP) dan Dinas Intejelen Australia (ASIO) ke kantor dan rumah Collaery.

Beberapa pengacara senior dan politisi di Austtralia sudah menyampaikan keprihatinan mengenai kasus ini dan kerahasiaan berkenaan dengan peradilan terhadap kedua orang tersebut yang dituntut berdsarkan UU Informasi Keamanan Nasional (NSI) Australia.

UU NSI ini diterapkan mulai tahun 2004 untuk menangani kasus pengadilan yang bersifat sensitif dan rahasia.

Biasanya kasus yang berkenaan dengan hal seperti ini adalah kasus terorisme, sehingga kesaksikan dan informasi yang disampaikan dilakukan di pengadilan tertutup.

Anthony Whealy QC, seorang mantah hakim yang menangani kasus terorisme Lodhi, kasus pertama yang dilakukan di bawah UU NSI, mempertanyakan penggunaan UU tersebut dalam kasus Timor Leste.

"Ini bisa menjadi peradilan paling rahasia yang dilakukan dalam sejarah Australia." kata Whealy.

Hukum tentang pembocoran informasi

"Saya kira UU NSI tidak dirancang untuk menangani kasus seperti ini."

"Saya kira UU itu dibuat bukan untuk menangani kasus pembocoran informasi yang dilakukan seseorang yang memberikan iinformasi kepada wartawan, dan juga pengacara dari pembocor informasi tersebut." kata Whealy.

Stephen Charles QC, mantan hakim Mahkamah Agung, yang pernah menjadi pembela bagi dua dinas intelejen Australia ASIO dan ASIS juga memberikan komentar.

"Sangat susah membayangkan adanya alasan yang kuat agar kasus ini diadili secara rahasia." katanya kepada Four Corners.

"Semua orang yang membaca koran akan tahu bahwa petugas ASIS memasuki dan menyadap kantor kabinet Timor Leste."

"Semua orang tahu bahwa karena penyadapan tersebut, Australia mendapat keuntungan besar dan tidak fair dalam perundingan yang dilakukan antara Timor dan Australia."

Jaksa Agung Australia Christian Porter telah mengeluarkan surat rahasia yang membatasi penyebaran informasi tertentu dan bukti di pengadilan yang bisa membahayakan keamanan nasional.

Kedua terdakwa mendapat batasan mengenai apa yang bisa mereka sampaikan kepada pengacara mereka.

Dan nantinya hkim atau magistrat yang akan memutuskan apa yang bisa disampaikan di pengadilan terbuka.

Namun Bernard Colleary sudah mengatakan UU NS ini akan berdampak kepada apa yang disampaikan dalam pembelaaan dan apa yang bisa dikatakannya kepada pengacaranya.

"Saya tisak tahu apakah saya akan diijinkan berbicara di sidang. Saya hanya diijinkan berbicara dengan pengacara saya setelah 18 bulan."

"Saya sekarang bisa berbicara dengan pengacara saya, namun saya mendapat pembatasan mengenai apa yang bisa saya sampaikan kepadanya." kata Colleary.

Dalam sebuah pernyataan kepada Four Corners, Jaksa Agung Christian Porter mengatakan keyakinannya bahwa pengadilan akan membuat keputusan yang tepat.

"Saya percaya dengan proses peradilan, dan pengadilan akan mencapai keseimbangan adalah soal melindungi keamanan nasional, dan prinsip keterbukaan di pengadilan." kata pernyataan tersebut.

"Saya sebelumnya pernah menyampaikan pandangan bahwa sedapat mungkin semua persoalan hukum dalam masalah ini harus dilakukan di peradilan terbuka dan itu masih menjadi pandangan saya sampai saat ini."

Kasus penuntutan terhadap Witness K dan Bernard Collaery in berbeda dari kebanyakan kasus hukum lainnya, dan memerlukan persetujuan dari Jaksa Agung sebelum penuntutan bisa dilakukan.

Kasus ini melibatkan hal yang berkenaan dengan bocoran informasi yang berasal dari Dinas Intejelen Australia ASIS.

Christian Porter memutuskan untuk melanjutkan kasus ini ke penuntutan bulan Mei tahun lalu, enam bulan setelah menjadi Jaksa Agung.

Jaksa Agung Australia sebelumnya George Brandis tidak memberikan persetujuannya selama dua tahun dan tiga bulan setelah diminta pertama kali oleh Lembaga Penuntut Pemerintah (CDPP).

Bernard Collaery mengatakan tidak bersalah atas semua tuduhan.

Witness K mengatakan akan juga menyatakan tidak bersalah, tergantung mengenai fakta yang akan diungkapkan.

Tonton Program Four Corners: Secrets, Spies and Trials, hari Senin (26/8/2019) pukul 20:30 di ABC TV dan iview

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Keluarga Kardashian didesak untuk jujur dan terbuka di media sosial karena posisi mereka sebagai panutan anak muda
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
"Pundi-pundi mereka berlumuran darah dan diare remaja perempuan." /**/ ...
Masjid terkena semprotan meriam air, pemimpin Hong Kong Carrie Lam meminta maaf
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mengunjungi masjid terbesar kota itu untuk meminta maaf setelah masj...
Kritik dan harapan kelompok minoritas kepada Jokowi: Perhatikan hak-hak kami
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Sejumlah warga berkomentar mengenai pelantikan Joko Widodo sebagai presiden periode kedua.Maria Cata...
Mengapa harapan rakyat memudar di periode kedua Jokowi?
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Pada 2014 Jokowi dielu-elukan sebagai harapan baru Indonesia, kini di periode keduanya sebagai presi...
Jokowi panggil Nadiem Makarim, Mahfud MD, Erick Thohir, Wishnutama
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah orang ke Istana Merdeka, termasuk pendiri dan CEO Gojek, Nad...
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mendadak copot semua gelar resmi untuk selir Sineenat Wongvajirapakdi
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn (67 tahun) hari Senin (21/10) mendadak mencopot semua gelar keraja...
Nadiem Makarim dan Erick Thohir siap menjadi menteri Kabinet Jokowi, apa reaksi pasar?
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Apa reaksi pasar dan analis ekonomi setelah Presiden Joko Widodo menawari kursi menteri kepada Nadie...
Ikan gabus sangat rakus dan bisa bertahan tiga hari di darat bikin repot pemerintah AS
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
"Jika Anda menangkap ikan gabus utara, pertama kali yang harus Anda lakukan adalah membunuhnya dan m...
Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Erick Thohir: Para calon menteri muda di kabinet Jokowi yang diharap membawa perubahan
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Tiga pengusaha muda, yakni Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Erick Thohir menyatakan siap untuk memban...
Perang Dunia II: Dua kapal perang Jepang yang karam di Samudera Pasifik ditemukan
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Para penjelajah laut dalam telah menemukan dua kapal induk Jepang yang karam dalam pertempuran Peran...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)