Penipuan Ala Influencer Instagram di Indonesia Merajalela
Elshinta
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Penipuan Ala Influencer Instagram di Indonesia Merajalela
DW.com - Penipuan Ala Influencer Instagram di Indonesia Merajalela

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan startup asal Swedia, A Good Company dan firma analisis data HypeAuditor mencatat bahwa beberapa negara di Asia menjadi ladang penipuan perdagangan di media sosial Instagram. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 1,84 juta akun yang tersebar di 82 negara di dunia.

Amerika dan Brasil merupakan dua negara teratas yang memiliki akun palsu Instragram terbanyak di dunia yakni 49 juta dan 27 juta akun, disusul India (26 juta) dan Indonesia (25 juta). Selain itu ada Jepang yang menempati posisi keenam. Di pasar Asia sendiri, diketahui terdapat 144 juta pengguna platform media sejuta umat ini, namun 58 juta diantaranya adalah bot ataupun pengikut massal. Diperkirakan US$744 juta terbuang sia-sia akibat penipuan akun-akun palsu tersebut.

Hal ini tidaklah mengherankan, karena dewasa ini Instagram menjadi tambang emas bagi para selebgram atau yang biasa disebut influencer maupun bagi berbagai perusahaan produk dan jasa. Kini makin banyak perusahaan menyewa jasa influencer untuk menjajakan produk mereka. Namun tidak sedikit dari para influencer ini yang bermain secara tidak jujur. Mereka membeli pengikut (follower), like, dan komentar dalam jumlah banyak agar bisa menarik perhatian sejumlah perusahaan untuk menyewa jasa mereka.

Menurut data agensi marketing Mediakix, nilai pasar influencer Instagram di tahun 2017 silam adalah sebesar 1 milliar dollar AS, dan diprediksi di akhir tahun ini angka tersebut akan naik menjadi dua kali lipat, tentulah sebuah nilai yang mencengangkan.

Jalan pintas


Pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, menyebutkan bahwa Instagram tidak menghadirkan fitur ads bawaan yang mengizinkan penggunanya dapat menambah follower asli layaknya Facebook. Inilah yang menyebabkan banyaknya layanan pihak ketiga yang bermunculan. Menurutnya beberapa syarat dalam penggunaan fitur di Instagram membuat influencer mencari jalan pintas untuk menambah jumlah pengikutnya.

“Padahal di Instagram, beberapa fitur seperti swipe dan IG TV 60 menit bisa aktif dengan beberapa prasyarat, satu diantaranya adalah jumlah followers yang diatas 10.000 dan juga khusus untuk IG TV lebih dari 10 menit akun harus verified. Prasyarat jumlah inilah yang membuat orang ingin cepat bertambah followers dengan memilih membeli,” terang Pratama saat diwawancarai DW Indonesia.

Menurutnya dengan membeli bot, akan menjaga jumlah pengikut influencer karena bot sejatinya tidak melakukan interaksi. “Beda dengan bot, yang sekali follow mereka tidak akan melakukan unfollow,” imbuh Pratama.

Lebih lanjut Pratama menghimbau para influencer untuk membuat konten secara bijak tanpa membuat koten yang bersifat kontroversi atau yang bersifat jahil (prank). Dengan begitu menurutnya akun asli akan mengikuti, like, dan memberikan komentar nyata kepada mereka. Pihak perusahaan pun juga harus lebih selektif dalam menyewa jasa seorang influencer.

“Namun bagi brand yang salah menggunakan agency atau endorser maka mereka hanya buang-buang uang, karena kontennya tidak sampai ke publik yang sebenarnya,” pungkas Pratama.

Micro influencers


Dalam rilisnya, A Good Company membagi influencer Instagram ke dalam tiga tipe, yakni macro influencers yang memiliki seratus ribu hingga lebih dari satu juta jumlah pengikut, mid influencers yang memiliki dua puluh ribu hingga seratus ribu jumlah pengikut, dan micro influencers yang memiliki seribu hingga dua puluh ribu pengikut. Berdasarkan engagement pods-nya (like dan komentar), micro influencers adalah tip influencer yang memiliki anomali terbesar (40,29%).

Hal ini diduga karana perusahaan lebih suka menyewa jasa micro influencers yang memiliki keterlibatan secara langsung dengan para pengikutnya, namun kerap dihargai secara tidak proporsional sehingga mendorong mereka untuk membeli banyak akun palsu.

Kepada PRWeek, CEO A Good Company, Anders Anarklid, mengaku yakin akan adanya aktivitas penipuan dalam bisnis influencer marketing. Hal inilah yang mendorong A Good Company untuk melakukan penelitian.
“Kami menyarankan untuk melihat lebih jauh korelasi antara angka pengeluaran pemasaran influencer Anda dengan angka penjualan Anda. Bisa jadi Anda menghabiskan sebagian besar anggaran untuk para influencer tanpa pengikut organik,” tutur Anarklid.

Saat ini terdapat lebih dari satu miliar pengguna aktif Instagram setiap bulannya. Facebook sendiri sebagai perusahaan induk Instagram memiliki 2.38 miliar penguna aktif per bulan. Kemudian untuk media sosial Twitter diketahui memiliki 16 juta pengguna aktif yang log in di setiap harinya. Jumlah tersebut menyadarkan kita betapa besar potensi bisnis pasar influencer ini.

“Sejak awal Instagram berdiri, kami telah mendeteksi dan menghapus akun palsu secara otomatis untuk melindungi para pengguna Instagram. Tahun lalu, kami mengambil langkah tambahan untuk menghapus like, follow, dan komentar dari akun yang menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk meningkatkan popularitas mereka (influencer - Red)” ujar juru bicara Facebook dilansir dari Mumbrella Asia.

rap/vlz (dari berbagai sumber)



Influencer marketing adalah bisnis yang menggiurkan. Namun, berdasarkan hasil survei, sejumlah negara di Asia menjadi ladang penipuan influencer Instagram. Kehadiran jutaan akun palsu ditengarai menjadi penyebabnya.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)