Jaringan korupsi Afrika Selatan: Siapa keluarga Gupta asal India yang dikaitkan dengan mantan presiden Zuma?
Elshinta
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Jaringan korupsi Afrika Selatan: Siapa keluarga Gupta asal India yang dikaitkan dengan mantan presiden Zuma?
BBC Indonesia - Jaringan korupsi Afrika Selatan: Siapa keluarga Gupta asal India yang dikaitkan dengan mantan presiden Zuma?

Mantan presiden Afrika Selatan Jacob Zuma menyanggah bahwa ia mengendalikan jaringan korupsi saat menjabat selama sembilan tahun termasuk melalui jaringan keluarga asal India, Gupta.

Zuma tampil untuk pertama kalinya di depan komisi yang dibentuk untuk menyelidiki tuduhan "menguasai negara" dengan korupsi saat dirinya masih berkuasa.

Ia dipaksa mundur sebagai presiden pada Februari 2018 dan diganti oleh wakilnya Cyril Ramaphosa yang berjanji untuk menangani korupsi di Afrika Selatan.

Ramaphosa menggambarkan masa kekuasaan Zuma sebagai "terbuang."

Zuma tampak tenang dan menyebut agen intelijen asing, yang tidak ia sebutkan, berada di balik upaya menyingkirkan dia dari kekuasaan.

"Saya difitnah, dan disebut sebagai raja rakyat yang korup," kata Zuma kepada komisi yang dipimpin oleh Hakim Ray Zondo.

"Saya diejek dan saya tak pernah menanggapi isu itu," tambahnya.

"Menguasai negara" menjadi istilah populer yang mengacu kepada sejumlah skandal pada pemerintahan Zuma yang pada akhirnya menggulingkannya.

Siapa keluarga Gupta?

Hak atas foto GALLO IMAGES
Image caption Duduzane Zuma (kanan), anak mantan presiden, sempat bekerja untuk Gupta bersaudara.

Tuduhan terhadap Zuma berpusat pada hubungannya dengan keluarga Gupta, yang dituduh mempengaruhi penunjukan menteri dan memenangkan tender negara melalui korupsi.

Mereka semua menyanggah tuduhan itu.

Keluarga Gupta memiliki sejumlah perusahaan yang mendapatkan berbagai proyek dari kementerian pemerintah Afrika Selatan dan konglomerat pemerintah.

Mereka juga merekrut sejumlah anggota keluarga Zuma - termasuk anak laki-laki presiden, Duduzane.

Pejabat pemerintah berbagai badan pemerintah mengatakan mereka diperintah langsung keluarga Gupta agar mengambil keputusan untuk mengembangkan kepentingan bisnis mereka.

Institusi pemerintah yang mengikuti permintaan diganjar dengan uang dan promosi, sementara mereka yang tak patuh dipecat.

Bagaimana mereka bisa sampai ke Afrika Selatan?

Hak atas foto AFP
Image caption Unjuk rasa besar-besaran menggulingkan Jacob Zuma.

Kakak adik, Ajay, Atul dan Rajesh Gupta, berusia sekitar 40-an dan mereka pindah ke Afrika Selatan dari negara bagian Uttar Pradesh, India pada 1993.

Saat ini, minoritas kulit putih berakhir kekeuasaannya dan Afrika Selatan mulai membuka diri.

Juru bicara keluarga Haranath Ghosh mengatakan kepada BBC melalui email bahwa ayah kakak beradik itu, Shiv Kumar Gupta, mengirim Atul ke Afrika Selatan karena percaya Afrika akan menjadi "Amerika" bagi dunia, karena banyak peluang.

Saat Atul tiba, ia mendirikan bisnis komputer, Sahara, dan ia terkejut karena tak banyak birokrasi saat itu.

Mereka saat itu merupakan pengusaha kecil namun induk perusahaan Sahara Group, saat ini memiliki kekayaan sekitar US$22 juta dengan karyawan 10.000 orang.

Selain komputer mereka juga membuka usaha pertambangan, penerbangan, energi, teknologi dan media.

Atul mengatakan dia bertemu Presiden Zuma lebih dari 10 tahun lalu saat "Zuma menjadi tamu di salah satu acara perusahaanya".

Apakah mereka "menguasai negara"?

Keluarga ini dituduh mendapatkan pengaruh kekuasaan politik besar di Afrika Selatan dan para kritikus menuduh mereka mencoba "menguasasi negara" untuk kepentingan bisnis.

Dugaan itu muncul pada Maret 2016 saat Wakil Menteri Keuangan, Mcebisi Jonas, mengatakan salah seorang anggota keluarga menawarkan promosi menjadi menteri pada 2015.

Keluarga Gupta menyanggah memberi tawaran itu dan menyangkal tuduhan serupa lainnya.

Apa tanggapan keluarga Gupta?

Keluarga Gupta jarang menyampaian pernyataan di depan publik.

Meski begitu, dalam wawancara dengan pengacaranya tahun lalu, Ajay Gupta mengatakan ia tak memiliki saham atau aset perusahaan yang dimaksud.

"Saya tak punya saham, tak punya jabatan, properti, harta tak bergerak...," katanya. "Mungkin ada satu mobil, saya punya ruangan yang biasanya dipakai ayah untuk tidur."

Wakil Menteri Pertahanan dan Veteran Militer, Kebby Maphatsoe, dikutip koran Afrika Selatan, City Press, mengatakan vahwa saham Gupta di Bursa Efek Johannesburg kurang dari 1% dan mestinya mereka tak dipersoalkan.

"Kami telah bertemu mereka dan kami ajukan pertanyaan-pertanyaan yang serius. Mereka telah memberi jawaban. Mereka warga Afrika Selatan (juga), mereka bukan orang kulit putih. Mereka tidak mengambil keuntungan dari negara ini, mereka berinvestasi," ujar Maphatsoe.

Pada Agustus 2016, keluarga Gupta mengatakan mereka menjual semua saham di Afrika Selatan karena langkah ini adalah "yang terbaik bagi Afrika Selatan dan bagi kolega mereka".

Namun tetap saja, keputusan ini tidak serta-merta membuat mereka tak lagi menjadi sorotan publik.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Korsel Inginkan Perundingan dengan Jepang untuk Akhiri Perang Dagang
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengatakan negaranya akan “dengan senang hati bergandeng tangan...
Tindakan AS Hentikan Pembebasan Tanker Iran di Gibraltar
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Amerika Serikat, Kamis (15/8) bertindak untuk menyita kapal supertanker Iran yang ditahan di Gibralt...
Pesawat Rusia Tabrak Burung, Lakukan Pendaratan Darurat
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Awak pesawat Ural Airlines disambut sebagai pahlawan setelah melakukan pendaratan darurat di ladang ...
Ribuan Orang Yaman Berpawai Mendukung Separatis di Aden
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Ribuan orang Yaman berunjuk rasa di kota pelabuhan Aden, mendukung separatis di bagian selatan yang ...
Seorang Pria di Swedia Didakwa Bersekongkol untuk Melakukan Aksi Terorisme
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Tim jaksa di Swedia mengatakan seorang pria ditangkap di Swedia utara. Pria yang sebelumnya diduga m...
Pemberontak Myanmar Serang Akademi Militer Elit, 15 Tewas
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Pemberontak Myanmar menewaskan sedikitnya 15 orang pada hari Kamis (15/8), sebagian besar adalah ang...
Pengadilan Thailand Setujui Penahanan Lanjutan atas 2 Tersangka Bom
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Sebuah pengadilan di Thailand, Kamis (15/8) memperpanjang penahanan dua tersangka yang dituduh menan...
Spanyol Bersedia Terima Sebagian Migran
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Spanyol bersedia menerima 150 migran dari kapal penyelamat yang ditolak berlabuh di Italia. Penerima...
Penjualan Ritel yang Kuat Kurangi Kemuraman Ekonomi AS
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Pasar saham di Jepang, Kamis (15/8) anjlok, tetapi tidak sedrastis penurunan yang dialami pasar Amer...
Indonesia Minta India dan Pakistan Utamakan Dialog Dalam Isu Kashmir
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi meminta India dan Pakistan mengutamakan dialog terkait k...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 153
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once