Debat terakhir capres: Apa saja yang menjadi pembahasan warganet?
Elshinta
Selasa, 16 April 2019 - 08:47 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Debat terakhir capres: Apa saja yang menjadi pembahasan warganet?
BBC Indonesia - Debat terakhir capres: Apa saja yang menjadi pembahasan warganet?

Rangkaian debat capres-cawapres dalam rangkaian kampanye berakhir pada debat kelima yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (13/4).

Setidaknya ada dua tagar yang ramai digunakan oleh warganet untuk menanggapi berlangsungnya debat terakhir tersebut, yaitu #debatpilpres2019 dan #debatterakhirpilpres2019.

Dua tagar tersebut, menurut catatan Spredfast, digunakan dalam lebih dari 20.000 cuitan.

Sebelumnya, survei Charta Politika yang dilaksanakan dari tanggal 1-9 Maret terhadap 2.000 orang masyarakat dewasa dan terdaftar sebagai pemilih, kebanyakan dari mereka (36,4%) menjawab akan menentukan pilihan berdasar penampilan debat calon presiden dan calon wakil presiden.

Mereka juga menyatakan bahwa jumlah undecided voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan mencapai 11%. Namun, menurut beberapa pengguna media sosial, dalam debat kali ini pemilih cenderung sudah menentukan pilihan dan formula debat berulang dari sebelumnya.

Meski begitu, masih ada beberapa hal yang masih menjadi pembahasan para warganet.

Desa wisata & desa digital

Jika dalam debat keempat Presiden Jokowi sempat menyebut soal Dilan atau digital melayani dan di debat ketiga cawapres Maruf Amin menyebut soal infrastruktur langit, maka kali ini Maruf Amin kembali memunculkan istilah dedi dan dewi atau desa digital dan desa wisata.

Istilah itu disampaikan oleh Maruf Amin saat ditanya soal rencana meningkatkan partisipasi perempuan di bidang ekonomi tatkala masih terjadinya ketimpangan gender soal partisipasi kerja.

Menurut Maruf, selain lewat program kredit umi atau usaha mikro dan bank wakaf mikro, programnya juga akan mengembangkan dewi-dewi dan dedi-dedi yang kemudian dijelaskannya sebagai desa wisata dan desa digital.

Mencontoh China

Salah satu poin pada debat yang juga banyak dibahas warganet adalah ketika Prabowo menyebut soal rencananya mencontoh China, yang menurutnya "dalam 40 tahun bisa menghilangkan kemiskinan".

Para pengguna media sosial pun kemudian mempertanyakan posisi Prabowo yang selama ini dianggap "anti-komunisme" dan "anti-tenaga kerja asing" terutama dari China.

Dalam debat antara dua kandidat cawapres yang berlangsung pada 17 Maret lalu, aturan serta jumlah soal tenaga kerja asing sempat masuk dalam pertanyaan dan perdebatan antara Sandiaga Uno dan Maruf Amin.

Keberadaan tenaga kerja asing di Indonesia dipertanyakan oleh cawapres Sandiaga Uno, namun menurut cawapres Maruf Amin jumlah mereka sangat kecil dan "terkendali".

Hak atas foto ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Image caption Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Maruf Amin mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Meski begitu, bagi Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Rachland Nashidik, jawaban Prabowo saat ditanya tentang strategi konkret untuk menjaga stabilitas harga komoditas pertanian dan perikanan, menjadi pertanyaan balik.

Prabowo mengatakan bahwa ada "kesalahan-kesalahan besar Presiden sebelum bapak" soal perencanaan pembangunan, industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, dan perlindungan nelayan.

Lewat akun media sosial resminya, Rachland mempertanyakan, kenapa Prabowo malah "menyerang SBY". Cuitannya itu kemudian ramai dibagikan.

Halal park

Poin soal halal park atau taman halal ini disampaikan oleh Jokowi saat kubunya diminta menjelaskan soal strategi dan kebijakan kongkret untuk mengembangkan potensi sektor keuangan syariah dan menjadi pemain ekonomi syariah global.

Meski kandidat cawapresnya, Maruf Amin, menjelaskan soal rencana membentuk komite nasional keuangan syariah dan membangun industri halal bukan hanya untuk dalam negeri maupun luar negeri, namun sebagian warganet tetap bertanya soal apa taman halal yang disebut oleh Presiden Jokowi dan dinyatakan akan berada di kawasan Senayan itu.

Seorang warganet menulis, bahwa yang dibutuhkan bukanlah taman halal melainkan aturan hukum yang jelas dan detil soal ekonomi syariah dan perbankan untuk membangun fondasi yang kuat.

Mobile Legends

Kubu Jokowi tampaknya konsisten menyorot soal perkembangan ekonomi di sektor digital.

Jika di debat pertama dia menyebut soal unicorn, Dilan, dan Palapa Ring, dan kemudian Maruf Amin menyebut soal infrastruktur langit, di debat terakhir ini, Jokowi menyebut soal Mobile Legends untuk bertanya ke lawannya, Prabowo-Sandi, untuk mempertanyakan apa strategi mereka untuk mengembangkan ekonomi digital.

Penyebutan Mobile Legends pun menjadi pembahasan tersendiri di kalangan warganet.

Meski kandidat cawapres Sandiaga Uno sempat menyebut soal kebutuhan untuk memudahkan regulasi, membuka lapangan kerja, serta rencana event pelatihan juara dunia, namun Prabowo mengatakan bahwa dia lebih memilih untuk "fokus kebijakan-kebijakan dalam hal-hal yang mendasar yang menjawab kebutuhan pangan, tingkatkan produksi pertanian, penghasilan bagi petani".

"Digital-digital itu bagus, tapi rakyat butuh swasembada pangan," kata Prabowo.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Image caption Pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) melakukan tos dengan cawapres Sandiaga Uno seusai mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Di kesempatan berikutnya, Jokowi menanggapi bahwa asalnya dia ingin menggunakan kesempatan itu juga untuk bercerita soal permainan online lainnya seperti PUBG dan Dota, "namun karena jawaban bapak tadi pertanian saja kok nggak sambung."

Nama-nama yang disebut Sandiaga

Salah satu kebiasaan Sandiaga Uno dalam debat yang kemudian kerap menjadi meme atau pembahasan di kalangan warganet adalah penyebutan nama-nama atau karakter-karakter yang ditemuinya saat kampanye.

Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak tampil dalam debat cawagub DKI Jakarta pada 2017 lalu. Pada debat terakhir capres-cawapres Sabtu (13/4) pun tak jauh berbeda. Sandiaga menyebut nama Nurjanah, Rahman, dan Mia.

Jika sebelumnya penyebutan nama-nama itu menjadi sebatas anekdot saja saat debat, kini Presiden Jokowi mempertanyakan kebiasaan Sandiaga tersebut.

"Ini ekonomi makro, bukan mikro, mengelola ekonomi makro, tidak bisa orang per orang dijadikan patokan. Ekonomi negara sangat berbeda sekali. dari sisi supply dan demand harus memakai angka-angka yang didasarkan dari data-data dan survei-survei.

"Tidak mungkin kebijakan dari satu atau dua atau tiga orang yang menyampaikan keluhan, sering disampaikan sebagai contoh terus-menerus," kata Jokowi.

Sandi kemudian menanggapi bahwa kisah-kisah yang ditemuinya saat kampanye itu menunjukkan bahwa "meski angka dan fakta di meja menunjukkan baik-baik saja" tetapi cerita yang diterimanya menunjukkan bahwa situasinya berbeda.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Demonstran Tuntut Gubernur Puerto Rico Mundur
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Protes terhadap Gubernur Puerto Rico Ricardo Rosselló berlanjut ke hari keempat, Selasa (16/7), men...
Game of Thrones Raih 32 Nominasi Piala Emmy
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Film produksi HBO, "Game of Thrones" hari Selasa (16/7) mencatat rekor dengan meraih nominasi Emmy t...
Menhan Jerman Terpilih menjadi Ketua Komisi Uni Eropa
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen menang tipis dalam pemilihan presiden Komisi Eropa ha...
Kardinal Irak Prihatian dengan Masa Depan Umat Kristen di Negaranya
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Departemen Luar Negeri AS menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri Kebebasan Beragama yang kedua...
AS dan Perancis Beda Pendapat soal Pajak Teknologi 
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Kelompok-7 (G7) mengadakan pembicaraan Rabu (17/7) d...
Mantan PM Malaysia Najib Razak disebut habiskan Rp11,2 miliar sehari untuk beli perhiasan mewah
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Jaksa di Malaysia menyebut mantan perdana menteri Najib Razak mengeluarkan dana lebih dari US$800.00...
Filipina Ancam akan Putuskan Hubungan dengan Islandia Terkait Penyelidikan PBB
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte sedang mempertimbangkan untuk memutuskan hubungan diplomatik denga...
Korut Kritik Rencana Latihan Militer AS-Korsel
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB
Korea Utara telah mengkritik rencana Amerika untuk mengadakan latihan militer bersama bulan depan de...
Gedung Runtuh di India: 4 Tewas, Beberapa Dikhawatirkan Terperangkap
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB
Sebuah gedung tempat tinggal berlantai empat runtuh, Selasa (16/7), di Mumbai, ibukota keuangan dan ...
Pakistan Buka Kembali Wilayah Udaranya untuk Penerbangan Sipil
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB
Pakistan telah membuka kembali wilayah udaranya untuk semua penerbangan sipil, mengakhiri pembatasan...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 153
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 154
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once