Kiri Kanan
Burung Buat Sarang Dari Limbah Plastik Dan Muntahkan Plastik, Kaca Dan Logam
Elshinta
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Burung Buat Sarang Dari Limbah Plastik Dan Muntahkan Plastik, Kaca Dan Logam
ABC.net.au - Burung Buat Sarang Dari Limbah Plastik Dan Muntahkan Plastik, Kaca Dan Logam

Burung laut di Kepulauan Abrolhos di Australia Barat kedapatan membangun sarang dari plastik. Sementara muntahan burung camar laut di Tasmania setelah diteliti ternyata mengandung serpihan plastik, kaca dan logam. Temuan ini menambah panjang daftar dampak limbah plastik pada fauna, terutama burung.

Dampak limbah plastik pada burung:

  • Penelitian di Kepulauan Abrolhos yang terpencil di lepas pantai WA menunjukkan burung laut menggunakan plastik yang dibuang untuk sarang
  • Sebagian besar plastik adalah tali nilon tetapi jaring dan plastik limbah domestik juga telah ditemukan
  • Muntah burung camar di Launceston, Tasmania mengandung limbah plastik, kaca dan logam

Ahli ekologi kelautan, Dokter Chris Surman melakukan penelitian terhadap 800 sarang dari delapan spesies burung di pulau-pulau terpencil yang ada di lepas pantai Australia Barat.

Hasilnya, ia menemukan burung-burung tersebut ternyata telah membuat sarangnya dari sampah plastik berupa tali atau jaring, yang telah digunakan selama beberapa dekade oleh industri perikanan.

Dia mengatakan beberapa spesies burung yang lebih besar, seperti Elang tiram (Osprey) terdapat limbah plastik di setiap sarang yang disurvei, sementara burung yang lebih kecil seperti camar anggok (noddy) yang terancam punah juga memiliki plastik di sekitar 10 persen dari sarang yang diperiksa.

"Burung adalah hewan pengumpul, jadi jika ada sesuatu di garis pantai yang mereka inginkan untuk menghias sarang mereka atau membantu membangun sarang mereka, mereka akan mengambilnya," kata Dr Surman.

"Burung laut mewakili apa yang terjadi di lautan dan itu muncul pada limbah plastik, mereka mengambil plastik dari garis pantai dan menempatkannya di situs sarang mereka.

"Ini adalah ukuran yang bagus untuk melihat tingkat polusi plastik di lautan atau di situs tertentu seperti Abrolhos dan garis pantainya." katanya lagi.

Dr Surman telah menghabiskan hampir 30 tahun mempelajari burung di Abrolhos, termasuk burung camar anggok (noddy ) yang nyaris punah.

Menurutnya mayoritas plastik yang ditemukan di sarang adalah bagian dari tali nilon. Namun dia juga menemukan kelambu dan limbah rumah tangga, tetapi dampaknya terhadap kesehatan burung tidak jelas.

"Dua komponen plastik terbesar yang ditemukan adalah tali pancing dan jaring penangkap ikan.

"Jaring bekas telah terbukti menjerat anak-anak burung elang tiram (osprey) dan itu bisa membunuh burung-burung tersebut karena membuat mereka tidak bisa makan atau terjerat." tegasnya.

Dr Surman mengatakan para peneliti tidak sepenuhnya memahami dampak dari penyerapan limbah plastik.

"Jika ada cukup plastik di sana dan ada kontak dengan bagian tubuh yang terbuka, yaitu kaki atau tambalan, ada kepercayaan bahwa Anda dapat menyerap beberapa racun dari plastik," katanya.

Dr Surman mengatakan dia ingin melihat penelitian lebih lanjut dilakukan untuk melihat apakah plastik itu menyebabkan kematian burung, atau mengurangi kemampuan berkembang biak mereka.

Muntah burung mengandung plastik dan kaca

Sementara itu serpihan plastik, kaca, logam, dan benda-benda lain juga berhasil dikumpulkan dari muntahan burung camar yang dikumpulkan secara lokal di Launceston, Tasmania.

Temuan ini terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Tasmania (UTAS) dengan memilah muntah burung camar - yang dikenal dengan sebutan bolus.

"Itu adalah bongkahan atau pellet yang dibuat oleh burung dari semua hal yang tidak dapat dicerna oleh burung," papar Peter Puskic, mahasiswa PHD di Institut Kajian Kelautan dan Antartika di UTAS yang menggagas penelitian ini.

Burung camar dan burung-burung pada umumnya secara teratur memuntahkan makanan yang tidak bisa dicerna dan umumnya dikenal sebagai bolus.

"Mereka pada dasarnya membuangnya dan itu adalah bola yang sangat solid terbuat dari bahan organik dan anorganik," kata Puskic.

"Mereka mencerna semua hal yang bisa dicerna tubuhnya dan memeras semua nutrisinya dan apa pun yang tersisa mungkin lebih mudah untuk dikeluarkan ketimbang ketika mereka menelannya, jadi mereka memuntahkannya."

Sama seperti membunuh planet kita sendiri

Mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini tampak jijik dan terdiam saat memilah-milah bahan organik yang mereka identifikaasi sebagai benda asing.

"Ini cukup mengerikan karena ini sam artinya burung camar ternyata sekarat setiap hari," kata salah seorang mahasiswa, Michael Schaap.

"Kita sama seperti membunuh planet kita sendiri, tidak ada yang benar-benar peduli tentang apa pun selain manusia," kata mahasiswa Solly Feldheim.

Mahasiswa lainnya, Faith Colgrave menggambarkan latihan itu sebagai hal yang menyedihkan.

"Karena apa yang kita gunakan akan berakhir di lautan dan membunuh hal-hal yang kita ingin mereka mati," katanya.

Puskic mengatakan umumnya burung harus memuntahkan tulang dan paruh cumi-cumi, tetapi sekarang mahasiwa malah menemukan plastik, kaca, dan logam.

Penelitian ini diharapkan dapat mengubah cara pandang mahasiswa terhadap burung camar laut yang banyak terdapat di kawasan ini.

Dirangkum dari dua artikel berbahasa Inggris di situs ABC Australia berikut ini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung Api di Selandia Baru Erupsi, 1 Orang Tewas dan Belasan Luka
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Seperti dilansir Associated Press dan AFP, Senin (9/12/2019), gunung api yang ada di sebuah pulau ke...
Korban Perkosaan di India Dibakar Saat Sedang Menuju Sidang
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Seorang perempuan India berusia 23 tahun berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit usai mengalami...
Polisi Tembak Mati Empat Terduga Pelaku Perkosaan di India
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Polisi India mengatakan pada Jumat (06/12) telah menembak mati empat pria terduga pelaku pemerkosaan...
Banyak Tenaga Berpendidikan Jerman Dapat Gaji Lebih Tinggi di Luar Negeri
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Warga Jerman pindah dan kerja di luar negeri rata-rata berpenghasilan lebih banyak 1000 euro per bul...
Angela Merkel Lakukan Kunjungan Resmi Pertama Kali ke Kamp Nazi di Ausschwitz
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Setelah 14 tahun memimpin Jerman, Kanselir Angela Merkel hari Jumat (6/12) melakukan kunjungan resmi...
Terlalu Kritis, Wartawan Iran di Eropa Hadapi Intimidasi Teheran
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Hari-hari ini kabar muram acap menghampiri jurnalis Iran yang hidup dan bekerja di luar negeri, lant...
Jerman Dituduh Lunak Terhadap Cina Soal HAM dan Hong Kong
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Sejak demonstrasi pro-demokrasi di Hong Kong dimulai Juni lalu, para aktivis telah meminta dukungan ...
H&M Tawarkan Penyewaan Pakaian, Demi Lingkungan atau Trik Pemasaran?
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Di salah satu sudut tokonya yang baru dibuka lagi di Stockholm, H&M menawarkan kemungkinan menye...
Pemilu Inggris: Johnson dan Corbyn dalam Debat Terakhir
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Dua kandidat utama Perdana Menteri Inggris Raya saling adu gagasan pada debat terakhir yang disiarka...
SIPRI: Bisnis Senjata Makin Marak, Tidak Ada Tanda-Tanda Perlambatan
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:46 WIB
Seratus produsen senjata dan kontraktor militer terbesar di dunia mengalami peningkatan penjualan gl...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)