Ursula von der Leyen, Ibu Tujuh Anak Yang Terpilih Sebagai Presiden Komisi Eropa
Elshinta
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ursula von der Leyen, Ibu Tujuh Anak Yang Terpilih Sebagai Presiden Komisi Eropa
DW.com - Ursula von der Leyen, Ibu Tujuh Anak Yang Terpilih Sebagai Presiden Komisi Eropa

Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen memenangkan pemungutan suara untuk menjadi presiden Komisi Eropa berikutnya, dan akan menjadi perempuan pertama yang memegang jabatan itu.

Dia memperoleh 383 dari 747 kemungkinan suara, hanya sembilan suara lebih banyak dari minimum yang harus dicapainya. 327 anggota parlemen menolaknya dan 22 abstain.

Dalam sambutan singkat setelah penghitungan akhir diumumkan, dia mengatakan tujuannya adalah mewujudkan Eropa yang kuat dan bersatu.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengucapkan selamat kepada von der Leyen, menyebutnya "orang Eropa yang berkomitmen" yang akan "mengatasi dengan penuh semangat tantangan yang kita hadapi sebagai Uni Eropa."

"Meskipun saya kehilangan menteri lama, saya memenangkan mitra baru di Brussel," kata Merkel, melalui juru bicaranya Steffen Seibert di Twitter.

Charles Michel, perdana menteri sementara Belgia dan presiden Dewan Eropa berikutnya juga datang ke Twitter untuk menawarkan dukungannya, mengatakan dia "berharap untuk bekerja sama secara erat dengan lembaga-lembaga untuk masa depan Eropa."

"Mari kita bekerja bersama demi kepentingan semua orang Eropa!"

Para pemimpin politik di Yunani dan Austria juga menyambut baik berita itu, seperti halnya Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

Lahir di Brussel, Fasih Bahasa Inggris dan Prancis

Dilahirkan di pinggiran kota Brussel lebih dari 60 tahun yang lalu, karir politiknya kini mungkin membawanya kembali ke kota kelahiran yang juga ibu kota Eropa ini.

Ketika membahas nominasi pekerjaan utama untuk posisi ini, para kepala negara dan pemerintahan di Uni Eropa pun banyak yang mengusulkan nama Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen.

Von der Leyen diperkenalkan ke panggung di Berlin oleh Kanselir Angela Merkel pada 2005 dan pernah disebut sebagai calon pengganti Merkel. Kini politisi dari partai Demokrat Kristen ini sepertinya akan jadi perempuan pertama yang akan memimpin Uni Eropa. Namun keputusan pastinya baru akan diambil oleh Parlemen Eropa dalam waktu dekat.

Von der Leyen menghabiskan 13 tahun pertama hidupnya di Brussel. Sang ayah, Ernst Albrecht, yang pada kemudian hari akan menjabat sebagai perdana menteri negara bagian Niedersachsen, Jerman, adalah pejabat tingkat tinggi di EEC dan EC, lembaga cikal-bakal Uni Eropa.

Berbeda dengan rekan sejawatnya di pemerintahan, von der Leyen fasih berbahasa Inggris dan Prancis dan selalu bertindak penuh percaya diri di panggung internasional.

Dalam masa pemerintahan yang dipimpin oleh Kanselir Merkel, von der Leyen memegang berbagai jabatan menteri. Dia akan selalu mengerjakan tugas barunya dengan penuh dedikasi, membuat struktur pemerintahan yang telah berjalan kembali dipertanyakan dan akhirnya membuat perombakan.

Kadang-kadang, tekadnya ini bahkan membuat jengkel rekan-rekan partai parlementernya.

Dari menteri keluarga hingga menteri pertahanan

Pada awalnya, ibu dari tujuh anak ini menjabat sebagai menteri keluarga antara tahun 2005 dan 2009. Dengan gaya yang terkadang tidak konvensional, ia mengirim sinyal yang jelas kepada lembaga politik di Berlin.

Misalnya, ia memulai program bantuan untuk para orang tua yang disebut dengan Elterngeld dan secara nasional mengawasi pengasuhan anak dengan memberikan dukungan keuangan yang substansial dari pemerintah.

Tahun 2009, kabinet Merkel jilid dua mulai beroperasi, von der Leyen yang adalah seorang dokter ini pun menjadi menteri kesehatan. Empat tahun kemudian, pada Desember 2013, ia beralih jadi Kementerian Pertahanan.

Dia tetap menjabat sebagai Menteri Pertahanan bahkan setelah berbagai kerumitan proses pembentukan pemerintah pascapemilihan federal tahun 2017. Hampir tidak ada pendahulunya, sebanyak 17 orang yang semuanya laki-laki, berhasil bertahan di posisi ini selama enam tahun.

Sebelum mengambil alih Kementerian Pertahanan (posisi yang lama dianggap sebagai kuburan untuk karir politik Jerman), von der Leyen yang ambisius memiliki karir yang nyaris sempurna. Di sebagian besar karirnya von der Leyen loyal kepada Kanselir Angela Merkel yang menganggapnya sebagai pilar yang solid di kabinet.

Penggerak dan pengguncang

Sebagai menteri pertahanan, von der Leyen dengan cepat menangani masalah angkatan bersenjata satu per satu. Angkatan bersenjata Jerman atau Bundeswehr hingga kini masih didera berbagai masalah seperti peralatan yang ketinggalan zaman dan cacat, proyek senjata yang disalahpahami dan kekurangan ahli.

Dengan melakukan banyak tekanan politik dan berbicara di depan umum atas nama Bundeswehr, von der Leyen berhasil meningkatkan anggaran pertahanan, meskipun masih jauh dari target belanja NATO.

Dia menganulir kebijakan batas atas jumlah tentara jerman sebanyak 185.000 pasukan. Di bawah kepemimpinan von der Leyen, kebijakan pertahanan menjadi elemen yang menonjol dalam kebijakan luar negeri Jerman. Langkah ini juga sejalan dengan upaya internasional untuk memerangi milisi teror "Negara Islam."

"Kita telah meninggalkan masa-masa ketika Bundeswehr dirampingkan dalam waktu yang lama," kata von der Leyen pada 2017.

"Situasi keamanan telah berubah sehingga Bundeswehr harus menghadapi sejumlah besar tantangan, mulai dari Suriah dan Irak hingga Mali dan seluruh misi di Laut Mediterania. Selain itu, pasukan militer juga harus menangani bantuan untuk pengungsi dan melindungi perbatasan di bagian timur."

Ditanya oleh DW apakah von der Leyen adalah pilihan yang baik untuk menggantikan Jean-Claude Juncker sebagai presiden Komisi Uni Eropa, pakar pertahanan dari Partai Hijau Omid Nouripour menyindir banyaknya kegagalan Bundeswehr baru-baru ini yang menjadi berita utama di Jerman.

"Situasi terkait peralatan angkatan bersenjata Jerman bukanlah kualifikasi yang diperlukan untuk pekerjaan eksekutif puncak Uni Eropa."

Terganjal skandal

Reputasi Von der Leyen sebagai perempuan yang bisa menyelesaikan sesuatu telah tercoreng dalam beberapa tahun terakhir akibat sejumlah keputusan pribadi dan skandal.

Selama masa jabatannya, beberapa proyek persenjataan utama ditunda, dan secara bersamaan terungkap juga kegiatan ekstremis sayap kanan di angkatan bersenjata dan praktik-praktik memalukan yang mempengaruhi anggota baru.

Klaimnya yang mengatakan bahwa Bundeswehr memiliki "masalah sikap" melukai citranya di antara pasukan. Baru-baru ini, dia dibuat bingung oleh pertanyaan apakah kapal pelatihan angkatan laut "Gorch Fock" masih memiliki masa depan meskipun biaya untuk merestorasinya terus meroket.

Noda-noda semacam ini lah yang telah mencoreng reputasi sempurna von der Leyen di Berlin dalam beberapa bulan dan tahun terakhir. Namun pengamat masih berpendapat bahwa prospeknya untuk mendapatkan pekerjaan di Brussels tetap baik.

Selain memiliki pengetahuan lokal dan keterampilan bahasa, ia berkontribusi membangun struktur serikat pertahanan Uni Eropa.

"Pasukan Eropa sebagai tujuan jangka panjang dan NATO bukan saling berlawanan tetapi, bagi saya, ini adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Sangat penting bagi orang Eropa untuk membuat pilar yang kuat di dalam NATO, tidak hanya untuk menegakkan kredibilitas NATO tetapi juga memiliki suara Eropa yang kuat, "katanya.

Menanggapi seruan Presiden AS Donald Trump supaya Jerman dan Eropa memberikan komitmen militer yang lebih besar, ia berkata: "Menurut saya, itu permintaan yang adil."

Di masa lalu von der Leyen telah menunjukkan ambisi untuk jabatan yang lebih tinggi. Kini, karirnya dapat membawanya menjauh dari politik Jerman dan kembali ke tempat kelahirannya. (ae/vlz)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 157
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once