Hotel Bersejarah di Melbourne Milik Pengusaha Indonesia Kembali Disoroti
Elshinta
Senin, 12 Agustus 2019 - 08:44 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Hotel Bersejarah di Melbourne Milik Pengusaha Indonesia Kembali Disoroti
ABC.net.au - Hotel Bersejarah di Melbourne Milik Pengusaha Indonesia Kembali Disoroti

Pemerintah negara bagian Victoria, Australia, membatalkan rencana kontroversial untuk pembangunan kembali hotel bersejarah di Melbourne, Hotel Windsor, yang merupakan milik pengusaha asal Indonesia Halim Group.

Rencana renovasi dan perluasan senilai 330 juta dolar (Rp 3,3 triliun) ini diajukan pemilik hotel, Grup Halim, kelompok usaha asal Indonesia.

Perpanjangan izin yang mereka ajukan ke Pemerintah Victoria merupakan yang keempat, setelah izin sebelumnya akan habis masa berlakunya pada Maret 2020.

Dalam izin itu mereka berencana menghancurkan sebagian dari gedung hotel yang berada di sisi jalan Spring Street serta membangun hotel mewah 26 lantai di bagian belakang gedung.

Halim Group telah mengajukan perpanjangan izin keempat yang akan berakhir Agustus 2023.

Namun Menteri Perencanaan Pembangunan Victoria Richard Wynne menolak perpanjangan izin, dan secara efektif mematikan proyek tersebut, yang pertama kali disetujui oleh Pemerintah Victoria pada tahun 2010.

"Pihak developer telah gagal untuk mendapatkan dukungan dana dan tidak menunjukkan keinginan nyata untuk memulai konstruksi meskipun telah memiliki waktu sembilan tahun untuk itu," kata Menteri Wynne.

Ini bukan pertama kalinya pemerintah menolak perpanjangan izin untuk renovasi.

Tiga tahun lalu, Halim Group membawa kasusnya ke pengadilan banding setelah Menteri Wynne juga menolak perpanjangan waktu itu. Halim Group memenangkan gugatan dan mendapatkan perpanjangan hingga Maret 2020.

Dibangun pada tahun 1883, Hotel Windsor merupakan bagian penting dari sejarah Melbourne.

Badan Heritage Victoria menggambarkan hotel ini sebagai "contoh gaya mewah yang diadopsi untuk sebuah hotel abad kesembilan belas di Melbourne yang masih tersisa".

Pihak developer secara teknis memiliki waktu hingga 31 Maret 2020 atau beberapa bulan dari sekarang untuk merampungkan pekerjaannya, yang tampaknya sangat tidak mungkin tercapai.

Rencana renovasi dan perluasan Hotel Windsor jika diajukan izin baru saat ini, tidak akan mendapat persetujuan pemerintah karena adanya aturan baru yang mulai berlaku sejak 2010.

Aturan baru itu berupa pengendalian ketinggian bangunan yang berada di dekat gedung Parlemen. Hotel Windsor terletak persis di seberang Parlemen Victoria.

"Jika permohonan serupa untuk pengembangan diajukan ke saya hari ini, akan langsung saya tolak. Aturan perencanaan dan harapan masyarakat telah berubah," ujar Menteri Wynne kepada ABC News..

Menurut Pemerintah Victoria, hotel 26 lantai yang diusulkan Halim Group tingginya hampir 92 meter, atau hampir 52 meter lebih tinggi dari batas ketinggian yang berlaku saat ini di jalan Spring Street serta batas ketinggian 40 meter untuk Windsor Place di bagian belakang.

Dalam sebuah pernyataan, Direktur Utama Halim Group Adi Halim mengatakan kecewa atas keputusan tersebut.

"Ini merupakan peluang yang hilang buat Hotel Windsor dan buat Melbourne," kata Adi Halim.

"Kami bertekad mempertahankan hotel ini dan bekerja sama dengan Heritage Victoria untuk menemukan solusi alternatif. Sementara itu semua berjalan seperti biasa," tambahnya.

Hotel Windsor terdaftar dalam Daftar Warisan Victoria, yang berarti pemiliknya harus memeliharanya dan tidak membiarkannya rusak.

Pihak oposisi di Victoria sebelumnya juga menentang perpanjangan izin renovasi dan pembangunan kembali tersebut.

Simak berita selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)