70 Juta Orang di Dunia Dipaksa Tinggalkan Rumahnya Karena Konflik dan Perang
Elshinta
Jumat, 21 Juni 2019 - 11:57 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
70 Juta Orang di Dunia Dipaksa Tinggalkan Rumahnya Karena Konflik dan Perang
ABC.net.au - 70 Juta Orang di Dunia Dipaksa Tinggalkan Rumahnya Karena Konflik dan Perang

Tahun lalu, jumlah orang yang melarikan diri dari perang, penganiayaan, serta konflik telah melebihi 70 juta orang. Mereka harus menyeberangi perairan, mendaki gunung, di tengah cuaca yang ekstrim demi mendapat kehidupan baru.

Hari Pengungsi Sedunia

  • Pengungsi terbanyak di dunia berasal dari Suriah, diikuti dari Afghanistan dan Sudan Selatan
  • Turki menjadi negara yang menerima pengungsi terbanyak saat ini
  • Australia hanya menjadi rumah bagi kurang dari 0,1 persen pengungsi dunia

Pada setiap tahunnya, 20 Juni diperingati sebagai Hari Pengungsi Dunia dan data terbaru menunjukkan sebanyak 70,8 juta orang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Angka ini adalah angka tertinggi yang pernah dilihat oleh Badan Pengungsi PBB, UNHCR, dalam 70 tahun terakhir.

25,9 juta diantaranya terpaksa keluar dari negara mereka, dikenal dengan sebutan refugee atau pengungsi. Saat ini setengah dari pengungsi di dunia berusia di bawah 18 tahun.

Ada pula jutaan orang yang tidak memiliki status kewarganegaraan, atau stateless.

Mereka telah meninggalkan negaranya, namun di negara baru mereka belum mendapat status warga negara atau bahkan telah ditolak permohonannya sehingga kehilangan haknnya, seperti mendapatkan pendidikan, akses kesehatan, atau pekerjaan.

Pengungsi terbanyak di dunia berasal dari Suriah, dengan jumlah 6,7 juta, diikuti dengan warga Afghanistan (2,7 juta) dan Sudan Selatan (2,3 juta).

"Kebanyakan dari pengungsi memilih negara-negara terdekat sebagai tujuannya mendapat harapan baru", laporan UNHCR menyebutkan.

Turki, salah satunya, yang menjadi negara yang menerima pengungsi terbanyak, yang saat ini sudah mencapai 3,7 juta orang.

Pakistan, Uganda, Sudan, masing-masing berada di posisi kedua, ketiga, dan keempat negara yang paling banyak menerima pengungsi.

Jerman menjadi satu-satunya negara barat yang paling banyak menerima pengungsi, dengan jumlah 1,1 juta orang.

Sementara itu jumlah pencari suaka atau asylum seeker saat ini berjumlah 3,5 juta. Mereka yang dikategorikan pencari suaka adalah yang sudah menerima perlindungan internasional tetapi masih menunggu status mereka.

Pandangan negatif soal pengungsi di Australia

Hingga akhir tahun 2018, ada lebih dari 60 ribu orang pengungsi yang sudah mengajukan permohonan mencari suaka di Australia dan hingga kini masih menunggu kepastian.

Jumlah ini telah meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2016 lalu dan salah satu penyebabnya adalah adanya peningkatan yang signifikan dari mereka yang mencari suaka dan tiba di Australia dengan menggunakan pesawat terbang atau istilahnya plane people.

Sejumlah pengamat dan politisi menilai jumlah plane people yang mencari suaka di Australia telah mencapai angka yang tertinggi dalam sejarah, meski saat ini Australia menjadi rumah bagi kurang dari 0,1 persen pengungsi dunia.

Lembaga survei global IPSOS menemukan meski 63 persen warga Australia mendukung hak manusia untuk mengungsi, di saat bersamaan dukungan untuk menutup perbatasan juga meningkat.

"Pandangan yang lebih negatif soal pengungsi ini juga menunjukkan bahwa opini warga dipengaruhi oleh diskusi politik dan di media soal strategi pemerintah menghentikan perahu datang ke Australia," kata David Elliot, Direktur IPSOS Australia seperti yang dikutip dari SBS.

Sementara itu, Direktur UNHCR pernah mengatakan meski tidak semua pengungsi memiliki alasan yang murni, tidak berarti mengabaikan penderitaan dan kesulitan yang dialami kebanyakan pengungsi.

"Beberapa orang memang mencari peluang ekonomi yang lebih baik, tapi yang lainnya benar-benar melarikan diri [dari negara mereka] karena mengalami kekerasanyang mengerikan."

Dapatkan berita internasional terbaru lainnya dari ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Korsel Inginkan Perundingan dengan Jepang untuk Akhiri Perang Dagang
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengatakan negaranya akan “dengan senang hati bergandeng tangan...
Tindakan AS Hentikan Pembebasan Tanker Iran di Gibraltar
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Amerika Serikat, Kamis (15/8) bertindak untuk menyita kapal supertanker Iran yang ditahan di Gibralt...
Pesawat Rusia Tabrak Burung, Lakukan Pendaratan Darurat
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Awak pesawat Ural Airlines disambut sebagai pahlawan setelah melakukan pendaratan darurat di ladang ...
Ribuan Orang Yaman Berpawai Mendukung Separatis di Aden
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Ribuan orang Yaman berunjuk rasa di kota pelabuhan Aden, mendukung separatis di bagian selatan yang ...
Seorang Pria di Swedia Didakwa Bersekongkol untuk Melakukan Aksi Terorisme
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Tim jaksa di Swedia mengatakan seorang pria ditangkap di Swedia utara. Pria yang sebelumnya diduga m...
Pemberontak Myanmar Serang Akademi Militer Elit, 15 Tewas
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Pemberontak Myanmar menewaskan sedikitnya 15 orang pada hari Kamis (15/8), sebagian besar adalah ang...
Pengadilan Thailand Setujui Penahanan Lanjutan atas 2 Tersangka Bom
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Sebuah pengadilan di Thailand, Kamis (15/8) memperpanjang penahanan dua tersangka yang dituduh menan...
Spanyol Bersedia Terima Sebagian Migran
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Spanyol bersedia menerima 150 migran dari kapal penyelamat yang ditolak berlabuh di Italia. Penerima...
Penjualan Ritel yang Kuat Kurangi Kemuraman Ekonomi AS
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Pasar saham di Jepang, Kamis (15/8) anjlok, tetapi tidak sedrastis penurunan yang dialami pasar Amer...
Indonesia Minta India dan Pakistan Utamakan Dialog Dalam Isu Kashmir
Jumat, 16 Agustus 2019 - 14:35 WIB
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi meminta India dan Pakistan mengutamakan dialog terkait k...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)