Kiri Kanan
FBI memburu Ratu penipu Hollywood yang mengirim dan memperdaya korban ke Jakarta
Elshinta
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
FBI memburu Ratu penipu Hollywood yang mengirim dan memperdaya korban ke Jakarta
BBC Indonesia - FBI memburu Ratu penipu Hollywood yang mengirim dan memperdaya korban ke Jakarta

Biro Penyelidikan Federal Amerika Serikat (FBI) meluncurkan situs dengan harapan mendapatkan keterangan dari para korban penipuan tingkat tinggi yang dijuluki Ratu Penipu Hollywood.

Seseorang yang dijuluki Ratu Hollywood ini mengirim korban ke Indonesia, dengan dalih mereka "diberi penugasan khusus dan dipaksa untuk memakai sopir, penerjemah, dan staf pendukung dengan tarif ribuan dolar".

Para korban biasanya diperdaya dengan menggunakan email atau telepon dari mereka yang mengaku sebagai perempuan kuat Hollywood.

Pemerintah Amerika Serikat percaya bahwa Ratu Penipu yang menggunakan identitas para eksekutif Hollywood ini berhasil memperdaya ribuan orang.

"Dalam kasus penipuan transnasional yang masih berlangsung dengan target warga Amerika, para korban dikontak dengan SMS, email atau telepon dengan janji pekerjaan menggiurkan dalam bidang hiburan," tulis FBI dalam peringatan yang dikeluarkan Senin (15/07).

"Korban sampai saat ini termasuk penulis, aktor pengganti, artis make-up, penyedia jasa keamanan dan fotografer. Para korban diminta untuk bertolak ke Indonesia, biasanya Jakarta, untuk apa yang mereka sebut uji coba jasa."

"Saat tiba di Indonesia, para korban dijemput oleh supir dan dipaksa untuk memberikan uang dolar Amerika. Para korban terus diminta uang untuk jasa lain sampai perjalanan selesai atau mereka sadar menjadi korban penipuan. Korban tidak mendapat ganti rugi perjalanan atau dibayar atas tugas mereka saat berada di Indonesia," demikian tulis FBI dalam situsnya.

Penipuan ini mulai terungkap tahun lalu dengan para pejabat mengatakan Ratu Penipu mengirim korban ke Indonesia untuk "tugas khusus," dan diperas untuk membayar ribuan dolar untuk sopir dan penterjemah gadungan.

Selain penipuan dengan pemerasan ini, penipu yang mengaku sebagai eksekutif film Hollywood ini berhasil meyakinkan calon aktor pria yang diwajibkan berpartisipasi dalam telepon seks, menurut the Hollywood Reporters.

Ratu Penipu Hollywod yang masih belum terciduk

Salah seorang yang dipakai identitasnya adalah Victoria Alonso, eksekutif Marvel, yang baru menyadari April lalu bahwa seseorang menggunakan identitasnya untuk audisi calon aktor melalui audisi telepon seks.

Perusahaan keamanan yang berkantor di New York, K2 Intelligence, melacak Ratu Penipu ini selama dua tahun terakhir namun masih belum terciduk.

"K2 Intelligence menghargai FBI karena menerbitkan situs untuk mencari korban Penipuan Bisnis Hiburan di Indonesia, yang dikenal dengan Ratu Penipu Hollywood, langkah yang membantu para korban mencari keadilan," kata perusahaan itu dalam satu pernyataan Senin (15/07).

"Kami sangat bangga dengan tim kami yang dipimpin Nicoletta Kotsianas, dalam penyelidikan dan membantu mengungkap penipuan dengan mengaku sebagai perempuan berpengaruh di Hollywood dan tokoh berpengaruh lain dan juga korban penipuan lain yang dikirim ke Indonesia dan uangnya tak pernah diganti," kata perusahaan itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Wendy Deng, tokoh perempuan berpengaruh di Hollywood yang juga dipakai identitasnya oleh Ratu Penipu.

Todd Hemmen, agen FBI di San Diego, tempat penyelidikan dipusatkan, mengingatkan para aktor untuk berhati-hati bila mendapat tawaran ke Indonesia, satu-satunya negara yang menjadi tujuan yang digunakan penipu sejauh ini.

Ia mengatakan membayar di muka merupakan sesatu yang biasa dalam industri hiburan, namun ia meminta orang untuk lebih berhati-hati.

Dalam wawancara dengan The New York Times, Hemmen mengatakan "para penipu sangat teliti dalam mengetahui latar belakang korban" sehingga memudahkan orang terperdaya.

Korban ditipu antara US$15.000 sampai US$20.000

Nicoletta Kotsianas sendiri mengatakan mengatakan K2 telah berbicara dengan sekitar 100 korban.

Sebagian mengalami kerugian sekitar US$3000, atau sekitar Rp42 juta, biasanya mencakup tiket pesawat dan membayar sopir di Jakarta.

Sejumlah lainnnya mengalami kerugian sebesar US$150.000, atau sekitar Rp2,1 miliar, karena beberapa kali ke Indonesia dan terlibat dalam proyek yang baru kemudian diketahui palsu.

Rata-rata menurut Kotsianas, para korban mengalami kerugian besar US$15.000 (Rp200 juta)sampai US$20.000 (Rp280 juta).

FBI sendiri belum dapat memastikan berapa banyak korban dan berapa kerugian yang mereka alami.

Sebagian korban yang ditarget melalui telepon diarahkan ke audisi seks, kata Kotsianas.

Mereka yang meneliti identitas penelepon tercegah dari jeratan penipuan ini, kata Kotsianas.

"Dari orang-orang yang dikirim ke Indonesia, ada sektiar 20 yang mendapatkan tawaran lewat telepon," katanya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung Api di Selandia Baru Erupsi, 1 Orang Tewas dan Belasan Luka
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Seperti dilansir Associated Press dan AFP, Senin (9/12/2019), gunung api yang ada di sebuah pulau ke...
Korban Perkosaan di India Dibakar Saat Sedang Menuju Sidang
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Seorang perempuan India berusia 23 tahun berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit usai mengalami...
Polisi Tembak Mati Empat Terduga Pelaku Perkosaan di India
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Polisi India mengatakan pada Jumat (06/12) telah menembak mati empat pria terduga pelaku pemerkosaan...
Banyak Tenaga Berpendidikan Jerman Dapat Gaji Lebih Tinggi di Luar Negeri
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Warga Jerman pindah dan kerja di luar negeri rata-rata berpenghasilan lebih banyak 1000 euro per bul...
Angela Merkel Lakukan Kunjungan Resmi Pertama Kali ke Kamp Nazi di Ausschwitz
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Setelah 14 tahun memimpin Jerman, Kanselir Angela Merkel hari Jumat (6/12) melakukan kunjungan resmi...
Terlalu Kritis, Wartawan Iran di Eropa Hadapi Intimidasi Teheran
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Hari-hari ini kabar muram acap menghampiri jurnalis Iran yang hidup dan bekerja di luar negeri, lant...
Jerman Dituduh Lunak Terhadap Cina Soal HAM dan Hong Kong
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Sejak demonstrasi pro-demokrasi di Hong Kong dimulai Juni lalu, para aktivis telah meminta dukungan ...
H&M Tawarkan Penyewaan Pakaian, Demi Lingkungan atau Trik Pemasaran?
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Di salah satu sudut tokonya yang baru dibuka lagi di Stockholm, H&M menawarkan kemungkinan menye...
Pemilu Inggris: Johnson dan Corbyn dalam Debat Terakhir
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Dua kandidat utama Perdana Menteri Inggris Raya saling adu gagasan pada debat terakhir yang disiarka...
SIPRI: Bisnis Senjata Makin Marak, Tidak Ada Tanda-Tanda Perlambatan
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Seratus produsen senjata dan kontraktor militer terbesar di dunia mengalami peningkatan penjualan gl...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)