Kepentingan Batu Bara Menyatukan Dua Kubu Calon Presiden RI
Elshinta
Selasa, 16 April 2019 - 08:47 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kepentingan Batu Bara Menyatukan Dua Kubu Calon Presiden RI
ABC.net.au - Kepentingan Batu Bara Menyatukan Dua Kubu Calon Presiden RI

Sejumlah politisi top di Indonesia, termasuk para calon pemimpin seperti Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno memiliki kepentingan politik dan ekonomi yang besar dalam bisnis batu bara di Indonesia.

Penguasa bisnis batu bara

  • Film Sexy Killers menguak jaringan bisnis batu bara di Indonesia
  • Meski berseberangan, kubu 01 dan 02 memiliki keterkaitan dalam menguasai sektor batu bara
  • Pengamat menilai kemenangan salah satu koalisi politik belum tentu berpihak pada rakyat

Jaringan pebisnis dan politisi Indonesia dalam sektor pertambangan menjadi tema film dokumenter terbaru Sexy Killers yang diproduksi Watchdoc dan diputar di University of Melbourne, Kamis malam (11/04/2019).

Film tersebut diawali dengan kisah sejumlah warga di Kalimantan Timur yang kesulitan mendapat air bersih setelah ekspansi pertambangan batu bara.

Seperti yang dialami Nyoman, warga yang mengikuti program transmigrasi ke Kutai Kertanegara dan mengaku kehadiran perusahaan batu bara sudah memblokir aliran air ke pertanian.

Belum lagi dampak dari lubang bekas pertambangan yang berada di sekitar kawasan pemukiman warga yang sepanjang tahun 2014-2018 telah merengut 115 nyawa.

Fakta lainnya yang diangkat dalam film dokumenter tersebut adalah proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Warga Batang yang sebagian besarnya adalah nelayan dan petani telah berjuang selama lima tahun untuk menentang proyek pembangunan PLTU Batang, yang disebut oleh aktivis sebagai "proyek kotor".

Penentangan warga mendapat dukungan dari lembaga aktivis Greenpeace, Walhi dan Jatam yang juga pernah menduduki alat berat yang beroperasi di perairan Roban Timur.

Disebutkan dalam laporan Greenpeace, PLTU Batang menjadi pembangkit listrik tenaga uap terbesar di Asia Tenggara yang dibangun di tanah seluas 226 hektar dan "memangsa" lahan pertanian dan perkebunan produktif.

"Yang mengejutkan adalah PLTU ini akan dibangun di Kawasan Konservasi Laut Daerah Ujungnegoro - Roban, yang merupakan kawasan kaya ikan dan terumbu karang," tulisan laporan Greenpeace pada bulan Maret 2017.

Di film tersebut seorang nelayan geram setelah Presiden Joko Widodo meresmikan proyek pembangunan PLTU Batang.

"Bila PLTU berdiri, anakku mau dibawa ke mana? Tak ada tempat lagi di Indonesia," ujar nelayan sambil menahan amarah dan air matanya.

"Gara-gara orang pintar, gunung dijual, laut ditanami besi."

Keterkaitan kubu 01 dan 02

Bagian menarik dalam film tersebut adalah bagaimana kedua kandidat calon presiden, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto, beserta orang-orang di sekelilingnya memiliki keterkaitan dalam mengusasi tambang batu bara.

Dalam film tersebut disebutkan perusahaan mebel PT Rakabu Sejahtera tidak hanya dimiliki keluarga Jokowi.

Saham perusahaan tersebut yang juga bergerak di banyak bidang, termasuk konstruksi, pengembangan wilayah transmigrasi, pembebasan lahan, juga dimiliki oleh PT Toba Sejahtera milik Luhut Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, yang juga induk perusahaan Toba Bara, yang memiliki tambang batu bara.

PT Toba Bara kemudian membeli perusahaan Sandiaga Uno yang mengoperasikan PLTU Paiton di Jawa Timur.

Beberapa nama lain dari tim sukses kubu 01 Joko Widodo juga dilaporkan memiliki jabatan strategis di sejumlah perusahaan pertambangan, termasuk Osman Sapta Oedang, Dewan penasihan Tim Kampanye Nasional Jokowi - Maruf yang memiliki kaitan dengan perusahaan PT Total Orbit, serta Haji Isam yang pernah menjadi Wakil Bendahara TKN Jokowi - Maruf, yang juga dikenal sebagai salah satu pengusaha batu bara yang sukses dan disegani di Indonesia.

Di kubu 02, Prabowo Subianto tercatat sebagai pemilik Nusantara Energy Resources yang menaungi tujuh anak perusahaan.

Sandiaga Uno tercatat sebagai pemilik PT Saratoga Investama Sedaya yang memiliki perusahaan tambang yang pernah merengut korban jiwa dan PT Adaro Energy yang memiliki saham di PLTU Batang.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) juga memiliki orang-orang yang memiliki perusahaan yang bergerak di perusahaan pertambangan.

Presiden Joko Widodo pernah meluncurkan proyek 35 ribu Mega Watt listrik untuk Indonesia, yang menurut film tersebut berarti setidaknya akan menguntungkan 10 perusahaan pertambangan batu bara yang dimiliki jaringan politisi dan pengusaha tersebut.

Awal April 2019, sebuah lembaga non-profit dunia, Global Witness mengeluarkan laporan investigasi yang menunjukkan Sandiaga Uno telah memperoleh keuntungan dari sejumlah pembayaran mencurigakan dari sebuah perusahaan batu bara Indonesia ke perusahaan lain, dengan nilai mencapai US$ 43 juta atau lebih dari Rp 600 miliar.

Kesepakatan di belakang panggung

Usai pemutaran film Sexy Killers yang diselenggarakan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia di University Melbourne diadakan diskusi.

Sebagai pembicara adalah kandidat doktor di bidang hukum Lilis Mulyani dan Dr Richard Chauvel dari Asia Institute di University Melbourne, dengan moderator Max Walden yang juga sedang mengambil S3 di bidang hukum.

Menurut Dr Richard yang menarik dari dokumenter ini adalah aspek ekonomi politik yang juga ditemukan dan terjadi di kalangan politisi Australia.

"Australia dan Indonesia keduanya memiliki struktur ekonomi yang sangat tergantung batu bara dan juga keduanya termasuk pengekspor batu bara terbesar di dunia."

"Industri batu bara ini memiliki jaringan antara Jokowi dan Prabowo dan saya menduga ini melibatkan jaringan dengan semua partai politik, sama seperti di Australia," ujarnya merujuk pada perdebatan di perpolitikan Australia soal perubahan cuaca dan pertambangan di kawasan Adani, Queensland.

Sementara menurut Lilis, jika dilihat dari debat calon presiden yang pernah membahas soal lubang bekas pertambangan, sepertinya tidak terlihat adanya komitmen dari kedua pihak.

"Kalau dari visi misi beberapa partai, memang komitmen soal pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam sangat kurang, tidak dibicarakan mendalam," jelasnya.

Ia juga menambahkan bisa jadi mereka berseberangan untuk mendapat kursi kepemimpinan, "tetapi dari fakta yang kita lihat, ada kesepakatan di belakang panggung."

Profesor Vedi Hadiz dari University of Melbourne juga datang ke acara pemutaran film dan diskusi tersebut, dan ia mengatakan film ini menjadi indikator bahwa pilihan kita di pemilu mendatang belum tentu membuat perubahan.

"Ini dilihat dari sisi bahwa yang menerima keuntungan dari pembuatan kebijakan tentunya adalah perusahaan-perusahaan."

"Pertanyaannya bagi kita apakah kemenangan dari salah satu koalisi politik ini akan berdampak dan mengubah rakyat?"

"Apakah yang satu lebih baik dari yang lainnya?" tambahnya.

Ikuti berita-berita lainnya dari ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Demonstran Tuntut Gubernur Puerto Rico Mundur
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Protes terhadap Gubernur Puerto Rico Ricardo Rosselló berlanjut ke hari keempat, Selasa (16/7), men...
Game of Thrones Raih 32 Nominasi Piala Emmy
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Film produksi HBO, "Game of Thrones" hari Selasa (16/7) mencatat rekor dengan meraih nominasi Emmy t...
Menhan Jerman Terpilih menjadi Ketua Komisi Uni Eropa
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen menang tipis dalam pemilihan presiden Komisi Eropa ha...
Kardinal Irak Prihatian dengan Masa Depan Umat Kristen di Negaranya
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Departemen Luar Negeri AS menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri Kebebasan Beragama yang kedua...
AS dan Perancis Beda Pendapat soal Pajak Teknologi 
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Kelompok-7 (G7) mengadakan pembicaraan Rabu (17/7) d...
Mantan PM Malaysia Najib Razak disebut habiskan Rp11,2 miliar sehari untuk beli perhiasan mewah
Rabu, 17 Juli 2019 - 10:12 WIB
Jaksa di Malaysia menyebut mantan perdana menteri Najib Razak mengeluarkan dana lebih dari US$800.00...
Filipina Ancam akan Putuskan Hubungan dengan Islandia Terkait Penyelidikan PBB
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte sedang mempertimbangkan untuk memutuskan hubungan diplomatik denga...
Korut Kritik Rencana Latihan Militer AS-Korsel
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB
Korea Utara telah mengkritik rencana Amerika untuk mengadakan latihan militer bersama bulan depan de...
Gedung Runtuh di India: 4 Tewas, Beberapa Dikhawatirkan Terperangkap
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB
Sebuah gedung tempat tinggal berlantai empat runtuh, Selasa (16/7), di Mumbai, ibukota keuangan dan ...
Pakistan Buka Kembali Wilayah Udaranya untuk Penerbangan Sipil
Rabu, 17 Juli 2019 - 09:06 WIB
Pakistan telah membuka kembali wilayah udaranya untuk semua penerbangan sipil, mengakhiri pembatasan...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 153
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 154
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once