A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: row

Filename: elshinta/phpmu-link.php

Line Number: 56

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/phpmu-link.php
Line: 56
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/template.php
Line: 25
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 17
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: row

Filename: elshinta/phpmu-link.php

Line Number: 58

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/phpmu-link.php
Line: 58
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/template.php
Line: 25
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 17
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

news-mitra/////dialog-di-australia--mayoritas-ulama-di-indonesia-mendukung-nkri" />
Dialog di Australia : Mayoritas Ulama di Indonesia Mendukung NKRI
Elshinta
Senin, 26 Agustus 2019 - 08:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Dialog di Australia : Mayoritas Ulama di Indonesia Mendukung NKRI
ABC.net.au - Dialog di Australia : Mayoritas Ulama di Indonesia Mendukung NKRI

Masa depan demokrasi di Indonesia sangat tergantung pada seberapa jauh kaum ulama yang progresif, inklusif dan moderat meningkat secara kuantitaif dan kualitatif. Karakteristik ulama seperti itu mendukung kultur politik yang demokratis selama ini.

Ulama dan politik di Indonesia

  • Sejumlah pengamat menyebut Islam politik semakin menguat di Indonesia, namun survei terbaru menemukan mayoritas ulama tetap mendukung sistem demokrasi
  • Sekitar 37 persen ulama memiliki karakteristik konservatif, eksklusif, radikal dan ekstrimis
  • 16 persen ulama juga menolak konsep negara bangsa yang demokratis

Demikian benang merah dialog Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre yang menghadirkan Professor Dr Arskal Salim di kampus Universitas Monash, Melbourne, pada Kamis (22/8/2019) malam.

Prof Arskal merupakan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam pada Departemen Agama RI.

Dia menyatakan optimis karena mayoritas ulama di Indonesia mendukung sistem negara bangsa yang demokratis.

"Saya ingin mengutip survei UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2019, yang melibatkan 450 responden ulama dari 15 kota," kata Prof Arskal.

Hasil survei tersebut menunjukkan 71,56 persen ulama menerima konsep negara bangsa, sedangkan 16,44 persen menolak dan sisanya tidak menjawab.

"Terlihat cukup besar karena lebih 70 persen yang menerima. Tapi patut diperhatikan pula ada 16 persen ulama yang tetap menolak," kata penulis buku Contemporary Islamic Law in Indonesia Sharia and Legal Pluralism yang diterbitkan Edinburgh University Press 2015.

"Kalau dilihat dari karakteristik ulama dari yang progresif hingga yang ekstrimis terlihat bahwa yang moderat masih jauh lebih banyak," jelas Prof Arskal Salim.

Survei itu menemukan ulama dengan karakter progresif sebanyak 4,89 persen, yang inklusif 23,33 persen, moderat 34 persen, sehingga kalau dikombinasikan hasilnya menjadi 62,22 persen.

Sisanya sekitar 37 persen merupakan ulama dengan karateristik konservatif, eksklusif, radikal dan bahkan ekstrimis.

"Dengan angka seperti ini kita optimis bahwa mayoritas ulama tetap mendukung Indonesia yang demokratis," jelas alumni Universitas Melbourne ini.

Meski demikian, dia mengingatkan tetap ada lebih dari 30 persen ulama yang perlu diubah agar mendukung demokrasi di Indonesia.

Moderasi beragama

Dalam sejarah Indonesia, banyak ulama di awal kemerdekaan yang tidak bisa mengerti mengapa ideologi negara dengan penduduk mayoritas muslim didasarkan pada ideologi selain Islam.

"Tapi seiring perubahan waktu, banyak ulama saat ini bisa menerima Pancasila dan bentuk negara bangsa yang ada," kata Prof Arskal.

Departemen Agama RI, katanya, saat ini menjalankan program "moderasi beragama" yang mendukung kegiatan-kegiatan Islam moderat.

"Di lingkungan pendidikan tinggi Islam kami memiliki sekitar 1 juta mahasiswa berasal dari 58 Universitas Islam Negeri dan lebih dri 700 perguruan tinggi swasta," katanya.

Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan mahasiswa pada perguruan tinggi umum yang berjumlah sekitar 7 juta orang.

Namun, kata Prof Arskal, dia optimis tetap bisa menjaga Indonesia sebagai negara demokrasi dengan keberagamaan yang moderat.

Dalam sesi tanya-jawab, peneliti dan dosen UIN Jakarta ini menyatakan memang benar terjadi adanya ancaman bagi kaum minoritas dari Islam politik.

Dalam penelitiannya di Aceh beberapa tahun silam, Prof Arskal menemukan bagaimana warga non Muslim terutama di wilayah perbatasan dengan Sumatra Utara, harus beradaptasi dengan hukum syariah.

"Mereka juga diharuskan mengenakan jilbab meskipun mereka itu Nasrani. Jadi guru yang beragama Nasrani jika ingin mengajar di depan kelas, mereka harus mengenakan jilbab," jelasnya.

Ketika ditanya mengapa mau mengenakan jilbab, guru tersebut mengaku tidak mau repot ditanyai orang dan supaya bisa menyatu dengan masyarakat sekitarnya.

Ditanya mengenai orang Islam yang selalu menuntut lebih padahal sudah merupakan mayoritas, Prof Arskal menyebut adanya fenomena "mayoritas dengan mentalitas minoritas".

"Saya tidak mengerti juga mengapa banyak pemuka Islam yang merasa terancam padahal mereka dari umat mayoritas. Mungkin karena terlalu terekspos pada teori konspirasi, di samping faktor lain," katanya.

Menurut Prof Arskal, bagi umat Islam yang tidak merasa terancam, mereka cenderung lebih moderat dan toleran.

Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Keluarga Kardashian didesak untuk jujur dan terbuka di media sosial karena posisi mereka sebagai panutan anak muda
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
"Pundi-pundi mereka berlumuran darah dan diare remaja perempuan." /**/ ...
Masjid terkena semprotan meriam air, pemimpin Hong Kong Carrie Lam meminta maaf
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mengunjungi masjid terbesar kota itu untuk meminta maaf setelah masj...
Kritik dan harapan kelompok minoritas kepada Jokowi: Perhatikan hak-hak kami
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Sejumlah warga berkomentar mengenai pelantikan Joko Widodo sebagai presiden periode kedua.Maria Cata...
Mengapa harapan rakyat memudar di periode kedua Jokowi?
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Pada 2014 Jokowi dielu-elukan sebagai harapan baru Indonesia, kini di periode keduanya sebagai presi...
Jokowi panggil Nadiem Makarim, Mahfud MD, Erick Thohir, Wishnutama
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah orang ke Istana Merdeka, termasuk pendiri dan CEO Gojek, Nad...
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mendadak copot semua gelar resmi untuk selir Sineenat Wongvajirapakdi
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn (67 tahun) hari Senin (21/10) mendadak mencopot semua gelar keraja...
Nadiem Makarim dan Erick Thohir siap menjadi menteri Kabinet Jokowi, apa reaksi pasar?
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Apa reaksi pasar dan analis ekonomi setelah Presiden Joko Widodo menawari kursi menteri kepada Nadie...
Ikan gabus sangat rakus dan bisa bertahan tiga hari di darat bikin repot pemerintah AS
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
"Jika Anda menangkap ikan gabus utara, pertama kali yang harus Anda lakukan adalah membunuhnya dan m...
Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Erick Thohir: Para calon menteri muda di kabinet Jokowi yang diharap membawa perubahan
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Tiga pengusaha muda, yakni Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Erick Thohir menyatakan siap untuk memban...
Perang Dunia II: Dua kapal perang Jepang yang karam di Samudera Pasifik ditemukan
Rabu, 23 Oktober 2019 - 08:36 WIB
Para penjelajah laut dalam telah menemukan dua kapal induk Jepang yang karam dalam pertempuran Peran...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)