Kiri Kanan
Mengenang 50 tahun Lomba Menguasai Bulan
Elshinta
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Mengenang 50 tahun Lomba Menguasai Bulan
DW.com - Mengenang 50 tahun Lomba Menguasai Bulan

"Barang siapa menguasai antariksa, negara itu juga bisa menguasai militer seluruh dunia". Demikian doktrin militer di era tersebut. Pasalnya saat itu roket ruang angkasa nyaris tidak ada bedanya dengan peluru kendali balistik antar benua.

Uni Soviet pada tahun 50-an hingga awal tahun 60-an jauh lebih unggul dibanding Amerika Serikat dalam program penaklukan antariksa ini. Tahun 1957 Moskow sudah meluncurkan satelit pertama "Sputnik" yang mengorbit Bumi, dan jadi propaganda negara komunis itu sebagai penguasa antariksa.

Sukses Sputnik mengejutkan dunia. Walau sejatinya Sputnik tidak lebih dari bola logam yang dipasangi pemancar dan penerima radio, misi ini menciptakan tekanan berat bagi pemerintah Amerika Serikat.

Uni Soviet mengungguli AS

"Washington menghadapi ancaman baru dari ruang angkasa, dan harus melakukan tindakan untuk mengatasinya", demikian kecemasan yang dilontarkan di pemerintah AS. Zaman baru ruang angkasa sudah dimulai dengan Sputnik, dan Amerika ketinggalan oleh Uni Soviet", kata presiden AS ketika itu, Dwight D Eisenhower .

Eisenhowrer mengakui. "Kami kini menghadapi tantangan terbesar, yang dilontarkan oleh peradaban modern. Amerika akan segera mengembangkan pesawat ruang angkasa yang mengumpulkan data darai antariksa dan meneliti sistem tata surya", ujar presiden AS itu.

Namun Uni Soviet menggebrak dengan kejutan berikutnya. Yakni dengan misi teranyarnya, misi berawak ke luar angkasa, Kosmonot Uni Soviet, Yuri Gagarin pada tahun1961 jadi orang pertama yang mengelingi ruang angkasa di orbit bumi. Sementara Washington baru saja melangkah dengan melakukan ujicoba mengirim simpanse ke ruang angkasa.

Misi ambisius ke bulan

Lomba penguasaan ruang angkasa kini mengerucut jadi misi ambisius misi berawak. Lebih tajam lagi: mendaratkan manusia di bulan. Amerika Serikat dengan presiden Kennedy menabuh genderang perang untuk mengalahkan keunggulan Uni Soviet. Misi ke bulan jadi semboyan nasional AS dan investasi besar dikucurkan untuk progam NASA.

Pakar roket Jerman yang sebelumnya bekerja untuk Hitler dan kemudian membelot ke AS, Wernher von Braun jadi tokoh kunci bagi sukses misi ruang angkasa Washington. Dengan cepat NASA meraih kemajuan. Dengan program yang dipacu, keunggulan Uni Soviet mulai bisa disusul.

Puncak sukses Amerika Serikat adalah pendaratan manusia pertama di bulan pada tanggal 20 Juli 1969. Astronot Neil Armstrong dan Buzz Aldrin mendarat dengan kapsul "Eagle" di permukaan bulan, sementara Michael Collins terus mengorbit dengan Apollo-nya.

Peristiwa ini jadi bombastis, karena media massa mengekspos pendaratan di bulan secara live. Lebih 2000 jurnalis terakreditasi di stasiun peluncuran Cape Canaveral. Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan dengan tegang, saat Neil Armstron menginjakkan kakinya di permukaan bulan. Kata pertamanya juga legendaris: "That one small step for man, one giant lepa for mankind".

Fabian Schmidt (as/ap)



Sejarah perlombaan untuk kuasai ruang angkasa dimulai tahun 1950-an. Saat itu dua negara adidaya global, Amerika Serikat dan Uni Soviet bersaing ketat. Kulminasinya adalah pendaratan pertama di bulan tahun 1969.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Bantu Atasi Banjir di Sudan Selatan, Jerman Sumbang Jutaan Dolar untuk WFP
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Jerman telah menyumbangkan sekitar AS$10,9 juta kepada Badan Urusan Pangan PBB atau World Food Prog...
Pengadilan Uni Eropa : Barang dari Permukiman Israel Harus Diberi Label
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Produk-produk Israel yang dibuat atau diproduksi di wilayah-wilayah pendudukan harus diberi label se...
Warga AS Mantan Kombatan ISIS Terdampar di Perbatasan Yunani-Turki
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Seorang warga negara Amerika Serikat  yang dituduh telah menjadi pemberontak ISIS kini terdampar di...
Serangan Bajak Laut, Dua Warga Italia Luka
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Angkatan Laut Meksiko mengatakan dua awak kapal Italia luka-luka dalam serangan oleh sekelompok laki...
Target Dua Pejabat Senior Kelompok Islamis, Israel Kirim Pesan ke Iran
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Israel, Selasa (12/11), menarget dua panglima senior kelompok militan Palestina “Jihad Islam,” m...
Pangeran Charles Bahas Perubahan Iklim dengan Pakar India
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Pangeran Charles dari Inggris, Rabu (13/11), bertemu dengan sejumlah pakar India dalam kunjungannya ...
Banjir Parah Landa Venesia
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Banjir melanda kota Venesia, Italia. Tinggi air, Rabu Pagi (13/11) mencapai 187 sentimeter, dan mere...
China Peringatkan AS untuk Tidak Campuri Masalah Hong Kong
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Kementerian Luar Negeri China kembali mengeluarkan peringatan agar AS tidak mencampuri persoalan di ...
Israel, Militan Palestina Kembali Saling Serang, 2 Tewas
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Pasukan Israel melangsungkan serangan udara, Rabu (13/11), di Jalur Gaza, sementara militan di sana ...
Bom Mobil Tewaskan 12 Orang di Ibukota Afghanistan
Kamis, 14 November 2019 - 08:50 WIB
Sebuah ledakan bom mobil di ibukota Afghanistan, Kabul, Rabu (13/11) menewaskan sedikitnya 12 orang ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)