Cara Mengurangi Derita Anak Akibat Perpisahan Orang Tua
Elshinta
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Cara Mengurangi Derita Anak Akibat Perpisahan Orang Tua
DW.com - Cara Mengurangi Derita Anak Akibat Perpisahan Orang Tua

Perpisahan tidak seharusnya jadi malapetaka tanpa ujung bagi anak jika saja para orang dewasa yang terlibat tetap mengingat satu hal: mereka tetaplah orang tua.

Psikolog perkembangan Harald Werneck dengan jelas mengingat seorang anak berusia 12 tahun yang tidak mau memakan makan siangnya di sekolah. Padahal bekal makan siang itu telah dibungkus sang ayah untuknya.

Akibatnya, ayah anak itu sangat marah pada bocah tersebut sehingga ia menceraikan ibu sang bocah dan pergi - atau setidaknya, itulah yang dipikirkan bocah itu dalam benaknya.

Anak-anak memiliki perspektif tersendiri tentang perpisahan orang tua mereka. Mereka menarik kesimpulan yang mungkin tampak tidak masuk akal bagi orang dewasa, namun sangat masuk akal di mata anak tersebut. Dan kesalahan penafsiran ini ini terus melekat di benak mereka.

Jadi apa yang dapat dilakukan orang tua untuk membuat perpisahan jadi lebih mudah bagi anak-anak? Hal apa saja yang tidak boleh dilakukan, tidak peduli seberapa marah, sedih atau sakit hati para orang tua, jika hubungan mereka berantakan?

Tidak mesti jadi kabar buruk

Corinna, bocah berusia sembilan tahun, mengatakan dia menikmati "pagi yang cukup teratur" sampai suatu saat sang ibu memintanya datang ke ruang tamu. Di situlah dia diberi tahu bahwa ayahnya akan pergi. Hari itu juga.

Corinna mengatakan kalau dia kalut, takut, dan dia tidak mengerti apa yang tengah terjadi.

Namun bukankah ini normal dialami anak-anak yang orang tuanya berpisah? Bukankah itu selalu merupakan pengalaman yang buruk?

"Tidak," ujar psikolog dan terapis keluarga Beatrice Wypych. "Jika orang tua sudah sering bertengkar ketika masih bersama, perpisahan sebenarnya dapat membuat segalanya jadi lebih santai," katanya kepada DW.

Para orang tua yang terus-menerus bertengkar satu sama lain akan meracuni suasana di rumah, kata Wypych. Mereka begitu sibuk dengan kondisi mereka sendiri sehingga pada dasarnya melupakan anak-anak mereka.

Setelah hubungan itu berakhir dan konflik yang sudah berlangsung lama juga usai, para ibu dan ayah bisa fokus lagi kepada anak-anak mereka.

Kamu tidak bersalah!

Namun banyak anak tidak mendapatkan informasi latar belakang yang cukup. Mereka memang bisa merasakan ketegangan atau permusuhan di antara orang tua mereka, tetapi tidak mengerti sumbernya.

"Jika Anda tidak berkomunikasi dengan anak-anak Anda," kata Wypych, "mereka dibiarkan sendiri dengan perasaan mereka dan mencoba untuk memahami hal itu sendiri."

Anica., sekarang berusia 28 tahun, orang tuanya juga sering bertengkar sebelum berpisah. "Ibuku selalu sedih," katanya. "Dan sebagai seorang anak, kamu pikir kaulah yang harus disalahkan atas (keadaan) itu."

Bagi psikolog Werneck, asumsi anak kecil seperti ini tidak lah mengejutkan. "Terutama pada usia prasekolah, anak-anak berpikir sangat egosentris," ujarnya. "Mereka percaya bahwa mereka telah sedikit banyak berkontribusi pada semua yang terjadi di dunia."

Banyak orang tua, lanjutnya, lupa memberi tahu anak-anak bahwa mereka tidak dapat disalahkan atas kegagalan hubungan orang tuanya.

Corinna yang berusia sembilan tahun mengatakan dia tidak pernah menyalahkan diri sendiri atas perpisahan orang tuanya. Namun, ibunya berharap dia memihak.

"Ibuku berharap kami marah dengan ayah kami," ujarnya. "Itu kesalahan terbesar ibuku. Dia membuat masalahnya dengan ayah juga menjadi masalah kami."

Tidak dapat bimbingan emosi

Wypych yang juga bekerja sebagai psikolog legal mengatakan anak-anak akan kehilangan kedua orang tuanya jika orang dewasa terobsesi dengan konflik mereka. Anak-anak, katanya, "seperti anak yatim secara emosional."

Sang ibu berbicara buruk tentang sang ayah, dan sang ayah berbicara buruk tentang sang ibu. Sementara itu, anak-anak dipaksa untuk berdiri di antara keduanya dan akhirnya terpecah-belah. Rusaknya hubungan orang tua dan anak secara alami menjadi konsekuensinya.

Wypych menjelaskan bahwa ketika salah satu pihak orang tua berbicara buruk tentang yang lain di depan anak, mereka mungkin tidak mempertimbangkan fakta bahwa beberapa kata atau label negatif bisa juga melekat pada diri anak.

"Ada bagian dari sang anak yang jadi buruk secara permanen," katanya. Dan jaminan adanya kerusakan terhadap harga diri anak, tambahnya, bisa sangat besar.

Meski orang dewasa menganggap jika hinaan, tindakan pembalasan dendam ringan dan agresi mereka terhadap pasangan dapat "dibenarkan," tetapi bagi anak yang mendengarkan, itu adalah hal yang kejam.

Hal ini banyak dibenarkan oleh orang-orang yang berbagi pengalaman mereka dalam artikel ini.
"Yang penting adalah apakah orang tua berhasil memisahkan peran mereka sebagai pasangan [mantan] dari peran mereka sebagai orang tua," kata Wypych.

Ini mungkin terdengar seperti sesuatu yang nyaris mustahil, tetapi tidak ada cara lain untuk mengatasinya.

Terapis ini pun merekomendasikan pasangan disfungsional yang memiliki anak untuk meminta nasihat dari para profesional terkait perpisahan. Banyak organisasi nirlaba menawarkan layanan seperti itu.

Yang penting adalah, katanya, untuk terus menyampaikan kepada anak-anak bahwa mereka aman dan bahwa mereka dapat mendatangi kedua orang tua bila mereka merasa khawatir.

Orang tua dan teman

Para orang tua yang telah berpisah dan yang masih membaca hingga titik ini - mungkin bisa bernapas lega karena mereka telah berhasil tetap berteman dengan mantan pasangan mereka. Namun pengaturan ini juga tidak selalu mudah bagi anak-anak.

"Sebagai orang dewasa, dan terutama sebagai psikolog, kita secara alami menggambarkan ini sebagai titik awal yang lebih baik," kata Werneck. "Namun, anak-anak akan bertanya pada diri sendiri, 'Mengapa orangtua saya mesti berpisah?'"

Anak-anak yang pernah mengalami "orang tua yang saling berteriak" dapat melihat adanya perbaikan dalam kehidupan mereka sehari-hari setelah perpisahan. Namun bagi anak-anak yang orang tuanya tidak memiliki masalah yang jelas, tetapi tetap berpisah, kejadian ini dianggap sebagai tragedi besar.

Lantas, apakah anak-anak dari orang tua yang bercerai pasti akan menjadi tidak bahagia?

Beatrice Wypych mengatakan tidak.

Sebagai orang dewasa, penting bagi kita untuk berurusan dengan hal-hal yang kita alami sebagai anak-anak dan menempatkannya dalam sebuah konteks, ujarnya.

Anda dapat bertanya pada diri sendiri: Kompetensi apa yang telah saya peroleh lewat pengalaman-pengalaman sulit yang akan dapat membantu saya menjalani kehidupan yang memuaskan?

Psikolog setuju bahwa tafsiran negatif atau positif dari kisah hidup sendiri bisa menjadi penentu untuk kebahagiaan saat ini. "Tentu saja, ini terdengar lebih sederhana daripada kenyataannya," aku Wypych.

Hal pertama dan paling utama, orang tua yang berpisah harus mencoba melihat dunia melalui sudut pandang anak-anak mereka.

Baru kemudian, bagi anak-anak, perceraian tidak harus menjadi malapetaka yang tidak berujung. (ae/vlz)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kebakaran Hancurkan Ribuan Rumah di Kawasan Kumuh Dhaka
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:43 WIB
Ribuan rumah di sebuah kawasan kumuh di Dhaka, Bangladesh hancur total dalam kebakaran Jumat (16/8) ...
Demonstran Pakistan Unjuk Rasa Aksi Solidaritas Kashmir
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:43 WIB
Demonstran Pakistan pada hari Minggu (18/8) berkumpul di Karachi untuk memprotes dugaan pelanggaran ...
Ditolak Italia, Kapal Penyelamat Migran Tolak Tawaran Spanyol Terima Migran Afrika
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:43 WIB
Kelompok kemanusiaan Spanyol pada hari Minggu (18/8) menolak tawaran Spanyol untuk menerima lebih da...
Gletser Pertama Islandia Menghilang Karena Perubahan Iklim
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:43 WIB
Banyak orang di Islandia berkumpul pada Minggu (18/8) untuk memberikan ucapan selamat tinggal pada O...
UNICEF: Anak-anak Pengungsi Rohingya Kehilangan Masa Depan yang Layak
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:43 WIB
Hasil kajian badan PBB untuk Dana Anak-Anak (UNICEF) menunjukkan lebih dari setengah juta anak pengu...
Kapal Tanker Iran yang Disita, Tinggalkan Gibraltar
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:43 WIB
Sebuah kapal tanker Iran meninggalkan Gibraltar, Minggu (18/8), setelah pihak berwenang di sana meno...
Migran yang Putus Asa Melompat dari Kapal 
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:43 WIB
Sejumlah migran yang panik di kapal penyelamat Spanyol melompat ke laut Tengah ketika kapal Open Arm...
Palestina: Israel Tewaskan 3 Orang Palestina
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:42 WIB
Pasukan Israel menewaskan tiga laki-laki Palestina dan melukai satu orang, kata Kementerian Kesehata...
Hakim Tunda Sidang Korupsi Kedua Mantan PM Malaysia
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:42 WIB
Sidang kedua mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak telah ditunda selama seminggu. Najib diduga...
Kebakaran di Kepulauan Canaria, Lebih Dari 400 Dievakuasi
Selasa, 20 Agustus 2019 - 08:42 WIB
Pihak berwenang di Kepulauan Canaria, Spanyol telah mengkonfirmasi evakuasi lebih dari 4.000 orang p...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)