Peneliti Australia Sebut Lembaga Survei Umumnya Dukung Jokowi Saat Pilpres 2019
Elshinta
Kamis, 08 Agustus 2019 - 14:48 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Peneliti Australia Sebut Lembaga Survei Umumnya Dukung Jokowi Saat Pilpres 2019
ABC.net.au - Peneliti Australia Sebut Lembaga Survei Umumnya Dukung Jokowi Saat Pilpres 2019

Dari Pemilihan Presiden Indonesia tahun 2019, terlihat bahwa saat ini ada sekitar 10 lembaga survei yang sejak 2004 memulai tradiri merilis hasil hitung cepat yang terpercaya. Namun dalam kontestasi politik yang baru terjadi, mereka umumnya mendukung petahana.

Demikian disampaikan peneliti politik Indonesia Dr Dirk Tomsa dari La Trobe University dalam seminar bertajuk "Indonesias polling industry after the 2019 election", yang digelar Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre dan Monash University Library di Melbourne, Kamis (8/8/2019).

"Survei mereka sebelum pemilu, paling tidak secara akademis, bisa dipercaya karena hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil resmi KPU," kata Dr Tomsa.

Namun, dalam konteks politik Indonesia, kata Dr Tomsa, tidak ada yang netral, dan ini merupakan salah satu isu yang harus dijawab oleh industri survei politik.

"Meskipun sebagai orang luar saya percaya hasil survei mereka, tapi sangat jelas bahwa kebanyakan dari lembaga survei yang kredibel itu, dalam Pilpres kali ini dan juga Pilpres sebelumnya, mereka tidaklah netral," ujarnya.

"Mereka hampir secara eksklusif berada di belakang Jokowi," kata Dr Tomsa, yang bidang kajiannya termasuk pemilu dan partai politik di Indonesia.

"Jadi jika Anda seorang pendukung Prabowo, dan Prabowo selalu mengatakan bahwa survei-survei ini didesain untuk mengalahkan dia, lalu Anda membaca postingan Twitter Yunarto Wijaya untuk memilih Jokowi karena Prabowo jelek, maka dengan mudah Anda percaya survei-survei ini dibuat untuk mengalahkan Prabowo," katanya.

Yunarto yang dimaksud Dr Tomsa adalah salah seorang praktisi survei politik dari Charta Politika.

Lembaga survei lainnya yang menjadi sorotan Dr Tomsa dalam Pilpres 2019 ini yaitu Indikator, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Saiful Mujani Research Center (SMRC), Poltracking, Lingkaran Survei Indonesia, Indo Barometer, Cyrus Network, Populi Center dan Konsep Indonesia. Kesemuanya tergabung dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi).

Selain itu, juga lembaga survei yang tergabung dalam Aropi yaitu LSI Denny JA dan Alvara Research Center.

Mereka yang bekerja di bidang industri survei politik, kata Dirk Tomsa, sebaiknya menanggalkan pandangan politik pribadinya dari ruang publik seperti media sosial, sehingga akan turut membantu menurunkan tensi ketegangan dalam kontes politik.

Menurut dia, dua pilpres terakhir, bukan sekadar kontes antara dua kandidat di mata para lembaga survei.

"Mereka melihatnya sebagai pertaruhan masa depan Indonesia dimana Prabowo merupakan kandidat yang polarizing," jelas Dr Tomsa yang menulis buku Politics and Democratization in Indonesia: Golkar in the post-Suharto era.

"Mungkin saja dalam konstalasi berbeda di tahun 2014, afiliasi politiknya tidak akan sekuat dan seemosional di Pilpres 2019, sehingga lembaga survei juga dapat menarik diri dari sikap pemihakan mereka," paparnya.

"Yang menarik dalam hasil Pilpres 2019 kita tidak lagi melihat hasil survei yang tidak jelas di layar kaca seperti terjadi di 2014, dan Prabowo mengatakan hasil dari tim internalnya menyebutkan dialah sebagai pemenang."

Dari dua asosiasi lembaga survei, Persepi dan Aropi, mereka tidak selalu sependapat dalam hal etika dan transparansi.

"Langkah berikutnya bagi lembaga-lembaga survei di Indonesia adalah meningkatkan transparansi dari mana mereka mendapatkan pendanaan dalam setiap survei, sehingga publik mengetahui mereka ini bekerja untuk kepentingan siapa," katanya.

Di bagian lain seminar ini yang dipandu Prof Ariel Heryanto, Dr Tomsa menyebutkan sejak Saiful Mujani memulai industri ini di tahun 2002 dan secara kredibel memprediksi SBY sebagai pemenang Pilpres 2004, maka perkembangannya sudah demikian maju.

"Kemungkinan sudah ada ratusan lembaga survei di seluruh Indonesia saat ini, tapi yang secara nasional memiliki reputasi hanya sekitar 10 lembaga survei," jelasnya.

Dia menyebut Litbang Kompas sebagai suatu anomali, karena merupakan satu-satunya penyelenggara survei politik yang merupakan bagian dari organisasi media.

Menurut Dr Tomsa, salah satu dampak negatif maraknya industri survei politik yaitu turut berkontribusi pada semakin mahalnya ongkos politik di Indonesia, karena para kandidat akan dikenakan biaya yang tidak sedikit oleh lembaga survei.

Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV